Thursday, March 19, 2015

Untuk si kecil penjual donat

Tags

Malam itu kebetulan aku dan suamiku keluar untuk melondry bedcover kami yang kotor sambil mencari makanan.
Setelah membeli beberapa kebutuhan seperti bubur bayi untuk anak kami, kebutuhan rumah tangga  dan cemilan untukku yang terbilang lebih dari cukup untuk satu orang, aku dan suamiku bergegas pulang karna khawatir anak kami yang ditinggal dirumah.
Setelah melewati tikungan dari jalan raya menuju jalan tikus, suamiku yang mengendarai motor tiba-tiba menghentikan laju motornya.

" tolong liat anak itu jualan apa? " pinta suamiku, aku langsung melirik bocah kecil yang sedang duduk lemas didepan sebuah ruko yang tutup.
Di lipatnya kedua kaki ke dadanya, di hadapannya berjejer dua kotak makanan dan yas kecil.  Wajahnya tampak begitu jenuh, nyaris letih dan mengantuk. Segera ku dekati anak laki-laki itu.
" jualan apa de? " tanyaku menutupi iba tapi dengan nada lembut yang menyayat
" ini" ucapnya sambil membuka kedua toples di hadapannya itu, satu berisi biji ketapang dalam pkastik satu lagi berisi donat gula yang sudah mulai kempot.
" ini berapa ?" tanyaku mengangkat plastik kecil berisi biji ketapang
" dua ribu" kata anak laki-laki itu singkat
" kalo donat ?" tanyaku lagi
" sama" ucapnya
Aku berbalik menoleh suamiku, " Ayah emang makan..." sebelum aku sempat menyelesaikan kata-kataku aku sadar mungkin itu akan terdengar.menyakitkan baginya. Jadi aku bangun dan menghampiri suamiku.
" biji ketapang sama donat" ucapku
" yaudah apa aja, lebihin ya" ucap suamiku
Aku segera berbalik dan mendekati anak lelaki itu.
" donat aja ya de,dua" ucapku
Tanpa kata dia langsung menjepitkan donatnya dan memasukkannya ke dalam plastik berisi gula bubuk.
" ibu nya kemana? " tanyaku sambil menunggunya mengocok donat
" dirumah lagi bikin kue" katanya polos
" kamu gak sekolah?" tanyaku lagi, sekarang dia sedang memasukkan donat pesananku ke dalam plastik biru yang diambil dari tas kecil di sampingnya
" sekolah kok, pagi" jawabnya singkat sambil memberi plastik biru berisi donat pesananku. Aku menerimanya dan merogok kantung celanaku, hanya ada uang 8.000 ribu kembalian belanja tadi, tanpa niat merendahkan aku memberikan semuanya.
" ini bayar donat 4.000 sisanya buat kamu jajan ya" ucapku, anak kecil itu mengangguk tapi tidak ada kata terimakasih dari mulutnya. Tak masalah bagiku bahkan terimakasih itu tak pernah ku harap dengar juga darinya. Perasaan iba melihatnya yang mendorong suamiku dan aku berbagi walau tidak banyak.
Sepanjang perjalanan pulang aku berdoa untuk si kecil penjual donat agar dia diberi rizqi dan ketabahan untuk menjalani semua cobaan ini, selain itu aku juga berdoa agar allah selalu memberikan riqi untuk suamiku agar kami bisa selalu berbagi bahkan dalam jumlah yang lebih besar lagi.
Amient