Tuesday, November 29, 2016

KETIKA ANAK TERLAMBAT BERBICARA

Tags



Beberapa bulan kemarin saya  sewaktu rio imunisasi ke sebuah rumah sakit   Royal Progress di jakarta utara, saya menanyakan soal kemampuan rio dalam berbicara yang agak lambat dibandingkan anak-anak seusianya. Setelah saya bercerita, dokter anak yang kebetulan tahu tumbuh kembang rio sejak lahir mengatakan bahwa anak saya tidak ada cedera atau cacat di otak  dan tidak pula mengalami gangguan di telinganya. Jadi “Speech delay” atau keterlambatan bicaranya semata -mata mungkin karena faktor kurangnya stimulus dari orang tua sehingga anak kurang bisa berinteraksi dengan bahasa, meskipun rio sudah tanggap dalam mematuhi perintah saat disuruh mengerjakan sesuatu . Dan setelah dicari tau penyebabnya ternyata mungkin salah satu faktor penyebab “ speech delay” nya yaitu karna terlalu banyak menonton televisi.

Sebenarnya di umur rio yang hampir dua tahun, rio sudah bisa mengatakan beberapa kata meskipun tidak sempurna. Oleh sebab itu kemudian dokter anak merekomendasikan untuk terapi wicara di rumah sakit Royal Progress  atau rumah sakit Islam  di daerah sukapura dekat rumah. Setelah melihat tempat dan fasilitas rumah sakit tersebut. Saya memutuskan kembali kerumah sakit Royal Progress karna memang lebih nyaman disana.


saya akhirnya datang dan melakukan janji temu, karna terapi wicara ini bersifat privat jadi antriannya cukup lama waktu itu. Dua minggu kemudian saya baru dikabari kalau rio bisa terapi keesokan harinya. Di kelas terapi wicara kami menemui terapis yang sudah cukup berumur saya lupa nama dokternya waktu itu. Tapi didalam ruangan terapi rio, saya, dokter terapi dan salah seorang asisten dokter mengamati perkembangan rio melalui cara rio bermain mainan dihadapannya. Doter memberikan beberapa mainan dan mengajak rio berbicara tentang banyak hal terutama tentang mainan yang dipegangnya. Kemudian sesekali dokter tersebut memberikan laporang untuk ditulis oleh asistennya mengenai tumbuh kembang rio, sensor motorik dan bahasa kedokteran lainnya yang kurang begitu saya fahami.


Setelah sekitar 20- 25 Menit kemudian, dokter terapis tersebut berbicara dengan saya. Kesimpulan dari percakapan dan tanya jawab kami yang begitu panjang intinya rio butuh lebih banyak stimulus dalam berbicara, mengenalkan kata dengan cara bermain bersamanya dan usahakan saat berbicara wajah orang tua dapat dilihat oleh anak. Dilihat dari sisi motorik kasarnya rio tidak mengalami masalah karna menurut dokter rio bisa menyelesaikan permainan-permainan tertentu dengan baik, seperti menyusun balok, menempatan balok sesuai ruang dan sebagainya. Akhirnya saya menanyakan apakah perlu dilakukan terapi ulang, dokter terapis tersebut tidak mengatakan “tidak perlu”, hanya saja katanya stimulus seperti ini dapat dilakukan sendiri dirumah, tapi kalau memang butuh bantuan kami untuk mereview dan mengontrol sejauh mana perkembangannya boleh datang sebulan sekali.



Jadi setelah saya berkonsultasi dengan suami, kami memutuskan untuk melakukan terapi sendiri dirumah. saya membeli beberapa permainan yang baik dan bagus untuk perkembangan motoriknya dan beberapa permainan menarik. Karna terapi wicara yang hanya 20- 25 menit tersebut cukup mahal berkisar 300.000 – 400.000 / pertemuan termasuk biaya perdaftarannya. Jadi saya fikir mungkin saya akan mengajarkan rio sendiri di rumah. Atau memasukkannya ke sekolah playgroup agar dia bisa banyak berinteraksi dengan teman sebayanya. Awalnya saya tidak menonton televisi dan bermain gadget. Tapi setelah beberapa bulan terakhir saya fikir rio juga  banyak belajar berbicara lewat film kesukaannya, akhirnya saya izinkan lagi walaupun masih tetap saya batasi. 4 bulan setelah konsultasi dan terapi sendiri dirumah, rio sudah mengalami banyak kemajuan. Ada banyak kata yang sudah bica dia ucapkan walaupun masih belum jelas atau hanya mengucapkan kalimat akhirnya. Tapi alhamdullah itu kemajuan yang luar biasa dari pada sebelumnya.


Karna saya tau rio suka bernyanyi dan menari, gadgetnya saya isi dengan video lagu sehingga rio bisa mengikuti menyanyi dan secara tidak langsung belajar berbicara. Kata orang anak seusianya lebih baik jangan diberikan gadget. Tapi saya tau apa yang saya lakukan, saya tidak selalu memberikan rio gadget tapi hanya memberikannya sebagai alat untuk membantunya belajar berbicara. Selebihnya gadget saya simpan di tempat yang tidak terlihat, jadi rio tidak akan memintaa kalau tidak melihatnya. Saya juga hanya mendownload beberapa aplikasi yang saya butuhkan untuk menunjang pembelajarannya. Ada satu aplikasi permainan yaitu balapan mobil yang saya instal diluar pembelajarann, setidaknya untuk rewardnya setelah belajar.



Sekarang rio sudah bisa berkata banyak, meskipun belum bisa merangkainya menjadi sebuah kalimat. Kalimat yang mungkin sudah hafal dan diucapkan berulang-ulang hanya “ bunda, aku mau susu” dengan kata yang masih belum jelas dan terputus-putus.



Tapi saya tidak akan menyerah dan terus berusaha mengajarkan anak. Saya membaca sebuah video tanya jawab oleh salah seorang dokter di rumah sakit bunda mulia jakarta, katanya melarang anak untuk melakukan apa yang dia senangi juga tidak selamanya baik, seperti menonton televisi dan bermain gadget. Sebagai orang tua kita hanya perlu membatasi dan mengakali bagaimana anak tersebut melakukan apa yang disenanginya agar tidak membahayakan baik dari segi fisik dan psikis. Ibu yang lebih tau mana yang lebih baik untuk anaknya, terkadang handphone atau gadget juga boleh diberikan selama itu baik contonya menjadi sarananya belajar, seperti saya kepada rio. Mohon maaf apa bila ada kesalahan atau hal-hal yang meninyinggung dalam tulisan saya. Semata-mata hanya ingin berbagi.berikut saya lampirkan link yang mudah-mudahan membantu Terimakasih sudah mampir dan membacasalam 

  






Ibu Rumah tangga dengan ratusan mimpi, mencoba menuangkan fikiran dikepalanya untuk sekedar berbagi dan semoga bisa saling menginspirasi


EmoticonEmoticon