Wednesday, December 21, 2016

Cabut Gigi Geraham Tak Semenakutkan Yang dibayangkan

Tags



Udah hampir seminggu gigi geraham belakang sakit. Sebelumnya bagian sebelah kanan memang tumbuh gigi geraham bungsu, setelah diperiksa ke dokter tumbuhnya cukup normal dan masih punya ruang dibelakang gigi geraham utama, akhirnya diabaikan karna difikir gak perlu dicabut. Meskipun agak linu waktu gigi mulai tumbuh membesar karna gigi saling berdesakan.


Selang dua bulan penyakit gigi kambuh lagi, sekarang timbul dari gigi geraham sebelah kiri. Memang sebelumnya aku pernah melakukan perawatan tambal gigi di dua geraham belakang. Tapi penambalan gigi tidak berjalan lancar dan tambal gigi malah terlepas dan menyebabkan masalah baru.
Melihat dari kondisi gigi dan mencari beberapa artikel di mbah google, kondisi gigi gerahamku sudah gak bisa ditambal ulang, harus dicabut mau gak mau. Tapi dalam hati ada rasa takut tanpa alasan yang mengalahkan rasa sakitnya SAKIT GIGI BERHARI-HARI, sunggu luar biasa.
Awalnya minum berapa obat racikan dari toko obat, 1 ,2 kali minum sakit mulai berkurang. Selebihnya gak ada reaksi sama sekali. Bahkan udah segala macam obat dicoba.

Sejak sakit mulai banyak pekerjaan rumah terbengkalai, anak  dan suami yang kurang terurus, dan banyak lagi terutama diri sendiri. Jangankan memikirkan dandanan, setiap hari lebih banyak dihabiskan untuk tidur. Karna kalau sakit gigi sudah mulai menyerang sudah gak ada ampun. Rasa sakitnya menjalar dari pipi ke leher, tengkuk bagian belakang sampai kepala. Ya tuhan, makanya bang meggy Z bilang lebih baik sakit hati daripada sakit hati...
Hahahah kebalik ya...
Tapi intinya dua penyakit itu paling gak enak kalau udah mulai hinggap.

Setelah periksa ke salah satu klinik gigi rujukan BPJSku, dokternya minta supaya balik lagi kalau gigi udah gak merasa sakit. Kenyataannya seminggu minum obat ini itu gak ada hasil. Tapi udah gereget mau meninggalkan si geraham yang suka menyakiti. Akhirnya goyang-goyangin gigi cara manual, yaitu tangan sendiri.
Memang kedengarannya kurang steril ya. Tapi aku cuci tangan sebersih mungkin sebelum melakukan eksekusi , karna memang gak punya pilihan lain. Dalem fikiranku, kalau dokter gak mau cabut biar aku cabut sendiri aja gitu....
HOPELESSS BGT....

Sampai akhirnya, kakak iparku dateng ngejenguk dan merekomendasikan salah satu klinik di jakarta utara tepatnya di kramat jaya, Dr. Mitrono. Katanya disitu bisa cabut gigi walaupun sakit. Setelah diskusi bareng suami soal biaya, karna cabut gigi ini gak ditanggung BPJS karna bukan diklinik rujukan akhirnya pergi kesana jam 8:45 PM. Memang jam bukanya dari jam 7 malam sampai jam 9 malam.
Buat yang mau kesini sebaiknya dateng lebih awal atau ambil nomor antrian lebih dulu, karna mwmang di klinik ini gak pernah sepi. Aku kebetulan gak dapet nomor, dan dengan setia menjadi pasien terakhir.
Kalau tanya perasaanku cabut gigi gimana, itu MENDEBARKAN. Duduk diruang tunggu sambil nunggu panggilan itu adalah satu tindakan yang luar biasa menguras kesabaran mental. Tapi dalam hati selalu menguatkan, " masa operasi caesar aja berani, cabut gigi takut"...
Setidaknya kata-kata itu bisa sedikit menghibur..

Jam 9 lebih, aku mulai masuk ruang dokter. Dokter muda yang nanganin cabut gigiku, setahuku Dr. Mitrono itu sudah tua karna aku pernah berobat disini sebelumnya. Akhirnya setelah diperiksa dugaanku benar, kata dokter gigi gerahamku harus dicabut. Sudah gak bisa lagi dipertahankan... TIDAAAAKKKK....
Dokter muda itu bilang biaya cabut giginya Rp. 200.000/gigi. Setelah setuju baru deh dilakukan operasi kecilnya.
Sebelum dicabut dokternya ngeluarin jarum suntik, itu obat bius yang disuntikkan ke gusi bagian bagian belakang di sisi-sisi gigi yang akan dicabut. Jangan tanya rasanya ya... bahkan saat suntikan diangkat dari rongga mulut itu jarumnya BENGKOK...
Bahkan dokter sampai harus menyuntikkan lagi 2 obat bius di gusi karna aku terlalu tegang..

Setelah kurang lebih 15 menit menunggu obat kebalnya bekerja baru dimulai eksekusinya. Pertanyaan yang berulang adalah
" ini sakit gak ?" Tanya dokter sambil tusuk-tusuk gigiku sama perkakasnya...
HOALAAAAHHH SAKIITTT...

" sakit apa terasa seperti diteken " kata dokternya agak marah karna kelebaianku

" iya, kaya diteken"... ucapku akhirnya..

Setelah 15 menit melihat perkakas seliweran didepan mata, akhirnya 2 gigiku terlepas sudah.. rasanya saat gigi lepas itu kaya...
Klik... plong... sakit kepala hilang...
Setelah itu dokter kasih kapas untuk menahan pendarahan di gusi, jangan dilepas selama 30 menit kedepan. Katanya, jangan berkumur sampai 24 jam kedepan, dan diberikan resep obat untuk ditebus.

Antibitotik, anti nyeri dan obat untuk mengurangi pendarahan.
Sisa percakapannya hampir gak konsen dengernya karna kepala udah mau pingsan, dan efek obat bius 2x yang bikin lidah sama bibir kesemutan...

Setelah obat ditebus, buru-buru pulang dan minum obat. Karna rasa sakitnya luar biasa, untungnya efek obat biusnya masih dan langsung minum obat resepnya.
Tapi setelahnya rasa tersiksa akibat sakit gigi yang berhari-hari hilang. Total...
Asal rajin minum obat dan ikutin semua perintah dokter. Katanya jangan berkumur dulu sebelum 24 jam. Bekas luka cabut gigi juga jangan dimainkan dengan lidah atau ditusuk-tusuk. 
Pas aku cek ternyata ada darah mengumpal di bekas cabut gigi, katanya wajar..

Semoga besok di hari ke 2 bisa berkumur dan mulai sikat gigi.

Sebenarnya ada rencana buat pasang gigi palsu menggantikan gigi gerahamku yang kemarin di cabut. Tapi masih bingung mau pakai gigi palsu yang kaya gimana.
Takutnya kalau hilang dua gigi pipi jadi keliatan kempot..

Kalau ada yang tau tolong info ya gigi palsu yang aman dan masih terjangkau



Salam sayang


Ibu Rumah tangga dengan ratusan mimpi, mencoba menuangkan fikiran dikepalanya untuk sekedar berbagi dan semoga bisa saling menginspirasi


EmoticonEmoticon