Saturday, January 28, 2017

Cerpen Say to Love me - part 1

Tags


Cerpen Say to Love ( me part 1)

Aku masih mengamatinya dengan sangat hati-hati, dia terus saja memainkan pulpennya. Dia tampak gelisah, beberapa kali terdengar suara ketukan pulpennya yang dia sentakkan kemejanya. Dengan tangan kanan yang masih memegang kepalanya, matanya selalu tertuju pada soal yang ada didepannya itu. Tiba-tiba pak arya membanting papan penghapus ke meja dengan keras , aku melirik kearahnya, dia menatapku dengan pandangan menghakimi, aku kembali meluruskan pandanganku  kemudian beralih pada soal dimejaku yang telah penuh terisi. Setelah beberapa menit berlalu aku kembali melirik Diol yang kini menopang kepala dengan kedua tangannya.


“pssssssssssssssssssssssssssssssssssssssssssssst...............” bisikku pada diol yang berjarak dua meja dariku, aku melirik pak arya sebentar. Dia sedang asik membaca koran paginya

“ diollllllllllllll.........................” teriakku dengan suara lirih, tak berapa lama diol menatap kearahku

“ udah selesai “ ucapku tanpa suara, diol tak menjawab hanya menggelengkan kepalanya perlahan, dia melirik kedepan sebentar, kemudian menunjunkkan jari telunjuk dan tengahya membentuk huruf “v” , aku mengangguk kemudian beralih padang pada kertas ujianku. Memang sudah terisi tapi bagaimana aku menyampaikan jawabanku yang panjang ini kepadanya. Aku terdiam sejenak, diol memeringkan tubuhnya kearahku menanti jawaban.

“TRINKKKKKKKKKKKKKKKKKKKKKKKKKKKKKKKKKKK” bunyi ide masuk dalam otakku

Aku segera merogoh tisu di kantong bajuku, pak arya memperhatikanku dengan seksama, jadi aku hanya mengeluarkan selembar tisu kemudian mengusapkannya kedahiku yang tidak berkeringat. Setelah memastikan bahwa pak arya tidak memperhatikan, aku menyalin jawaban soalku nomor dua dalam tisu, kemudian melipatnya. Setelah selesai aku berdiri kemudian menghampiri meja diol sambil berkata

“nih Tipe-X Lho gwe kembaliin, gwe duluan ya !” dengan suara yang cukup keras, karna aku memang bukan mengharapkan diol yang mendengar, tapi pak arya. Aku berjalan ke meja pak arya dan menaruh soal ujianku. Kemudian keluar dengan langkah kaku karna perbuatan curangku tadi.
Tak berapa lama diol keluar dengan wajah kesal, dia menghampiriku kemudian mengelus poniku yang menjulai menutupi dahi.

“ makasih ya !” ucapnya dengan senyum khas yang merekah tulus dibibirnya, aku tak menjawab hanya mengangguk kecil. Kemudian dia menarik tanganku melewati siswa yang lain menuruni tangga. Setelah sampai dikantin dia menarik sebuah kursi dan duduk dengan lemas.

“ahhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhh” dia menarik nafas panjang dengan suranya “ bete gwe sama si botak !” ucap diol kesal

“ udahlah yang pentingkan lho udah selesai ngerjain soalnya !” jawabku

“kata siapa, nomor 7 sama 8 belum gwe isi tadi !”

“lho kenapa gak tanya gwe ?”

“ lho keliatan udah gelisah nungguin gwe keluar, besok-besok kalo udah selesai langsung keluar aja, gak usah nungguin gwe segala “

“ gwe gak bisa gitu “ jawabku

”BETEEEEEEEEEEEEE” teriaknya lagi. Tiba-tiba seseorang merangkulnya dari belakang, itu anya.

“ ebeb aku cariin tau dari tadi “ ucapnya manja ditelinga diol, kemudian duduk kursi samping diol dan menaikkan satu kakinya kekakinya yang lain, sehingga terlihat jelas paha mulus dari roknya yang sangat pendek. Tapi diol selalu tampak cuek dengan anya, seagresif apapun anya.

“ besok kita nonton yuk, ada film bagus !” ajak anya yang sekarang sedang memutar-mutar dasi yang terpasang dileher diol dengan asal.

“ gwe gak bisa !” jawab diol cuek

“kenapa ?” tanya anya dengan kecewa yang tak dapat ditutupi

“ya gak bisa aja !” jawab diol masih santai

“ kenapa ? jawab kenapa ?” tanya anya sambil mengguncang-guncangkan pundak diol dengan keras

“ ribet banget sih lho !” bentak diol “ besok gwe mau pergi nonton sama emyl !”

“ kenapa gak ngajak gwe ?” ucap anya memelas

“siapa lho ? cwe gwe ? bukan kan ? jadi jangan bersikap berlebihan , please !” jawab diol yang kemudian berlalu pergi, anya menatapku dengan pandangan sinis, jadi aku lebih baik mengikuti jejak diol dari pada harus berurusan dengannya.
***

Aku masih sibuk memilih baju, dilemariku berderet beberapa baju yang sudah ku pandangi sejak 10 menit terakhir, aku mengambil sebuah jeans dan kaos oblong tapi kemudian melemparkannya ke kasur, aku melirik jam yang bergantung diatas meja belajarku, sudah hampir 15 menit diol menungguku, aku berdecak kesal kemudian mengambil dress pink kemudian mengenakannya  dan bergegas menemui diol yang menungguku di depan rumah sejak tadi. Aku menghampirinya yang sedang duduk diatas motornya yang besar.

“ maaf lama ya !” ucapku

“ gak apa-apa sayang !” jawabnya mesra kemudian dia menarik tanganku dan menggenggamnya dengan erat,” ayu naik “

Aku masih melamun dengan perubahan sikapnya yang drastis, tapi sejujurnya inilah yang ku harapkan, bahwa dia mencintaiku juga. Aku tersenyum dengan lembut kemudian menaiki motornya, tapi saat aku naik dia menarik tanganku kemudian melingkarkannya ditubuhnya sehingga tubuhku begitu dekat dengannya. Jantunngya terdengar dari balik punggungnya. Dan aku bisa mencium parfum yang melekat di jaket hitamnya, begitu harum, meskipun aku tak dapat menjelaskan secara pasti aroma apa itu. Sesampainya di bioskop dia merangkulku dengan mesra, aku tersipu malu dalam diamku, tak berusaha untuk menolak atau menghindar karena aku memang menginginkannya, menginginkan untuk selalu dekat dengannya.

“ bentar ya, gwe beli karcis “ kata diol lembut, aku hanya mengangguk
Tak lama dia kembali dengan karcis lengkap dengan snack dan minuman yang dia beli tak jauh dari loket. “nih” kata diol sambil memberikanku minuman

“trims” ucapku sambil mengambil minuman yang dia sodorkan kepadaku
Kemudian kami duduk di ruang tunggu, diol tak banyak bicara seperti biasanya, tapi yang tidak biasa adalah sikapnya. Sejak tadi dia terus menggenggam tanganku , dia memperlakukanku seperti aku ini 
 “pacar”nya meskipun sulit bagiku untuk mengerti dan percaya. Aku masih berfikir dan baru sadar ketika diol menatapku dengan pandangan tanya, aku buru-buru menarik sedotan yang sejak tadi menempel dibibirku, aku kikuk dia menatapku seperti itu. Menatapnya dengan keberanian yang tersisa, dia masih menatapku, kini tangannya menyentuh daguku, dan menariknya kearahnya. “ini belum saatnya” fikirku.

“ gwe..............!” kataku tebata-bata, diol masih menarapku lekat dengan pandangan yang hangat. Tapi tiba-tiba seseorang menampar pipinya dari sebelah kiri. Aku terperanga menatap anya yang kini berdiri menjulang dihadapaku, diol mengusap pipinya.

“ puas............lho nyakitin gwe !” ucap anya dengan mata berkaca-kaca “ gwe ngikutin lho dari rumah, gwe fikir lho gak serius mau jalan sama dia, tapi......” kata-katanya tertahan, tak seorangpun dari kami, baik aku maupun diol berusaha menghentikan tangis atau sekedar kata-katanya. Anya berpaling menyeka air matanya dan berlari pergi, orang-orang disekelilingku memperhatikan kejadian itu. Aku diam tertunduk memandang karpet berwarna merah yang kaku. Aku melirik diol dengan hati-hati, dia tampak senang, bahkan nyaris tertawa.

“ kenapa ?” tanyaku padanya yang masih memegangi pipinya

“ akhirnya pergi juga satu hama pengganggu !” ucap diol, dia menaruh minumannya kemudian merogoh saku jaketnya “ nih tiket nontonnya, thanks udah bantuin gwe nyingkirin mahluk yang menyebalkan itu” ucap diol datar, dia menyodorkanku dua lembar tiket, aku masih diam.

“ gwe taro sini ye !” ucap diol menaruh tiket disamping tempat dudukku kemudian dia berlalu pergi menuju pintu keluar, meninggalkan aku sendiri yang masih dalam kebingungan, hanya dalam hitungan menit, semuanya berubah.

Entah berapa lama ku duduk di kursi tunggu bioskop, masih berfikir dan berfikir atas sikapnya itu, sebenarnya aku tahu, tapi aku terlalu takut mengahadapi kenyataan yang sebenarnya. Airmataku menetes di dres dipinkku yang sudah basah dibagian paha. Rasanya begitu sakit, apa ini cinta ? . saat   aku mengharapkan kehadirannya untuk menemaniku, apa ini cinta ?.  jantungku berdegup kencang  saat aku berada didekatnya, apa ini cinta ?, dan aku selalu ingin membantunya, apa ini cinta ?. tapi mengapa harus begitu sakit, apa ini juga cinta ?. aku kembali menyeka air mata yang tak berhenti mengalir dari pipiku sejak satu jam yang lalu.

“ nih....................!” seseorang tiba-tiba menyodorkan sapu tangan putih, aku menoleh dan menemukan rian duduk disampingku dengan pandangan iba, aku mengambil sapu tangannya kemudian menyeka air mataku

“ lho ngikutin gwe sama diol juga rupanya ?”

“ sebenernya gwe yang anter anya kesini, dia minta gwe anterin ke rumah lho, dan nikutin lho sampe 
sini !” ucap rian “ soryy !”

“ gak ada yang salah disini !” jawabku

“ masalah lho sama diol................. gwe Cuma “

“ gwe tau !” ucapku buru-buru memotong kata-kata rian “ gwe tau, selama ini gwe Cuma dijadiin alat pengusir nyamuk-nyamuk fansnya “

Aku dan rian terdiam lama, aku menatap sepatuku yang berwarna sepadan dengan baju yang ku kenakan, “aku sudah berusaha tampil menarik untuknya” ucapku dalam hati

“ boleh gwe anter lho balik ? udah malem sekarang, gak bae cwek pulang sendiri !” ucap rian

“ kalo itu gak ngerepotin lho !” ucapku

“ ya gak lah, rumah kita kan searah dari sini !” jawab rian sambil menepuk bahuku “ ayu pulang, besok kita fikirin gimana ngasih pelajaran sama si brengsek yang sok kecakepan itu” ucap rian

Aku tak menjawab, terus berfikir, rian sepertinya tidak begitu menyukai diol padahal mereka teman satu bangku, teman satu tim basket, bahkan setahuku mereka akrab diluar. Apa mungkin rian hanya menghiburku. Aku sampai di parkiran , rian menurunkan pedal injakan motornya untukku, motornya hampir sama seperti motor diol, hanya berbeda warna. Dia pun hampir Sama dengan diol, hanya berbeda karakter.

Angin begitu kencang berhembus malam ini, sedangkan rian mengendarai motornya dengan cukup kencang, aku tidak berusaha untuk berpegangan pada pingganngnya seprti yang ku lakukan pada diol tadi, aku hanya memegangi besi dibelakang jok motornya persis. Tapi tiba-tiba dia berhenti.

“kenapa ?”tanyaku tapi rian hanya tersenyum, dia melepaskan jaketnya kemudian memberikannya padaku

“ pake ! besok ada ulangan pak budi, gwe gak mau lho sakit gara-gara keujanan dan gak masuk sekolah” ucap rian menyoodorkan sweaternya


“ thanks ya !” jawabku, aku mengenakannya jaketnya yang sangat wangi. Menarik resletinngya sampai kedekat dagu. “ andai diol yang memperlakukanku seperti ini dengan tulus, mungkin aku sangat bahagia” ucapku dalam hati

( BERSAMBUNG)

Baca juga cerpen say you love me part 2


Penulis : Silvie Permatasari 

Ibu Rumah tangga dengan ratusan mimpi, mencoba menuangkan fikiran dikepalanya untuk sekedar berbagi dan semoga bisa saling menginspirasi


EmoticonEmoticon