Sunday, January 29, 2017

Cerpen Say To Love me - part 2

Tags

Cerpen Say To Love me - part 2

Beberapa minggu terakhir aku mencoba untuk menjauhi diol dari kehidupanku, sebenarnya begitu mudah untuk menghindarinya terlalu mudah mungkin, atau memang sebenarnya dia yang menjauhiku, karena misinya telah selesai untuk menyingkirkan anya dari kehidupannya. Sekarang dia lebih banyak menghabiskan waktunya di kegiatan eskul dan nongkrong bersama teman-temannya yang lain ketika jam istirahat. 
Meskipun hanya beberapa hanya beberapa minggu kita bersama, bagiku rasanya sangat menyenangkan dan tak mungkin dapat aku lupakan. Senyumnya, tawanya, keluh kesahnya, dan semua tentangnya menjadi candu dan hasrat untuk memiliki. Meskipun aku mengenalnya sejak aku duduk dibangku sekolah dasar, tapi aku baru berbicara dengannya 2 bulan kemarin, itupun karena dia yang memulai. Dia meminta jawaban soalku saat ulangan, dan sejak itu mungkin aku selalu menunggunya menyelesaikan ulangan. Sejak itu aku mencintainya, mencintai caranya memanggilku. Aku menarik nafas panjang, menatap diol dari lantai 3 , mengamatinya yang sedang asik  memutar bola basket dilapangan.

“ udah makan ?” tanya rian yang tiba-tiba berdiri disampingku

“ eh, yan. Ngagetin aja ! belum lagi males !” jawabku

“kantin yuk !” ajaknya, aku terdiam sejenak untuk berfikir sebelum menyetujui ajakannya, dan seperepat detik kemudian aku mengangguk setuju. Rian berjalan didepan, sedangkan aku berjalan dibelakang, aku tidak mempunyai cukup percaya diri untuk sejajar dengan “cwok terseksi dikampus”, menurut info mingguan mading yang ku baca kemarin, menggeser posisi diol yang sudah beberapa bulan jadi artis dadakan dikampus karna hal yang serupa.  Beberapa siswa menatap kearahku dan rian. Aku menunduk dalam sedangkan rian seolah terbiasa, tiba-tiba aku menubruk seseorang, bola basket menggelinding dibawah kakiku, aku berjongkok dan mengambilnya.

“ini...................” kata-kataku tertahan saat kulihat diol didepanku, dia menatapku kasar kemudian menatap rian yang ikut berhenti. Dia mengambil dengan kasar bola yang ada ditanganku dan pergi kearah yang berlainan.
***


Beberapa minggu berlalu, rian selalu mengisi hari-hari sepi dan sedihku sejak aku patah hati karena diol. Rian selalu ada disampingku, selalu menemaniku, pribadinya yang baik dan sifatnya yang hangat membuatku nyaman. Meskipun begitu, aku tak dapat menghilangkan bayangan diol dari fikiranku. Tapi rian kadang membuat bayangan diol itu samar-samar dalam benakku.

Aku menarik kursi mejaku, aku sengaja datang pagi-pagi sekali untuk mengerjakan PR biologi, karna buku paketku tertinggal dikolong meja sekolah. Aku buru-buru menaruh tas dan mengmbil buku tulis serta tempat pensilku, menaruh tasku dikursi sampingku.

“SEMANGAT !!!!!!!!!!!!!” Teriakku menyoraki diri sendiri,

Aku merogohkan tanganku kekolong meja, aku menarik buku paket biologiku yang setebal 130 halaman. Tapi tiba-tiba sepucuk surat berwarna merah hati terjatuh dipangkuanku. Aku menaruh buku biologiku dan mengambil surat itu. Sebelum aku membukanya aku berfikir sejenak, mungkin ini salah kirim atau milik orang lain. Tapi untuk memastikannya aku membuka surat itu, suratnya begitu wangi, dan sepertinya aku mengenal harumnya, dalam surat itu tertulis ;
“ dear Emyl,

Mungkin terlalu naif aku untuk mengakui perasaanku padamu,
Sama sulitnya ketika aku harus mencoba untuk membuang bayangmu jauh,
Senyumu, candamu, matamu, rona merah dipipimu dan segala tentangmu
Begitu sulit ku tepis dalam benakku,
Tapi semakin aku berlari, semakin aku  menyadari bahwa aku mencintaimu
Maaf tlah menodai pertemanan ini, tapi ku harap kau mengeti,bahwa aku ingin kau menjadi milikku.”

Aku menutup mulutku dan berfikir, apa yang haru aku lakukan tuhan, aku begitu mencintai diol tapi aku juga tidak mungkin menyakiti rian yang begitu baik padaku, akupun menyukainya.

Seharian ini aku terus berfikir untuk menyelesaikan semua permasalahan perasaanku yang selama ini mengganggu hidupku, perasaan cintaku yang kupendam untuk diol, aku harus mengungkapkannya, setidaknya hati ini akan tenang. Aku berkeliling sekolah mencari diol disetiap sudut sekolah, tapi tak juga aku temukan, sampai di kebun belakang sekolah, aku menemukannya yang sedang duduk sambil terus menatap layar handphonenya. Aku menghampirinya

“ boleh gwe ngomong sebentar ?” ucapku

“ kebetulan gwe juga mau ngomong sesuatu sama lho “ jawab diol
Aku duduk disampinya, dia menjadi begitu kaku. Kami terdiam beberapa menit,

“gwe..........................” kataku dan diol berbarengan

“ lho dulu ....” kata diol

“lho aja !” jawabku, kami terdiam lagi beberapa saat “ yaudah kita suit aja deh !” ucapku mencari 
solusi, dia tersenyum tapi menyetujuinya. Dia mengeluarkan jempol sedangkan aku kelingking,

“silahkan.....” kata diol

“gwe..................” ucapku tertahan

“kenapa ?” tanya diol
Aku menarik nafas panjang dan berusah mengumpulkan keberanianku untuk berterus terang tetang perasaanku selama ini. “ gwe sayang sama lho, diol, sayang banget sama lho” ucapku tanpa jeda “ gwe…”

“gwe............” kata diol, tapi aku buru-buru memutusnya

“ gwe gak minta jawaban dari lho kok, gw gak minta lho jadi cwo gwe, gwe gak mau lho kasian sama gwe. Gwe Cuma mau berusaha jujur sama lho, khususnya buat diri gwe sendiri, memendam perasaan itu gak nyaman. Makanya gwe berusaha jujur ke lho. Sekarang gwe udah ngomong tentang perasaan gwe ke lho, dan gwe mau mencoba membuka hati gwe buat orang lain ! rian nembak gwe, dia ngirim surat ke gwe, dia bilang dia sayang sama gwe. Makanya gwe mau mencoba ngejalanin hubungan sama dia”

emyl........... lho tau gak ?” tanya diol

“apa?” tanyaku

“ gwe yang ngirim surat itu !” jawab diol “ surat warna merah hati yang gwe taro dibawah meja lho”
Aku terdiam

“ selama ini gwe ngebohongin diri gwe sendiri, gwe sadar gwe sayang sama lho. Awalnya gwe emang Cuma niat nyingkirin anya, tapi setelah anya bener-bener pergi ternyata gwe salah, bukan itu. Gwe jatuh cinta sama lho, gwe mau ada dideket lho terus. Lho inget waktu terakhir kali kita jalan, gwe minta maaf udah berbuat gitu. Waktu itu sebenernya gwe balik lagi buat nemuin lho. Tapi ada rian disana,maaf !” ucapnya, Aku terbelalak lebar, tak percaya

“ lho mau jadi cwe gwe ?” tanya diol
Tiba-tiba rian muncul dihadapanku, dia menatapku dengan pandangan cemburu. Aku tau bukan rian yang menulis surat itu, tapi bukan berarti aku tidak tahu bahwa rian juga mencintaiku. Aku menatap rian yang kini menuju kearahku.

“ maaf, tapi gwe udah nentuin pilihan sekarang. Gwe emang sayang banget sama lho, tapi gwe gak mau ada orang lain yang sakit hati sama kaya gwe mengharapkan cinta lho. Permisi” ucapku meninggalkan diol dan menggandeng rian dengan mesra. Rian mengelus rambutku dan berkata “ jangan pernah berpaling dari gwe “. Aku tahu ini pilihan yang sulit. Tapi ini lebih baik, mencintai tanpa memiliki itu menyakitkan, tapi lebih baik belajar untuk menerima keadaan daripada harus selalu hidup dalam harapan kosong.

END


Ibu Rumah tangga dengan ratusan mimpi, mencoba menuangkan fikiran dikepalanya untuk sekedar berbagi dan semoga bisa saling menginspirasi


EmoticonEmoticon