Monday, February 20, 2017

Sebuah Nama Tanpa Cerita - Bagian Keempat

Tags

Sebuah Nama Tanpa Cerita
Aku duduk di halte, sudah hampir setengah jam menunggu kakaku tapi belum juga ada kabar. Jangan - jangan dia tetap berkeras hati menungguku didepan kosan. Seharusnya dia mengalah padaku, aku kan adiknya lagipula dia naik mobil dapat dengan mudah dan cepat sampai kesini, kalau aku  harus kesana butuh waktu lama untuk naik angkutan dan berjalan kaki.


Ah..... menyebalkan

Terlebih perasaan cemburuku juga belum reda, mereka sekarang jalan pulang bedua ngobrol kesana kemari dan tertawa bahagia diatas kesedihanku. Rasanya rasa kesal ini menyangkut di tenggorokanku dan siap meledak kapanpun.....

Teringat jelas bagaimana dian memukul bahu dirga dengan entengnya, dan dirga pun tak menolak. Rasanya ingin ku lemparkan saja sekalian batu granit besar kemereka berdua.

Aaaaaaaa..........

Aku mengacak-ngacak rambutku kesal, berusaha menghapus fikiran fikiran itu dari kepalaku.
Seseorang tiba-tiba duduk disampingku. Matanya tak menatapku, tak mengatakan permisi hanya duduk dan membiarkanku tersudut di ujung bangku halte. Aku yang hendak menegurnya mengurungkan niatku melihat muka murungnya, matanya berkaca-kaca menatap ke bawah, kedua tangannya dikepalkan kedepan ditopang oleh lututnya yang besar. Apa dia menangis ?

Ternyata bukan aku saja yang sedang sedih disini, fikirku jadi kuabaikan kesalahannya. Aku mengambil handphone dan mengirimkan sms ke kak melinda.


To : Melinda
Kak, beneran deh sekali ini ngalah kek sama adiknya
Aku capek tau jalan kesana,
Kakak kesini aja ya
Aku di halte deket perempatan depan
Kalau ke kosan mesti naik angkot lagi trus jalan kaki
Pasti lama

Oke
Tak berapa lama terdengar balasan darinya.

From : Melinda
YE


“ Cuma ye ?” ucapku, mengumpat pada diri sendiri

Aku menghela nafas panjang, sungguh terkadang memiliki seorang kakak itu adalah sebuah cobaan batin yang berkepanjangan.


Aku menyandarkan tubuhku di sandaran kursi halte yang cukup tinggi, sekedar melepas lelah hari ini.  Tapi tas dari pria aneh yang duduk disampingku ini terlalu dekat, takut difikirnya aku malah pencopet jadi aku mencoba sedikit menggeser tasnya dari sampingku. Tapi pria ini tiba-tiba menatapku dengan pandangan tidak suka.

Spontan aku berkata

" maaf mas, tasnya nindihin tangan saya" ucapku sopan, sedikit mencari alasan yang kuat untuk menggeser tasnya

" bilang aja kamu mau tiduran kan ? " hardiknya, spontan aku kaget atas pernyataan bodoh yang terlontar itu, apa maksudnya dia fikir aku tunawisma hah ?

" halte itu fasilitas umum ya mba, semua orang berhak menggunakan dan mendapatkan manfaatnya. Bukan cuma situ doang, lagian kenapa mba gak tiduran dirumah aja sih !!" Ucapnya lagi

Aku terdiam, rasa-rasanya aku pernah bertemu dengannya disuatu tempat, Tapi dimana ya....
.
.
.
Oh iya, di halte depan kampus. Kenapa sih aku selalu dipertemukan dengan banyak sekali orang aneh dan menyebalkan didunia ini.


" mas , maaf ya. SAYA BUKAN TUNAWISMA. Jadi saya gak ada niat sedikitpun tiduran di halte atau ditempat umum. Dan saya juga punya hak untuk menegur saat hak saya ditindas" ucapku dengan nada kesal

" saya tidak pernah merasa menindas siapapun disini" ucapnya lagi dengan nada santai bahkan setengah mengejek sekarang

" bukan anda yang menindas saya, TAPI TAS ANDA. KALAU TIDAK KEBERAATAN BISA TARUH AJA DIBAWAH ?" Ucapku kesal dengan mata melotot keluar, aku menarik nafas panjang berusaha mengontrol emosiku. Takut kalau banyak orang yang melihat nanti

Tapi bukannya meminta maaf  dia tertawa keras sekali, beberapa orang lewat bahkan menoleh kepada nya, aku heran apa yang membuatnya jadi berubah cepat dari satu emosi ke emosi yang lain.  Aku diam menunggu sampai dia menyelesaikan tawanya.

Tak lama tangannya melambai tanda menyerah, air matanya keluar. Entah karna sedih atau senang, tapi mulutnya masih tertawa menunjukkan giginya yang besar.

"Maaf ya mba" ucapnya " saya cuma bercanda kok, tempo hari saya liat mba tiduran di halte mana gitu... saya lupa. Sekali lagi saya minta maaf" ucapnya sambil mengangkat tasnya dan menaruhnya dibawah , disamping kakinya. Kemudian dia kembali duduk

" iya" ucapku jutek, tanpa banyak kata aku memalingkan wajah, akhirnya aku duduk di kursi tepat ujung halte sembari melihat beberapa mobil yang berlalu lalang didepan mataku, menunggu kak melinda.


" mba" ucap lelaki tadi, mencolek tangan ku perlahan

" APA LAGIII ??" Ucapku nyaris berteriak menahan kesal, kenapa sih lelaki satu ini terus saja mengikutiku.

" boleh pinjam handphonenya" tanya nya lagi " handphone saya lowbet, saya mau telfon temen penting!" Ucapnya

Aku diam tak menanggapinya, tapi dia mengeluarkan handphonenya dan menaruhnya disampingku.

" kalau mba gak percaya , mba boleh pegang hp saya. Saya bukan maling atau orang berniat jahat kok" ucap pria tadi,

“ Gak punya handphone “ ucapku

“ Tolong dong mba, urgent banget nih beneran. Kalau mba masih marah sama saya soal yang tadi sekali lagi saya minta maaf” ucapnya lagi mencoba meyakinkanku

“ sama yang lain aja sana “ ucapku lagi masih tidak perduli

“ kalau ada orang lain, mungkin bukan mba yang pertama kali saya mintai tolong “ ucapnya dengan nada memelas


Aku melihat sekeliling, ternyata benar hanya aku dan manusia aneh ini saja yang berada disini.

Menyebalkan ...

Setelah berfikir sejenak, akhirnya aku mengeluarkan handphoneku dan memberikan kepadanya. Mungkin dia memang benar – benar dalam kondisi darurat.

" jangan lama-lama dan gak boleh kemana-mana" ucapku jutek

Dan selama dia memakai handphoneku, aku terus saja memperhatikan handphone yang dia taruh disampingku sebagai jaminan.

" makasih" ucapnya, sambil mengambil handphone dari tanganku dan memencet nomor. Dari raut mukanya dia seperti kaget tapi memudian meneruskan panggilannya...

Sepertinya beberapa kali dia mencoba menelfon seseorang, tapi tidak diangkat.

" kayanya, handphonenya mati deh. Makasih ya" ucap pria itu

" sama-sama ucapku"

Tiba-tiba handphone ku berbunyi, aku fikir dari teman pria tadi tapi ini dari kakakku...

" hallo..." ucapku

" dimana ?" Tanya kakakku dengan nada kesal, mungkin dia sudah mencariku sepanjang jalan

" di halte depan lampu merah" ucapku

" yaudah, bentar !”teriak kak melinda.

Hulft... benar – benar kakakku yang satu ini


" kamu apanya dirga ?" Tanya pria tadi yang mungkin dari tadi menguping pembicaraanku di telfon, menunggu untuk bertanya.

" kok kamu kenal dirga? Kamu siapa?" Tanya ku penasaran

" saya temannya, tadi waktu saya mencet nomor dia muncul nama di handphone kamu" ucapnya

" saya temannya" ucapku singkat, tidak perlu berbasa basi mengatakan aku pacarnya, karna itu hal yang tidak penting. Tidak ada urusannya juga dengan pria ini

" yasudah saya pergi dulu, makasih handphonenya " ucapnya  sambil berlalu pergi menaiki tangga menuju koridor busway. Dasar orang aneh... gerutuku dalam hati


Tak berapa lama sebuah mobil sedan berwarna putih berhenti didepan halte, kaca depannya merosot turun dan kulihat kak melinda melambaikan tangannya dari dalam. Aku tersenyum dan menghampirinya.

“ udah lama ?” tanya kak melinda

“ lumayan , dari mana aja sih kak. Orang jaraknya deket juga kok lama banget “ tanyaku

“ Macet tuuuannn putri “ ucapnya sambil mencubit pipiku

Kami berdua tertawa bersama

“ gimana kabar kamu ? sehat ?” tanya nya lagi

“ sehat lah, kalau sakit gak mungkin ketemu di halte tapi rumah sakit” ucapku

“ ya kalau sakit gak mungkin secerewet ini” ucap kak linda

Aku hanya tersenyum kecil

“ ini jalan kemana ?” tanyanya

“ lurus aja terus, diperempatan depan ambil kanan” ucapku “ ada apa nemuin aku kak ?” tanyaku penasaran

“ Aku kangen aja, tadi abis ketemu sama orang trus sekalian nengok kamu” ucap kak melinda

“ ketemu pacar ?” ledekku

“ mantan pacar !” ucap kak melinda

“ dihhhh SELINGKUH YA” teriakkku mengejeknya

“ Enggak, baru jadi mantan hari ini” ucapnya dengan raut muka yang sedih

“ oh, kenapa ?” tanyaku penasaran

“ udah lain kali aja aku cerita”  ucap kak melinda

Kami sampai di tempat kosanku, aku melihat sekeliling mungkin Dirga masih ada disekitar sini, tapi ternyata tidak ada. Dan saat aku melewati depan kamar dian, pintunya pun tertutup rapat tak ada suara.

“ apa mereka belum pulang ya ?” ucapku dalam hati




***
BERSAMBUNG

Ibu Rumah tangga dengan ratusan mimpi, mencoba menuangkan fikiran dikepalanya untuk sekedar berbagi dan semoga bisa saling menginspirasi


EmoticonEmoticon