Friday, February 24, 2017

Sebuah Nama Tanpa Cerita - Bagian Keenam

Tags

Sebuah Nama Tanpa Cerita

Mencari arti hadirmu #1


Hari ini aku bertemu pak herlambang di ruangannya. Menyerahkan beberapa referensi buku yang dia inginkan dan tentunya mencari tau respon nya atas keterlambatan tugasku. Hebatnya dia tidak marah sama sekali, bahkan sikapnya membaik padaku, padahal aku sudah tegang setengah mati. Entah ini sebuah keajaiban atau ledakan yang tertunda tapi setidaknya aku bisa selamat untuk hari ini.

Ada banyak hal yang akhir-akhir ini aku pertimbangkan, satu tahun aku lulus kuliah , mungkin jika tanpa kendala. Jadi semakin banyak pengeluaran yang dibutuhkan untuk biaya wisuda dan lain-lain, sedangkan penghasilanku sebagai resepsionis hanya mencukupi biaya kos, makan dan uang kuliahku. Aku dengar juga semester depan akan ada kenaikan biaya, dan hal itu terus saja terngiang dikepalaku.

Aku duduk lagi dihalte depan kampusku, entah kapan ini menjadi tempat terfavorit untuk duduk diam melamun ... dan gratis tentunya.

Tin.. tin....

Seseorang memanggilku dari dalam kaca mobil, itu dirga. Aku bangun beranjak dan menghampirinya.

" kok ada disini ?" Tanyaku heran

" iya sengaja jemput kamu !" Ucapnya

Aku kemudian masuk dan menatapnya lekat, " tumben banget kamu jemput aku !" Ucapku dengan perasaan heran dan setengah meledek

" ya , ini akan jadi rutinitas. Mulai sekarang coba biasain diri dengan semua perubahan ya!" Ucap dirga sambil mencubit pipiku

Aku tersenyum menatapnya, masih dengan perasaan tidak percaya. Karna selama beberapa bulan ini kami pacaran dia tidak pernah sedikitpun menunjukkan perhatiannya yang besar kepadaku. Setiap malam minggu dia selalu dengan rutinitas atau dengan semua alasannya sehingga jarang sekali kami bisa bersama.

Terkadang karna aku memaksakan diriku menemaninya joging di minggu pagi atau saat jam kuliahku kosong, aku akan bertemu dengannya disuatu tempat yang sudah ditentukan. Dan untuk menjemput pulang kuliah seperti ini adalah hal baru yang mengagumkan bagiku, meskipun terdengar biasa saja untuk pasangan lain.

Kami berhenti di sebuah restoran, dia mematikan mesin mobilnya dan keluar. Aku masih diam beberapa menit sedikit berharap dia akan membukakan pintu. Tapi setelah beberapa menit, ku fikir itu sebuah harapan yang berlebihan bahkan dirga tengah menatapku setengah kesal karna terlalu lama didalam. Oke aku memang terlalu berharap...

“ Mau pesan apa?” tanyanya sambil membalik balik menu,

" aku masih kenyang " ucapku

" aku udah ajak kamu kesini, masa kamu cuma mau liat aku makan. setidaknya makanlah temenin aku walaupun sedikit" ucap dirga

" oke, ini aja mas, nasi goreng seafood" ucapku pada pelayan

" ini makanan banyak kok malah pesen itu sih ?" Tanyanya

" emang kenapa ?" Tanyaku

" maksud aku kamu bisa makan itu dimanapun, bahkan warung pinggir jalan. Makanan disini banyak banget yang enak ! " ucap dirga

" jadi nasi gorengnya gak enak ya ?" Tanyaku

" ya enak juga sih,, tapi...."

" oke mas itu aja, minumnya orange juice aja satu!" Ucapku sambil melihat sekeliling dan dirga masih berbicara dengan pelayan


" kamu kenapa ? Kayanya gak suka gitu jalan sama aku ?" Tanya dirga setelah menyelesaikan pesanannya

" enggak siapa yang bilang" ucapku

" ya keliatannya kamu males gitu" ucap dirga sambil mengambil handphone dari kantung celananya dan meletakkannya dimeja

" enggak aku cuma sedikit shock mungkin, dijemput kamu " sindirku

" emang aku gak pernah jemput ? Masa ?" ucap dirga heran

" memang begitu kenyataannya" ucapku dengan nada malas, entah kenapa seharusnya ini menjadi moment yang spesial bagiku, maksudku ini pertama kalinya dia menjemputku setelah kami berpacaran, bukankah itu sesuatu yang menakjubkan !. Seharusnya aku bahagia, bukan merasa kesal.

" handphone kamu bunyi terus !" Ucapku, sambil melihat handphonenya di meja yang terus bergetar

" iya, ini sepupu aku. Dia bawel banget, beberapa hari lagi nginep dirumah." Jawab dirga

" oh ya soal sepupu kamu itu, apa kamu...."

" sebentar ya aku angkat telfon dulu" ucap dirga beranjak dari kursinya dan berjalan menjauh

Aku mencari pandang , melihat ke sekeliling restaurant. Tempat yang bagus untuk berkencan, fikirku dalam hati. Beberapa pasangan terlihat diujung ruangan, persis didekat jendela. Seorang pria dan wanita dengan penampilan anggun seperti seorang artis, saat aku melirik kediriku sendiri aku seperti melihat sebuah petaka. Bagaimana bisa ? Sepatu flatshoes dengan ujung depan yang nyaris menganga, tas tangan yang kumal dan baju ini, sepertinya aku lebih mirip seorang pelayan daripada tamu disini.

" maaf ya lama" ucap dirga, aku tak menjawab hanya mengangguk dan sedikit tersenyum

Biar pun duduk dan berada dihadapanku, dirga masih sibuk dengan handphonenya yang tak pernah berhenti berdering. Kadang aku bertanya-tanya sesibuk itukah dia setiap harinya ?. Tapi setiap pesanku hanya beberapa yang dia tanggapi. Hulft.... aku mulai semakin kesal.


***

Ya aku sudah memutuskannya, tidak ada cara lain untuk menambal kekurangan biaya kuliahku tahun ini selain bekerja di hari libur. Sedikit mengorbankan waktu istirahatku dan mengusik waktu bertemuku dengan dirga, tapi entahlah apa itu berati buat dia atau tidak.

Difikiranku saat ini hanya bagaimana caranya aku bisa menutupi biaya semesterku tahun ini, cuma itu....

Tapi setelah aku fikir fikir lagi tidak ada salahnya sedikit berbagi soal keputusan ini dengan dirga. Toh akhir-akhir ini dia menunjukkan banyak perubahan, setidaknya aku sudah memberi tahu dia.

Dialing DIRGANTARA
.
.
.
Nomor yang anda hubungi sedang sibuk, silahkan mencoba beberapa saat lagi...

.
.
.
.

Nomor yang anda hubungi sedang sibuk, silahkan mencoba beberapa saat lagi....
.
.
.
Selalu saja seperti ini,
Selalu saja membuatku menyesal telah memikirkannya...

Aku keluar dari kamarku dan berjalan menuju kamar dian yang hanya terpaut dua pintu dari kamarku. Mungkin dia bisa sedikit memberikanku masukan soal masalah ini atau setidaknya aku merasa terhibur.

Tok tok tok.... aku mengetuk pintu kamarnya, dari luar terdengar suara dian yang tertawa lepas, dengan siapa ?

Aku memberanikan diri untuk membuka pintunya yang sedikit terbuka, dan kulihat dian tengah tertawa guling-gulingan dilantai. Dian menoleh ke arahku dan menunjukkan telunjuknya. Ya aku mengerti....

Aku menutup pintunya kembali dan berjalan kembali kekamarku.

Hulft.....

Saat aku melihat dian tertawa seperti itu, aku jadi merasa iri. Mungkin dian tertawa dengan pacarnya, meskipun aku tak tau siapa...

Aku juga ingin sepertinya, bisa berbicara lama dengan orang yang aku sukai, menatap matanya, menatap bibirnya yang berbicara dan menikmati kebersamaan.
Rasanya begitu nyaman.......

Aku teringat hari dimana dirga menjemputku pulang kuliah tempo hari, Hari itu entah kenapa aku benar - benar kacau. Mungkin karna terlalu banyak fikiran dikepalaku dan aku tak tau apa yang harus aku lakukan, jadi emosiku sedikit kurang stabil.

Hari itu selesai makan aku masuk mobil dengan muka yang sedikit cemberut, mungkin. Dan dirga bertanya pelan sebelum menjalankan mobilnya.

" kamu gak apa-apa ? Daritadi aku liat kamu kayanya kurang suka jalan sama aku" tanyanya lembut

" enggak apa-apa, aku lagi banyak fikiran aja" ucapku mencoba menyudahi pembicaraan

" kalau kamu bilang gak apa-apa harusnya kamu gak bersikap begini didepan aku!" Ucapnya

" bersikap begini bagaimana ? Tau apa tentang aku ! Kamu. Tau apa ?, selama ini kemana aja kamu waktu aku butuh seseorang, kamu kemana ?. Setiap pesan dan telfon aku kamu abagikan gitu aja. Aku juga punya perasaan ga... aku juga manusia, kalau kamu gak bisa berdiri disamping aku buat nemenin aku kamu gak perlu hadir dan berpura pura kamu perduli dan ada !... kamu...."

Sebelum aku menyelesaikan kalimatku, dirga menarik dahuku dan mencium bibirku.
Kata kataku seolah berhenti disana,
Amarahku mencair dan menghilang entah kemana,
.
.
Dirga menciumku dengan hati nya, dikecupnya bibirku lama sekali, dan aku sungguh tidak dapat melakukan apapun,

Aku tau mungkin dirga sedang menghentikan semua celotehanku, dan dia berhasil.
Saat dia menarik bibirnya dan mendorong tubuhku menjauh, dirga menatap mataku tajam. Aku masih setengah terpejam, terperanga.....

" mungkin aku gak terlalu punya banyak waktu buat kamu, aku juga bukan orang yang gampang ngerayu atau membujuk dengan kata-kata manis. Tapi aku disini benar-benar bekerja, dan ini untuk kamu juga. Saat kamu nanti bersedia hidup selamanya dengan aku, aku harus menjadikan hidup kamu layak, aku gak mau kamu susah dan menderita. Aku kerja untuk kita juga... untuk masa depan kita. Jadi aku mohon kamu bisa sedikit mengerti" ucap dirga

Aku menatap matanya, kemudian dirga mengecup keningku. Di taruhnya tanganku di pahanya dan dia mengambil kemudi pulang. Sepanjang jalan dia terus saja menggenggam tanganku, dan aku sungguh merasa seperti baru menemukan dirinya setelah selama ini kami bersama.

Apa mungkin aku yang kurang mengerti tentang keadaannya, apa aku yang terlalu banyak menuntut dia menjadi seseorang yang aku inginkan ?.
Mungkin iya....

Ya, karna kejadian malam itu aku semakin lebih sering merindukannya, dirga. Meskipun tak banyak perubahan berarti di dirinya, setidaknya sekarang dia sudah mengucapakan "selamat malam, semoga mimpi indah" padaku, di setiap malam setiap harinya.

Setelah selesai menyiapkan beberapa lamaran kerja untuk besok , aku berbaring menatap langit – langit kamar sembari menunggu kantuk datang. Memikirkan kemana tempat yang harus aku datangi besok. Tapi semoga saja ada lowongan untukku disuatu tempat, amient.


***

 BERSAMBUNG

Ibu Rumah tangga dengan ratusan mimpi, mencoba menuangkan fikiran dikepalanya untuk sekedar berbagi dan semoga bisa saling menginspirasi

2 komentar

Makasih mas nino sudah mau mampir dan membaca,

Tersanjung sekali saya ^-^


EmoticonEmoticon