Saturday, February 18, 2017

Sebuah Nama Tanpa Cerita - Bagian Ketiga

Tags

Sebuah Nama Tanpa Cerita
Beberapa kali aku mengok jam di tangan ku, waktu sudah menunjukkan pulul 2:15 siang dan dirga belum juga datang. Aku dan dian sudah lebih dari satu jam menunggu di ujung jalan, kakiku malah hampir copot terus berdiri.

" coba dong telfon...lagi" gerutu dian sambil mengelus kakinya yang mungkin sama pegalnya denganku

" udah daritadi juga di telfon tapi gak diangkat! Lagi jemput sepupunya kali" ucapku " atau kena macet"

" udah gak kuat nih gwe berdiri" gerutu dian, dian berjongkok di pinggir jalan,

Dan untung saja tak lama mobil dirga berhenti di hadapan kami, persis sebelum kami berdua jatuh pingsan karna terlalu lama menunggu. Dirga membuka kaca mobilnya dan mempersilahkan kami masuk. Tapi aku tak melihat sepupu nya didalam mobil jadi aku memilih duduk dikursi depan.

" sepupu kamu kemana ?" Tanyaku heran melihat dia sendiri

" oh dia gak bisa ikut, entah kenapa tadi katanya ada urusan mendadak jadi minta tolong supaya aku yang beliin. Dia tau aku juga mau anter kamu nyari buku!" Jawab dirga

" oh..." jawabku " oh iya sayang, ini dian temen satu kos aku"

" hei salam kenal" ucap dirga tanpa menoleh pada dian, pandangannya masih ke jalan didepan

" salam kenal" ucap dian mengulurkan tangannya, aku menyambutnya

" lagi nyetir jadi gwe wakilin" ucapku sambil tersenyum tapi dian malah menggigit tangan ku

Dasar jail...

Sepanjang perjalanan dirga bersikap ramah kepada dian, jadi aku tidak merasa tidak enak hati menjadikannya obat nyamuk . Bahkan kita bertiga tertawa bersama, maksudku dirga bisa tertawa lepas didepan orang yang baru dikenalnya, aku merasa sedikit lega. Untungnya dirga menyetir dengan cepat dan nyaman jadi aku bisa sampai toko dengan tepat waktu sebelum toko tutup.

" bisa tolong cariin buku ini ? " tanya dirga

" buku apa" tanyaku

" buku untuk sepupu aku, kamu bisa tanyain ke penjualnya gak ada gak buku itu disini" ucap dirga sambil memberikanku secarik kertas dengan beberapa judul buku yang ditulis tangan

" oke, kamu gak masuk?" Tanyaku

" enggak , aku disini aja. Aku kurang suka buku" ucapnya sambil menyengir, saat aku berbalik dan ingin mengajak dian , dia malah sudah berada lima meter jauhnya dari mobil sambil mengobrol di handphone...

Yah...
Berjuang mencari harta karun sendirian
SEMANGAT !!!!

.
.

.

30 menit berlalu
.
.
.
.
.
1 jam berlalu...
.
.
.
.
.
.
.

Akhirnya aku menemukan semua pesanan buku sepupunya dirga, dan tentunya buku untukku. Saat aku selesai membayar dan berjalan menuju parkiran mobil,  aku melihat dian dan dirga tertawa lepas bersama, bahkan dian berani memukul kecil ke bahu dirga yang kekar.

Ada sedikit rasa cemburu didalam hatiku, tapi aku tidak ingin menjadi terlalu kekanak kanakan atas hal ini. Tidak ada hal yang perlu di jadikan alasan untuk marah, toh mereka tidak memiliki hubungan apapun, bahkan mereka baru bertemu. Tapi kenapa rasanya sangat menyakitkan melihat mereka begitu ringan bertukar senyum...

Rasanya sakit, tapi tetap saja aku berjalan menghampiri rasa sakit itu.
.
.
.

" udah belanjanya sayang ?" Ucap dirga

" udah semua nih" ucapku sambil melingkarkan tanganku ke pinggangnya " yuk pulang " ucapku berusaha bersikap mesra terhadapnya entah karna kecemburuanku atau hanya reflek tubuhku yang merindukan dia

Dirga berbalik dan membukakan pintu untukku, sedangkan dia jalan memutar ke arah yang sebaliknya, aku melihat dian tanpa mengendurkan senyumnya dia pun naik di kursi belakang.

.
.
.
Tapi baru saja dirga mengemudikan mobilnya beberapa meter, handphoneku berdering. Saat ku lihat nama yang tertera di layar

“ MELINDA “

Kakakku



" ya hallo" ucapku menjawab telfonnya,

" dimana ?" Tanyanya di sebrang sana

" dijalan, abis nyari buku" ucapku

“ Buruan pulang, aku udah sampe depan kos-kosan kamu nih de “ ucapnya

“ Lah, aku lupa cerita. Kalau aku pindah kosan kak !” ucapku akhirnya

“ yah gimana dong ? terus kamu dimana sekarang ?” tanya kak melinda

“ masih dijalan, kakak tau gak gedung swastika ?” tanyaku

“ ENGGAAAAKKK “ teriak kakakku “ udah buruan kesini jemput !”


Hulft... Menyebalkannnnnnn

" siapa ? " tanya dirga

" kakak aku, dia dateng ke kosanku yang lama" ucapku

" trus gimana ?" Tanya dirga sedikit khawatir

" gak apa-apa turunin aja aku di halte depan, nanti aku naik busway ke kosanku yang lama" ucapku sedih

“ emang kakak kamu gak bisa diarahin buat ke kosan kamu yang sekarang ?” tanya dirga

“ Enggak, sekali dia bilang jemput dia disitu ya disitu. Susah main tawar menawar sama dia !” ucapku

" trus gwe gimana ?" Tanya dian

" lo nebeng aja sama dirga sampe depan kosan, kan jalannya masih searah" ucapku sedikit bete harus berbicara begitu

" maaf ya sayang aku gak bisa nemenin kamu, soalnya aku ada jadwal latihan bola" ucap dirga berusaha merayu

" iya gak apa" jawabku

" gwe juga gak apa-apa nih pulang ?" Tanya dian

“ ikut gue aja yuk, nantikan pulang juga !” ucapku pada dian akhirnya setelah menginat keakrabannya tadi dengan dirga.

“ mau sih, tapi jam 7 nanti gue udah ada janji jadi harus pulang cepet. Gak apa – apa kan ?” tanya dian

" iya gak apa-apa" ucapku menahan kesal yang menumpuk numpuk.




***
BERSAMBUNG

Ibu Rumah tangga dengan ratusan mimpi, mencoba menuangkan fikiran dikepalanya untuk sekedar berbagi dan semoga bisa saling menginspirasi


EmoticonEmoticon