Wednesday, February 22, 2017

Sebuah Nama Tanpa Cerita - Bagian Lima

Tags

Sebuah Nama Tanpa Cerita

Mahluk Aneh itu memiliki Nama !!


" gak makan siang dit ?" Tanya mas eko yang berdiri persis didepan meja resepsionis

" enggak mas, saya lagi diet" ucapku sambil menyeringai lebar berusaha menutupi perutku yang keroncongan berat

" udah kurus juga pake diet diet segala, yaudah aku duluan ya" ucap mas eko berlalu pergi

Aku menghela nafas panjang, memang aku tak bermaksud untuk melakukan diet sebenarnya, karna memang tubuhku sudah cukup prporsional untuk seorang wanita bahkan nyaris kurus. Tapi dietku bukan untuk badanku, tapi dompetku.

Ohhhh tuhan.... kapan gajian itu datang...

Rasanya untuk anak kos seperti aku, sisa uang beberapa lembar itu seperti nyawa terakhir yang entah bagaimanapun harus ku jaga dengan baik. Untungnya selama ini tubuhku selalu bisa berkompromi , selalu bisa berdamai dengan mie instan sebagai menu andalan saat makanan lain tak dapat ku jangkau.

Aku juga bingung mengatakan kepada dirga soal biaya membeli buku untuk sepupunya kemarin, dan dirga juga sepertinya tidak ada basa-basi menawarkan diri untuk menggantinya. Ah... sebenarnya aku juga ingin meminta uang pengganti tapi nanti dirga berfikir aku orang yang perhitungan apalagi nilai bukunya tidak seberapa.

Tapi tak seberapa pun itu, juga berarti untukku.... fikirku lagi...

Ah..........

Sementara ini, mie instan cup iniyang bisa ku nikmati...
Mungkin sampai beberapa hari kedepan nanti...

“ hulft... setidaknya hari ini aku makan rendang meskipun dalam bentuk yang berbeda” ucapku untuk diri sendiri sambil menium kuah mie yang masih panas.


***

Bip bip bip bip

" ya hallo..." ucapku sambil mengunci loker kerjaku

" ini, nandita ?" Tanya seseorang disana berhati-hati

" ya benar, ini siapa ya !" Tanya ku

" ini sepupunya dirga.." ucap seseorang disana suara seorang laki-laki, nada suaranya sedikit serak dan berat.

" oh, ya mas kenapa...." tanyaku, berharap dia bertanya soal biaya pembelian bukunya itu, ya tuhan akhirnya doaku kau jawab juga

" ini soal buku yang kemarin kamu beli" ucapnya

" ya kenapa ?" Ucapku " please tanya berapa total harga nya"gumamku dalam hati tentu

" bisa anterin ke tempat pembelinya ? Soalnya kayanya kamu salah beli deh. Kalau saya yang tukar nanti abangnya gak percaya. Kebetulan kamu yang beli jadi kemungkinan besar abangnya masih ingat kamu" ucapnya cuek tanpa basa basi

"Oh" ucapku

Uh... seharusnya sebelum dia berurusan soal bukunya yang salah beli, dia bertanya, buku ini dibeli pakai uang siapa.... belum juga diganti uangnya sudah ada permintaan lain lagi, manusia macam apa ini..

" bisa ?" Tanyanya

" bisa apa?" Tanyaku singkat, dengan sedikit ketus aku sadar dia sepupu dirga yang mungkin juga akan menjadi iparku nanti, jadi bersikap baik masih bisa ku utamakan walaupun dia sungguh sangat menjengkelkan

" bisa anterin aku ke toko bukunya" ucapnya

" bisa" ucapku sambil melirik jam tangan ku " sekarang baru jam 4, kalau kamu bisa jemput aku jam 5 kita bisa ke tokonya sebelum tutup. Jumat tutup jam 7 malam kok"

" emang kamu dimana ?" Ucapnya

" di perkantoran orchard, jakarta selatan" ucapku

" hmmm............" seseorang disana mencoba berfikir

" kalau gak bisa, ketoko bukunya sendiri aja ajak dirga dia kan tau tempatnya. Kalau mau bon nya nanti aku bbm" ucapku, menegaskan soal pembayaran ganti rugi itu

" oke" ucapnya

" oke kirim aja nomor whatsapp atau kontak bbmnya, nanti aku kirim" ucapku menyudahi pembicaraan

" maksud saya, oke saya akan jemput kamu !! Tunggu ya, mungkin agak lama tapi saya pasti datang. Bye" ucap orang tadi menutup telfonnya tanpa konfirmasi dari ku

Mahluk macam apa ini. Maksudku apa dia tidak bertanya padaku, apa aku bersedia menunggunya atau tidak. Atau sekedar basa basi berkata " gak apa-apa kan?"
Memangnya dia siapa, jangan hanya karna dia sepupu dirga dia bisa memperlakukan aku dengan seenaknya.

Oh tidak, hari ini ada pergantian kelas pak herlambang. Aku harus mengumpulkan buku referensi yang kemarin aku beli...

ya tuhan !!! Jangan buat aku bermasalah lagi dengan dosen yang satu ini

" oke aku akan menunggunya 30 menit, kalau belum datang juga aku akan tinggal pergi"

Aku membuka log panggilan terakhir dan mencari nomor sepupu dirga,


To : 08122xxxxxxxxx

Mas, saya tunggu di halte orchard I,
Saya cuma bisa nunggu sampe jam 5 kurang ya, soalnya saya ada kuliah jam 5:30


Aku masih memandangi handphoneku, berharap ada balasan darinya, tapi sampai beberapa menit menunggu belum juga ada balasan.

" awas aja dateng terlambat, jangan salahin saya kalau situ dateng saya sudah menghilang entah kemana... hahahaha" ucapku pada handphoneku..

Ya aku sudah gila,....

Aku mengambil handsfree dan menyelipkannya diantara telingaku. Berjalan keluar kantor dan menyusuri sepanjang jalan besar menuju halte bus yang letaknya tidak jauh dari depan kantorku.

Untungnya halte masih sepi, beberapa kantor sekeliling memang menetapkan jam pulang kantor pada 5 tepat, jadi sedikit bersyukur karna aku tidak harus bersedak-desakan menunggu mobil saat pulang kerja.

Aku duduk di kursi paling ujung dan menaruh tasku didepan diapit oleh kedua tanganku. Menikmati lagu scar tissue yang selalu sukses membuatku tenang kapanpun...


Scar tissue that I wish you saw
Sarcastic mister know it all
Close your eyes and I'll kiss you 'cause
With the birds I'll share
With the birds I'll share
This lonely view
With the birds I'll share
This lonely view

Lagu ini entah apa liriknya, tak begitu berarti. Tapi lagu ini selalu mengingatkanku pada masa laluku yang indah bersama seseorang.
Ah... namanya sudah terlupakan, tapi lagu ini masih bisa ku ingat dengan jelas.

Hanya lagu ini....



Bip bip bip...

.
.
Bip bip bip...
.
.
Bip bip bip.......

" ya hallo" ucapku sambil menggosokkan mata,

" kamu dimana ?" Tanya seorang pria, mungkin sepupu dirga

" dihalte orchard I" ucapku setengah berteriak kaget melihat jam ditanganku yang telah menunjukkan pukul 5:45 sore

" mati gwe ketinggalan kelasnya pak herlambang" ucapku dalam hati,
Tapi kemudian tiba-tiba seseorang berdiri dihadapanku, aku menangkat kepalaku tinggi, siapa gerangan...

" kebiasaan kamu itu emang tidur di halte, tapi gak mau disebut tunawisma!" Ucap seorang pria yang kemarin meminjam handphoneku di halte cempaka...

Aku diam tak menanggapinya, dia kemudian duduk disebelahku. Aku mengacuhkannya dan mencoba menghubungi sepupu dirga

" apa dia sudah sampai ?" Tanyaku dalam hati...

" hallo, dimana ?" Tanyaku spontan

" disebelah kamu !" Ucapnya... aku kaget, jadi pria yang kemarin ku temui di halte itu sepupunya dirga ????????

Dunia macam apa ini.... seperti kebetulan yang sangat terencana. Atau sebuah kebetulan aneh yang menyebalkan. Tapi kebetulan model apapun aku tak peduli, yang jadi masalah Apa aku masih bisa menangih uangnya ???

Rasanya sulit.... pertama karna sepupu Dirga, kedua karna rasanya malas berurusan dengan pria macam ini, sok tau, keras kepala, cerewet, tidak tau  berterimakasih....
Dan banyak keanehan lain yang mungkin belum aku tau.

" ya..." ucapku menatapnya dengan wajah frustasi, kali ini dia tertawa kecil, senyumnya sangat manis. Terlihat gigi nya yang besar dan putih. Dia cukup manis dibalik kaca mata hitamnya yang besar, dengan rambut lebat sebahu yang terurai dan jeans robeknya sukses membuatku terheyuh beberapa saat. Penampilannya yang urakan 180 derajat berbeda dengan dirga yang selalu tampil rapih ....

" jadi kamu anandita ?" Tanya nya

" ya, saya " ucapku malas, entahlah.. aku sudah ketinggalan mata kuliah pak herlambang, ditambah hanya makan mie seharian ini

" jadi ayo kita pergi " ucapnya

" ke...." tanyaku sambil memincingkan mata kearahnya,

" toko buku kemarin" ucapnya antusias " tukar buku" dia mengangkat kantong putih yang berisi buku sambil tersenyum

" kayanya gak keuber deh, apalagi jam pulang kantor gini pasti macet parah. Jadi jangan sia-siain waktu dan tenaga ! Oke... tokonya pasti tutup !" Ucapku

" jadi anandita, selain kamu itu hobi tidur di halte, kamu juga seorang peramal yang pesimis ya ! " ucap pria tadi menatapku dengan memincingkan matanya

" eh mas sepupu... saya udah cukup sabar ya dari kemarin dengan tingkah anda ! Apa urusannya dengan anda saya mau tidur dimana, hah ?" Ucapku setengah kesal, rasanya dari kemarin pria ini benar – benar selalu membuat darah tinggiku naik meskipun aku tidak memilikinya

Pria aneh ini tertawa lebar melihat reaksiku yang spontan meledak ledak,

" oke..... oke....  Aku minta maaf ya soal kemarin dan hari ini" ucapnya

" gak perlu minta maaf, ganti saja uang buku saya, dan saya tidak akan berurusan dengan anda lagi" ucapku akhirnya mengeluarkan unek-unekku dari tadi terpendam, GANTI UANG SAYA... GANTI UANG SAYA.... GANTI UANG SAYA.....

Dia kembali tersenyum kecil,

" oke, pertama kenalin dulu, saya bukan mas sepupu. Nama saya Rezza" ucapnya mengulurkan tangannya, aku masih diam tak menanggapi. Kemudian dia menarik tangannya kembali

" dan soal ganti rugi, buku yang sudah kamu beli...."

" gak usah, harganya gak seberapa. Saya cuma minta sopan santun anda. Dimana perasaan anda, seseorang sudah membatu anda, menunggu lama untuk anda bahkan dia kehilangan beberapa jam kuliahnya yang penting dan anda mengolok-oloknya. Bahkan anda tidak mengucapkan terimakasih dan maaf" ucapku setengah berteriak, setelah kata – kata terakhir selesai terucap aku sungguh menyesalinya, kenapa aku lebih memilih permintaan maaf daripada uang....

Pria yang menyebut dirinya Rezza terdiam, tangannya ditaruh didagunya mungkin mencoba berfikir atau mencoba menebar pesona, aku tidak tau..

" jadi bagaimana kalau saya ganti dulu biaya buku ini" ucapnya...

“ terserah “ ucapku lembut, mencoba memperbaiki kesalahan kata-kataku sebelumnya sebelum terlambat

" ah.... yuk ikut saya" ucapnya sambil menarik tasku, reflek aku mengangkis tangannya

“ mau ngapain ?” tanyaku penuh curiga

“ mau transaksi disini ?” tanya rezza

“ gak masalah, emang kenapa ?” tanyaku
Tiba – tiba perutku berbunyi kencang ... “ kruyukkkk........”. aku memalingkan wajahku seolah tak terjadi apa – apa

“ Setidaknya, kita bisa ngobrol di tempat yang lebih nyaman sambil makan” ucap rezza kembali menarik tasku. Jadi aku mengikutinya, pilihan terbaik.. makan dan bayar hutang...

Sepanjang perjalanan rezza terus saja menarik tasku, bahkan saat menyebrang jalan. Sedikit aneh memang dilihat, aku sudah berusaha melepaskannya tapi dia terus memegangnya lagi. orang – orang yang kami lewati melirik dengan senyum lucu saat melihat kami bergandengan dengan cara yang aneh, meskipun aku juga tidak ingin bergandegan tangan dengannya.

Akhirnya kami berhenti di depan gerobak nasi  goreng pinggir jalan.

" mas nasi goreng 2 ya " teriak rezza kepada bapak  - bapak tukang nasi goreng yang hampir menua

" pedes gak?" Tanya rezza kepada ku, aku hanya mengangguk,

"Pedes dua ya pak “ ucapnya lagi, dia kembali menarik taskku dan duduk di meja paling ujung,

Ah, bau nasi goreng ini membuat cacing cacing diperutku bergejolak kegirangan. Aku mengusap perutku perlahan.

" jadi kamu tau nomor aku darimana ?" Tanya ku membuka pembicaraan

" dari handphone dirga" ucapnya santai sambil memainkan sendok

" dirga bilang apa ?" Tanyaku penasaran

" enggak bilang apa-apa ! Kemarin saya kerumahnya, kebetulan dia lagi ngolam trus saya tanya tanya siapa nama temen kamu yang kemarin bantu beliin buku buat saya, dia bilang anandita ?" Jelas reza

" teman ?" Ucapku penasaran

" lah, emang kalian apa ? pacaran? " tanya reza

" enggak, kita teman" ucapku,  jadi dirga tidak mengakuiku sebagai pacarnya, apa dia malu... atau mungkin dia punya alasan lain

" ini nasi gorengnya mas" ucap bapak tadi dengan senyum ramah,

" makasiihhhh" ucap rezza , dia segera menancapkan sendok yang sedaritadi dipeganya ke nasi dan menyuapnya ...

" aaass.... paanassshh" ucapnya dengan mulut terbuka yang penuh dengan nasi,

Aku tersenyum kecil melihatnya, sifatnya yang tebuka dan urakan bisa membuatku nyaman untuk orang yang baru aku kenal. Bukan hanya penampilannya yang jauh berbeda dengan dirga, sifatnya dan semuanya jauh berbeda. Dan penilaianku terhadapnya berubah setelah mengenalnya lebih dalam kurang dari 1 jam.

Bahkan belum 2 jam kita bertemu, dia sudah bercerita tentang banyak hal, tentang kucingnya dirumah, tentang rambut gondrongnya yang sering tersangkut di resleting tas, tentang banyak hal, rezza begitu terbuka dan periang. Dan aku tertular keceriaannya hanya dalam beberapa jam.

Akhirnya kami kembali ke halte tempat kami bertemu sebelumnya. Orchard I

" gak usah repot-repot nganterin, aku bisa pulang sendiri" ucapku

Rezza tertawa geli, bahkan sampai menahan perutnya yang gempal dengan tangannya

" saya kesini naik bussway, pulang juga naik bussway. Maaf udah bikin kamu sedikit kegeeran" ucapnya meledek

Aku memukulnya dengan tas ditanganku. Sungguh menyebalkan

" umur kamu berapa ?" Tanyaku

" sekitar... yah dibawah umur pak Sby" ucap reza bergurau

" serius ah" ucapku

" emang kenapa sih?" Tanyanya " saya males ngomongin umur"

" bukan, rasanya sedikit terlalu formil manggil saya untuk diri sendiri" ucapku

" trus kamu mau nya aku kamu gitu ? " ucap rezza meledek dengan intonasi berbeda

" ya setidaknya bisa pakai elo gwe" timpalku

" oke, aku kamu lebih baik. Karna elo gwe itu kaya....apa gitu" ucapnya mencari kata...

" apa" tanyaku, tapi rezza hanya mengangkat bahunya dan mencibirkan bibirnya.

Tak lama bus yang akan kami naiki datang, rezza membalikkan badanku dan mendorongku masuk ke dalam pintu bussway yang telah terbuka. Didalam bus penuh berdesakan padahal sudah hampir jam 8.  Rezza berdiri didepanku, karna ruang buss yang sempit dan penuh sesak, jarak antara aku dan dirga hanya 2 sentimeter.
Sebenarnya aku ingin membalikkan tubuhku, tapi nanti malah bagian belakangku terkena tubuhnya. Jadi ku putuskan untuk berhadapan dengannya. Dengan tas berada persis didepan dadaku. Aku baru menyadari bahwa rezza jauh lebih tinggi dari Dirga. Perawakannya besar dan gempal tapi tidak gendut. Dan bau parfumnya tercium dari tempatku berdiri. Meskipun terlihat urakan tapi dia termasuk orang yang menjaga badannya soal kebersihan terlihat dari kuku tangannya yang pendek dan rapih serta bau tubuhnya yang segar. Urakan mungkin hanya soal penampilan, bukan kepribadian.

Aku memegang gagang besi dedekat pintu yang berada di belakang pinggangnya, rasanya situasi seperti ini membuatku ingin berhenti bernafas. Tapi rezza tengah asik mendengarkan lagu dari handphonenya. Aku melirik jalanan ibu kota yang padat dengan lampu – lampu yang bersinar terang disepanjang jalan. Fikiran itu kembali lagi terngiang di kepalaku...

" jadi dirga hanya menganggapku teman ?" ucapku dalam hati, Sungguh kenyataan yang menyakitkan.

.
.
.
.
Terdengar suara pemberitahuan dari speaker kecil yang terpasang diatas pintu masuk busway, halte tujuanku  sebentar lagi sampai, ku lihat rezza masih saja asik dengan handsfreenya. Jadi aku berjalan perlahan menuju pintu keluar bersama yang lain.

Dan saat pintu terbuka aku bergegas keluar, aku melihat rezza dari halte masih mengangguk-angguk mendengarkan musik. Dia mungkin tak menyadari aku sudah tidak berada di depannya. Saat busway kembali melaju, aku melangkahkan kaki keluar dari koridor.

“Apa mungkin selama ini, dia tidak pernah benar-benar mencintaiku ???”

Ah, kenapa fikiran fikiran seperti ini selalu muncul dan mengganggu hari-hariku. Bahkan dirga belum menghubungiku semenjak sabtu kemarin.

Apa sepeti ini yang disebut orang pacaran ?
Aku bosan terus menunggunya, dan terus aku yang bertanya kabarnya. Dalam sebuah hubungan itu, butuh dua orang yang saling berkomitmen..

Kalau hanya aku yang khawatir tentang kamu...
Hanya aku yang terus bertanya kabarmu...
Hanya aku yang terus memikirkanmu
Dan sepertinya hanya aku yang mencintaimu...
Mungkin ini bukan cinta,
Atau mungkin aku telah salah memilih...
Atau aku yang bodoh terus berharap padamu...

.
.
.
Tapi cinta tak pernah salah
Dan berharap itu bukan sebuah kebodohan...

Mungkin hanya aku atau kamu yang belum berada dijalur yang seharusnya...



***
BERSAMBUNG

Ibu Rumah tangga dengan ratusan mimpi, mencoba menuangkan fikiran dikepalanya untuk sekedar berbagi dan semoga bisa saling menginspirasi


EmoticonEmoticon