Tuesday, February 14, 2017

Sebuah Nama Tanpa Cerita - Bagian Pertama

Tags

Sebuah Nama Tanpa Cerita
Apa kamu merasa jatuh cinta dengan orang yang salah ?
Apa kamu begitu mencintai seseorang tanpa alasan logis,
Bahkan saat dia menyakitimu kamu masih mencintainya
dan bahkan tidak bisa meninggalkannya ?

Apa kamu merasa masih ada sisi hati yang hampa saat kamu bersamanya ?

--------------------------------------------------------
Pertanyaan itu terus saja di lontarkan otakku, bergulir terus dari satu pertanyaan ke pertanyaan lain tanpa pernah terjawab.

Satu - satu nya hal yang masih membuatku waras adalah suara berisik lain dari luar kepala disekelilingku, pengamen, deru kenalpot motor, beberapa percakapan lambat dan lainnya, setidaknya aku masih merasa hidup didunia, bukan dalam otakku yang tak pernah berhenti bertanya.

Sejenak aku merasa menyesal curhat kepada dian tadi, pertanyaannya membuat otakku menjadi begitu berisik mengulang pertanyaannya. Damn

" oh my god .... telat nih" bergegas aku berjalan ke arah pintu tanpa sabar menunggu bus berhenti, aku sudah bersiap meloncat dari pintu saat bus yang ku tumpangi hampir didekat lampu merah

Sepanjang gerbang kampus aku terus berlari mengejar waktu, mata kuliah pak herlambang hari ini tidak boleh telat, akan ada pertunjukan memalukan lain nanti kalau sampai aku bermasalah lagi...

Aku terus berusaha mengencangkan laju kakiku, tapi rasanya aku berlari sudah dalam titik maksimal, bahkan nafasku bukan terasa di ternggorokan lagi, tapi di mulut.....
Ah.....

" apa dia benar-benar mencintaimu ?" Gerutu otakku lagi

" oh please, ya tuhan aku sudah cukup lelah berlari ... apa masih harus berlari dan fikiranku sendiri juga ?" Ucapku dalam hati

Sungguh ketidak harmonisan hubungan antara otak dan hati ini sangat merepotkan. Aku terus berlari, meskipun pertanyaan - pertanyaan itu kembali , tapi kali ini aku tak ingin memikirnya.

Membiarkan pertanyaan – pertanyaan itu menguap begitu saja berlalu dibelakangku.


***

Hulft......
Kali ini aku menghela nafas panjang sekali. Aku menyandarkan tubuhku di  kursi halte pinggir jalan sambil mengamati beberapa orang yang berlalu lalang dihadapanku. Rasanya punggungku nyaris patah dengan semua beban berat dibahuku terlebih dikepalaku yang penuh dengan banyak sekali fikiran yang tak pernah dapat terjawab dengan benar.


" permisi mba bisa geser ?" Tanya seorang lelaki, rambutnya lebat panjang sampai kebahu dengan kaca mata lebar hampir menutupi mukanya.

" oh sory" Ucapku, refleks membenahi posisi dudukku yang tadi setengah tiduran

" dirumah gak punya kasur sampai tiduran di halte ?"tanyanya dengan nada tanpa arti

" oh bukan, tadi lagi ngegaruk punggung " jawabku asal

" di kursi halte ???" Ucapnya kini dengan nada tak percaya, alisnya tampak naik melewati frame kacamatanya

“ eh,,,, itu “ ucapku bingung menyangkal pernyataanku sebelumnya

Haduh... entah apa yang harus ku katakan lagi, rasanya membela diri dengan statmen baru tidak akan membuatku lebih baik dimatanya. Tapi untuk apa membela diri dan menunjukkan sisi baikku ? Dia siapa ? Cuma orang lain yang kebetulan melihatku sedikit " merebahkan diri" di halte.

Lalu apa masalahnya ? setidaknya dia bukan tipe lelaki yang terlalu tampan untuk membuat aku gerogi

Jadi sudah sajalah...

Aku melambaikan tanganku, menghentikan angkutan bewarna biru yang sedari tadi kutunggu, dan meninggalkan pria itu dengan semua kebeodohanku.

***

Bip.....

Bip.....

Bip.....

Bipp...

Aku berlarian dari kamar mandi , bergegas mengangkat telfon yang berdering tanpa henti beberapa kali.

" ya hallo....."ucapku sedikit terengah setelah berlari

" udah sampe rumah ?" Tanya Dirga disebrang sana

“ oh ... “  jawabku refleks, aku sama sekali tidak menyangka kalau dirga yang menelfon

“ oh ?” ucap dirga penuh tanya mendengar jawabanku

“ maaf aku fikir siapa, tadi aku dari kamar mandi, denger telfon beberapa kali bunyi jadi buru – buru angkat dan gak sempet liat layar” ucapku akhirnya beralasan

“ iya “ jawabnya seolah tak perduli

.
.
Kami terdiam beberapa saat entah karna tidak ada yang bisa kami bahas atau kami memang malas membahasnya..
.
.
“ kamu udah pulang kerja ?” tanya dirga akhirnya menyudahi keheningan

" udah...." jawabku singkat

" kok males gitu jawabnya, lagi bete ya ?" Tanya nya lagi dengan nada lebih berhati –hati

" enggak kok, cuma lagi capek aja. Kamu dimana ?" tanyaku

" oh ... ini lagi dirumah lagi nonton tv" jawab dirga sedikit gugup " oke deh, kamu istirahat ya ! Love you "

" love tou too" ucap ku sambil menutup telfon

Hulft......

Sekali lagi aku dihadapkan dengan kebenaran yang ditutupi, aku yakin sebenarnya dirga ada di tempat billyard sekarang. Tapi kenapa harus berbohong ?.
Padahal suara – suara keramaian di belakangnya terdengar jelas, suara hentakan bola, suara samar – samar orang yang bercakap-cakap, suara musik...

“ apa kamu tidak bisa berbohong lebih baik ?”

Padahal aku tak pernah melarangnya pergi kemanapun, tidak pernah menuntutnya melapor untuk pergi kemanapun. Aku ingin dia menjalani hidupnya dengan apa adanya, dan aku hanya ingin menjadi bagian dari kehidupannya seutuhnya dengan jujur. Tapi tetap saja kebohongan itu tak pernah terlepas dari mulutnya...

Entah atas dasar apa, aku tidak tau.  Yang aku tau, perasaan ini selalu  kecewa saat menyangkut hal tentangnya.

Tapi hari ini sungguh sudah menjadi hari yang sangat berat jadi ku putuskan menundanya atau bahkan tidak memperkarakannya.
Dan memang selalu begitu, mungkin semua ini adalah kesalahanku juga, membiarkannya terus berfikir bahwa aku tidak tau kalau aku dibodohi.

Ah..,
Fikiran ini terus saja mengular dikepalaku, dan membentuk cabang pertanyaan baru yang tidak bisa terjawab. Sejujurnya    aku hanya ingin tidur dan mengistirahatkan otakku.

Tapi sebelumnya...

" hentakan hentakan itu terdengar jelas di telingaku,
Karna aku tidak tuli...
Tapi kau bilang itu hanya tivi

Aku tak tau kau sedang dimana
Aku tak tahu...
Tidak

Tapi aku tau apa yang kau lakukan
Aku tau dengan jelas
Jelas sekali
Kau sedang membohongiku disini

Aku diam bukan tak tau
Hanya saja aku sudah lelah,

Lelah sekali"

Post on fecebook...

Kemudian tak lama... mata ini mulai terlelap. Aku tau Dirga tak mungkin membacanya. Karna dia tak memiliki akun facebook. Aku  tau...

Tapi aku hanya ingin berkeluh kesah, meskipun entah dengan siapa.


 ***

BERSAMBUNG

Ibu Rumah tangga dengan ratusan mimpi, mencoba menuangkan fikiran dikepalanya untuk sekedar berbagi dan semoga bisa saling menginspirasi


EmoticonEmoticon