Sunday, February 26, 2017

Sebuah Nama Tanpa Cerita - Bagian Tujuh

Tags

Sebuah Nama Tanpa Cerita

Mencari arti hadirmu #2

Aku sudah memposting resume ku yang terbaru dan mengirimkannya ke beberapa lowongan lewat email. Mudah - mudahan akan ada tawaran kecil untukku. Sekedar bekerja part time...

Aku sempat berfikir bagaimana kalau aku bekerja sampingan menjadi karyawan part timer restoran di mall, kemungkinan diterima sedikit lebih besar. Kebanyakan restoran akan sangat sibuk saat weekend, dan tentu saja mungkin mereka membutuhkan karyawan tambahan. Oke.....

Tekadku sudah bulat, dimanapun dan apapun pekerjaannya demi uang tambahan aku siap. Jadi disini lah aku pada akhirnya, menjelajahi mall dengan muka tebal.

" permisi mba mau tanya" ucapku sopan kepada pelayan disebuah restoran

" ya.." ucap pelayan dengan celemek kuning di dadanya

" apa disini ada lowongan kerja part time ?" Tanyaku

" oh saya kurang tau deh, tapi kayanya gak ada" ucapnya lagi

" oke, makasih mba" ucapku sambil beranjak pergi,

Satu restoran gagal, tapi masih ada banyak restoran lain di mall ini. Dan kalaupun tidak ada satupun lowongan di mall ini ada puluhan mall lain di jakarta. Jadi aku takkan menyerah karna kegagalan di kesempatan pertama, terlebih akan ku apakan tumpukan resume yang ku buat ini, bungkus nasi ?.

Bip.....bip.......bip....

" ya hallo...  ," ucapku menjawab telfon masuk

" kamu dimana ?" Tanya dirga

" aku di mall , ada apa ?" jawabku

" enggak aku tanya aja, aku fikir kamu ada jam kuliah hari ini"

" enggak ada, aku udah jarang banget ada kuliah sabtu, kalau ada penggantian jam belajar aja. Selebihnya ya libur" ucapku

" kok gak pernah bilang ke aku ?" Tanya dirga

" ah masa, mungkin aku lagi agak sibuk akhir-akhir ini jadi lupa cerita. Maaf....."

" oh, yaudah gak apa-apa. Aku kesitu ya... tungguin!"

" mau ngapain ?" Tanyaku

" ya tunggu aja di kafe dekat lobi utama. Oke !" Ucap dirga menutup telfon sebelum aku menjawab

Hulft.....
Sepertinya pencarianku harus dihentikan dulu. Lamaran kerjaku juga sudah habis tersebar, hanya tinggal satu amplop lagi.

Aku berdiri di depan kafe, seperti dugaanku. Janji dengan dirga selalu saja membuat lututku keram karna terlalu lama menunggu. Ini hampir 2 jam berlalu.. menyebalkannnnnn...

Seseorang setengah berlari dari pintu masuk ke arahku, itu dirga.

" maaf ya aku terlambat" ucap dirga menyeringai lebar, aku menatapnya  dengan muka cemberut

" oke, aku minta maaf banget, kan cuma telat....." ucap dirga melihat jam tangannya

" dua jam " ucapku ketus sambil berjalan menjauh

Dirga mengikutiku dari belakang.. " tadi di jalan ban nya kempes, trus macet parah di tol " ucap dirga mencari alasan

" iya, setidaknya kamu kan bisa ngabarin. Aku capek berdiri nunggu kamu" ucapku

" siapa suruh berdiri, aku bilang kan tunggu di cafe"

" aku udah tunggu dikafe dan cuma pesen segelas minuman. Tapi karna kamu terlalu lama dateng dan karna aku gak enak terlalu lama duduk dengan gelas kosong di meja makanya aku keluar !" Ucapku dengan nada tinggi

" ya kamu bisa pesen lagi atau jangan minum sampai habis. " ucap dirga tak kalah tinggi

Ya tuhan... selalu saja seperti ini. Aku sudah tidak tau lagi apa yang harus dikatakan padanya. Jadi sepanjang jalan aku hanya diam, mengikuti dirga dari belakang.

" kita nonton ya" ucap dirga dengan nada lembut

" iya" jawabku malas

Dan pada akhirnya aku hanya diam  sampai dia mengantarku pulang. Bukan marah, hanya saja sedikit malas berbicara dengannya. Selalu saja ada perdebatan diantara kami. Mungkin lebih baik seperti dulu, jarang bertemu, jarang berkomunikasi, dan tak pernah bertengkar. Sekarang, lebih sering bertemu, lebih sering berkomunikasi tapi lebih banyak bertengkar. Mungkin kami sedang beradaptasi satu sama lain, mungkin.

" maafin aku ya" ucap dirga menatapku

" iya, maafin aku juga" ucapku

" lain kali, aku kabarin kamu kalau aku gak bisa dateng tepat waktu" ucap dirga mengecup keningku

Aku mengangguk dan keluar dari mobil.

" hei dirga !!" Ucap dian mengagetkanku

" hei yan, kemana aja gak pernah keliatan?" Tanya dirga santai sepertinya mereka sudah sering berkomunikasi

" ada, abis jalan ?" Tanya dian lagi,

" iya, yaudah gwe cabut ya!" Ucap dirga , dirga menatap kearahku dan melambaikan tangan “ aku pulang ya”

Aku membalas lambaian tangannya dengan senyum manis. Setelah mobil dirga menjauh aku berbalik kearah sahabatku, menatapnya dengan pandangan kesal.

" lo kemana aja sih baru keliatan" ucap dian merangkulku

" lagi banyak banget tugas sama kerjaan" ucapku sambil berjalan di lorong kos-kosan menuju kamar kami.

Meskipun sedikit sebal dengan tingkahnya yang sok akrab dengan pacarku, tapi dian tetap sahabatku. Tetap menjadi tempatku berkeluh kesah walaupun aku juga sedang kesal padanya.

“ kemaren pas gue masuk lo lagi telfon – telfonan sama siapa sih, serius banget ?” tanyaku

Dian tersentak, “ eh... itu.. sama kawan kerjaan gue” ucap dian

“ di tempat lo lagi ada lowongan kerja part time gak sih yan ?’ tanyaku

“ buat siapa ?” tanya dian

“ buat gue laaahhh” teriakku ditelinganya

“ kayanya gak ada deh dit, emang kenapa sama kerjaan lo yang sekarang ?” tanya dian heran

“ gak apa – apa gue Cuma pengen cari uang tambahan aja, sebentar lagi gue mau kelulusan pasti butuh dana yang cukup banyak “ jawabku sedikit merenung

“ oh gitu, yaudah nanti gue tanyain kawan gue yah yang kerja di restoran, barangkali aja ada” ucap dia

“ thank you cantiiiikk” ucapku sambil mencium pipinya

“ iiihhh... jijikkkkkkk” teriak dian, aku berlari ke kamarku dan meninggalkan dian dibelakang

***

 BERSAMBUNG

Ibu Rumah tangga dengan ratusan mimpi, mencoba menuangkan fikiran dikepalanya untuk sekedar berbagi dan semoga bisa saling menginspirasi


EmoticonEmoticon