Tuesday, February 07, 2017

Someones - Bagian Keempat

Tags

Someones .........
Created by : Silvie Permatasari
Bagian keempat


Hubunganku dengan raka semakin hari semakin membaik, dia meninggalkan kesan nyaman di hatiku. Dan tak seburuk dugaanku, dia bukan tipekal laki-laki genit seperti yang sempat ku fikirkan tentang pertemuan pertama kita tempo hari. Dia hanya , sedikit nervous.

Beberapa kali kita sempat lari pagi bersama, bermain bulu tangkis di taman dan pulang bersama saat dia kebetulan ada kelas pagi. Karena rumah kita bersebrangan dan arah dari kampusnya menuju rumah melewati sekolahku. Jadilah satu kebetulan untukku.

Dia seolah mengisi kekosongan hatiku dan menangkanku, karna hampir 2 minggu rendy tak juga mengabari. Di satu sisi aku sedih, entah berapa banyak pesan yang ku kirimkan untuknya tapi tak kunjung di balas. Puluhan kali telpon tapi tak pernah ada respon yang jelas.

Hari ini aku berniat menemuinya di kampus.

“ nonton yuk ?” pinta rizki

“ mau balik cepet !” jawabku

“ beresin buku lagi ?”

“ enggak mau ke kampus rendy !”
“ oh ada apa emang ?”

“ udah 2 minggu gak ada kabar !”

“ yaudah yuk balik !” ucap rizqi

Sepanjang perjalanan aku dan dia hanya terdiam, aku sendiri sibuk memikirkan hal-hal aneh yang mungkin terjadi pada rendy. Mungkin dia selingkuh dan lebih memilih wanita selingkuhannya itu , atau dia kecelakaan dan sekarang kritis. Atau apapun itu aku terlebih dulu ke kampusnya, setelah itu baru kerumahnya.

“ sampe !” ucap rizqi

“ makasih yah !” ucapku

“ mau gwe temenin ?”

“ gak usah ! nanti gwe kabarin kalo ada apa-apa !”

“ oke, ati-ati dijalan “ ucap rizqi, aku tertawa menatapnya mengetuk beberapa kali helm bulatnya

“ hati – hati dijalan yah jelek !” ucapku

“ SIAPP BOSS !” sentaknya dan berjalan menjauh.

Aku masuk dan berganti pakaian, duduk didepan didepan tv mencari program yang tepat untuk mengusir jenuhku sambil menunggu jam 2 . Tapi seolah semuanya percuma, karna walaupun didepan lacar kaca berceloteh panjang lebar fikiranku tetap entah kemana.

Rendy
Rendy
Rendy
Rendy
Aku melihat layar handphoneku tapi masih belum juga ada jawaban,

Aku menarik nafas panjang lagi, entah untuk yang keberapa kali. Akhirnya ku putuskan untuk pergi kekampusnya sekarang, bergegas naik  ke kamarku untuk mengambil jaket dan kunci mobil.
Ketika aku hendak membuka pintu , tiba-tiba raka berdiri disana.

“ ada apa penguntit “ tanyaku

“ salam yang aneh ! tapi setidaknya ada suara, aku fikir ini rumah hantu “

“ anda benar, saya kuntilanaknya” ucapku terkekeh, dia juga

“ mau ngasi ini dari mamah, tante ada kan ?” tanya raka

“ gak ada lagi ke rumah sodara di bekasi. Ada yang bisa dibantu ?” tanyaku

“ taroin ini aja deh didalem !”

“ apaan ?” tanyaku

“ dari mamah ! gak tau apaan !”

“ BOM yah “ ucapku sambil mengambil piring besar dari tangan raka dan membawanya masuk, sedangkan raka mengikutiku dari belakang.

“ piringnya mau di bawa sekarang ?” tanyaku

“ gak usah nanti aja !” ucap raka

“ oh, yaudah kalo mau dibawa sekarang aku cuciiin dulu !”

“ yaudah dibawa sekarang aja !”

“ emang pengen liat aku nyuci kan , BESOK aja bawanya” ucapku ketus

Dia tepingkal , aku berjalan kemudian menginjak kakinya.

“ sory gak liat “ ucapku berlalu

“ maaf kek apa kek !”

“ kan udah bilang sorry !” aku mengeles, “ mau pulang gak ? rumah mau dikunci nih !” tanyaku

“ emang kamu mau kemana ?”

“ keluar !”

“ oh yaudah aku pulang !”

“ makasih yah !” ucapku

Raka berbalik dan berjalan kerumahnya , aku mengunci pintu dan menaruh kuncinya dibawah karpet takut-takut kalau mamah datang lebih dahulu . aku memarkirkan mobilku dan menutup garasi rumah. Tapi ketika hendak berbalik raka sudah ada disana, berdiri didepan mobilku.

“ ada yang bisa dibantu ?” tanyaku

“ boleh numpang ke depan gak ?”

“ ngapain?”

“beli lampu, lampu di kamar aku mati !”

“ yaudah!” ucapku santai meskipun alasan yang kuterima sedikit aneh.

“ mau kemana ?” tanya raka

“  ke kampus !” jawabku singkat

“ daftar ?”

“ enggak juga “

“ terus ?”

“ ketemu seseorang “

“ siapa ?”

“ rendy !”

“ oh “

“ ya “

“ udah sampe nih , tukang elektroniknya. Pulangnya jalan kaki gak apa-apa ?” tanya ku , sempat menyesal kenapa aku bertanya begitu

“ wah jauh juga, bisa tunggu sebentar gak ?”

“ aku gak mau balik lagi kerumah !”

“ gak apa-apa aku ikut kamu dulu !”
Sebelum aku menjawab raka sudah berlari keluar, tak berapa lama dia kembali dengan sebuah bohlam ditangan tanpa pelastik.

“ gak dibungkus tuh ?”

“  biar begini aja” katanya datar
Aku tak menjawab, sepanjang perjalanan aku hanya diam, dan sepertinya raka tau kalau aku sedang tidak ingin di ganggu. Dia hanya mengotak atik beberapa CD koleksi laguku di daskboard mobil. Tidak berkomentar apapun. Hanya menggerutu sendiri tentang musiknya. Dan aku masih mengabaikannya.
Aku sampai di depan kampus rendy, melirik kanan kiri mana tempat parkirannya.

“ nyari parkir ?” tanya raka

“ iya “

“ tuh tulisannya “ ucap rakan menunjuk plang parkir berbentuk anak panah menghadap ke kanan. Aku langsung membelokkan setir ke kanan,

“ rendy itu ambil jurusan apa disini ?” tanya raka

“ hmmmmmm.. seinget aku tenik informatika” jawabku singkat

“ oh, semester berapa ?”

“ tiga “ jawabku singkat, setelah menemukan parkir aku menarik rem tanganku dan mematikan mesin mobil

“ mau ikut gak ?” tanyaku

“ aku disini aja , jagain lampu, lagian gak enaklah kamu ngobrol diuntitin” jawab raka
“ kuncinya aku tinggal sini yah! Mau aku nyalain biar ac nya jalan ?” tanyaku

“ gak usah matiin aja ,”

“ aku tinggal bentar yah ! “ ucapku

Raka hanya mengangguk, kemudian aku berkeliling kampus, mencari rendy – seharusnya hari ini dia ada kelas dan bubar sekitar jam setengah empat. Lima belas menit lagi.

“  permisi mas, mau tanya kalo kelas anak-anak informatika sebelah mana yah !” tanyaku pada salah seorang mahasiswa disana

“ wah kalo kelasnya gak tau ! tapi gedungnya sebelah sana ! nanti cari aja”

“ oke makasih !”

Aku berjalan menyusuri koridor koridor kelas seperti rumah sakit yang panjang. Dan sampai ke gedung di sudut kampus berwarna biru muda.

“permisi mas, kenal sama rendy gak ?” tanyaku

“ anak apa ?”

“ teknik informatika semester tiga “

“ oh saya gak kenal, tapi hari ini lagi ada kelas diujung lorong, belok kiri, tanya aja lab komputer III”

“ oke, makasih yah mas!”

Aku kembali menyusuri jalanan, mencari ruangan bertuliskan lab komputer III. Ujung lorong belok kanan. Mataku terus saja menatap ke kanan kiri. Dan sampai akhirnya di depan ruangan lab komputer III. Ruangannya tertutup rapat dan tak ada jendela, jadi aku mencoba untuk mengetuknya. Tapi tiba-tiba pintu berwarna abu-abu itu terbuka dan berhamburlah orang-orang dari dalam. Aku bertubrukan dan berusaha minggir mencari tempat yang aman.

Dengan mata awas aku mencari rendy. Tak berapa lama aku melihatnya sedang mengobrol bersama wanita.
“ rendy “ teriakku, dan hampir seluruh orang-orang yang keluar menatapku. Termasuk rendy, aku 
melihatnya membisikkan sesuatu ke wanita disampingnya kemudian dia berjalan mendekat ke arahku dan wanita itu berjalan keluar bersama lainnya kearah yang berlawanan.

“ kamu ngapain disini ?” tanya rendy sedikit kaget

“ nyari kamu !” ucapku polos, rendy menarikku jauh dari ruangan lab, kearah yang bersebrangan dari kerumunan teman-temannya tadi

“ kamu kemana aja ? sms gak dibales telpon gak diangkat”

“ handphone aku rusak” jawab rendy datar, kami berhenti di taman kecil dibelakang lab

“ terus emang gak bisa ngabarin pake hp siapa gitu ? atau kerumah aku ?” tanyaku

“ nanti aku jelasin, aku masih ada kelas nih ! kamu kesini naik apa ?” tanya rendi

“ bawa mobil” jawabku singkat

“ ayu aku anter ke parkiran “ ucapnya sambil menarikku menuju parkiran. Sesampainya di parkiran dia melihat kanan kiri mencari mobilku, dan berjalan ke arah sana.

Dia sedikit terperangah melihat raka yang berada dalam mobilku, sedangkan raka terlihat santai menatapnya.

“ siapa ?” tanya rendy

“ tetangga aku, kebetulan satu arah “

“ kok gak bilang aku ?”

“ gimana mau bilang, berapa kali aku sms kamu telpon gak dijawab ?” ucapku emosi, rendy menarik tanganku menuju kursi kemudi membukakan pintu untukku dan mendorongku masuk

“ nanti sore pulang kuliah aku kerumah !” ucap rendy, mengecup keningku kemudian menutup pintu. 
Dari dalam mobil aku melihatnya berlarian menuju gedung yang sama saat aku bertemu dengannya.

Aku menarik nafasku dalam-dalam kemudian menyandarkan kepalaku, memejamkan mataku dan mencoba menenagkan diri.

“ mau gantian nyetir ?” kata raka mengagetkanku,  aku membuka mata.
Aku hanya mengangguk , kemudian raka keluar dari mobil sedangkan aku hanya bergeser melewati rem tangan ke tempat duduk raka sebelumnya. Perlahan mobil keluar dari parkiran, selama perjalanan aku hanya terdiam. Beberapa kali raka sempat mengutarakan sesuatu tapi selalu tertahan, entah dengan alasan apa.
Aku baru sadar saat mobil sudah terparkir di garasi rumah. Raka memegang pundakku.

“ mau aku temenin sebentar ?” tanya raka

 “ enggak usah !” ucapku sambil keluar, raka memberikanku kunci mobil dan menungguku masuk.
  Sedangkan aku dengan rasa malas masuk, dan merebahkan tubuhku dikamar. Mamah mengikutiku 
dari belakang. Dan masuk dengan segelas mocca hangat yang ditaruh disamping tempat tidurku.

“ lagi bad mood !” tanya mamah

“ iya “

“ kenapa “ tanya mamah

“ rendy “

“ yaudah gak usah difikirin ! mamah liat kamu tadi sama raka yah ? dari mana ?”

“ beli lampu !” jawabku

“ tapi mamah liat dia gak bawa apa-apa tuh !” ucap mamah

“ gak tau, lagi males mikir”

“ tadi rizqi kesini cariin kamu “

“ trus dia kemana ?”

“ pulang lah, gak lama setelah bantu mamah beres2”

“ beres-beres apa ?”

“ tadi dari bekasi mamah bawa kue !”                                                                              

“ pasti deh tuh anak bantuin makan, bukan bantuin beresin “
Kami tertawa lebar bersama membayangkan bagaimana rizqi makan,

“ telpon sana, kabarin kalo kamu udah pulang ! barang kali ada yang penting !” ucap mamah

“ besok juga ketemu disekolah mah !”

“ kamu tuh ! minum mocca nya dulu” ucap mamah menyodorkanku segelas mocca

“ mamah itu adalah mamah terbaik sepanjang masa “ ucapku

“ngerayu !” ucap mamah meninggalkanku setelah menyeruput kopi mocca aku buru-buru menghetikan mamah yang hendak keluar

“ mah, kue banyak mau diapain ?”

“ gak tau, nanti mamah bagi ke bu lestari aja paling”

“ aku yang kasih !”

“ tumben kamu, kemaren males-malesan sama tetangga samping”

“ ada deh mau tau aja ! aku yang kasih yah pokoknya!” ucapku sedikit ngotot

“ mau ketemu raka kan ?” ucap mamah

“ enggak kok, tadi bu lestari kesini dan anterin kue buat mamah. Trus piringnya belum aku anterin “ ucapku

“ bu lestari apa mas raka ?” ledek mamah

“ raka deh” ucapku

“ ketauan kan” ucap mamah terkekeh , aku menatapnya dengan bibir monyong “iya nanti mamah ambilin” ucap mamah sambil tersenyum

Aku keluar dari balkon kamarku, dan menatap rumah raka. Kamarnya masih redup, apa dia sudah tidur. Tapi tiba-tiba aku teringat kata-kata mamah.
Aku bergegas turun menghampiri mamah,
“ mana kuehnya ?” tanyaku

“ nih !” ucap mamah sambil memberikan satu kantong plastik berisi beberapa toples kecil kue kering

“ aku kasih sekarang yah !” ucapku langsung berlari keluar, sedangkan mamah entah menggerutu apa dari dalam. Aku kegarasi melihat mobil ku dan mengintipnya, ternyata benar, lampu milik raka masih tertinggal dimobil. Aku mencari kunci disaku celanaku tapi tak kutemukan, akhirnya aku berlari kekamar mengambil kunci dan kembali ke garasi.
Setelah aku mendapatkan lampunya aku berjalan ke rumah raka, baru pertama kali aku menginjakkan 

kakiku dirumah nya. Memang sama, tapi terasa berbeda.
Aku memencet bel beberapa kali, menunggu seseorang membukakan pintu. Aku harap raka.

“ ya selamat malam” tanya seorang ibu

“ malam bu lestari, saya ....”

“ riska anaknya bu nina” ucap bu lestari tertawa menyambutku hangat, aku tersenyum

“ ini dari mamah !” ucapku sembari memberikan kueh kering yang tadi ku bawa

“ oh mari masuk ! gak usah repot – repot ka, nanti juga ibu main kerumahmu”

“ gak apa-apa bu, aku sekalian mau ketemu raka” ucapku polos

“ oh raka, dia ada dikamarnya! Masuk aja!”

“ enggak bu disini aja, “ ucapku malu – malu

“ enggak apa – apa masuk aja, temen- temennya raka juga maennya di kamar kok !”

“ oh saya Cuma mau anterin lampu nya raka bu “

Tante lestari tertawa kemudian mengantarkanku naik ke lantai 2, aku mengikutinya dari belakang. Dia mengetuk pintu kamar bertuliskan “ DARK LIVE”. Tak ada suara dari kamar,

“ tante tinggal yah ! lagi masak soalnya ! jangan sungkan anggap rumah sendiri” ucap ibu lestari meninggalkanku,

Aku mengetuk lagi pintu kamar raka, tapi tak ada jawaban. Jadi aku membuka nya, sesuai dengan tulisan didepan pintunya. Kamarnya memang gelap.

“ mah .......... “ teriak raka entah dari mana tapi dari dalam kamar pastinya

“ aku riska “ ucapku parau, tak ada jawaban tapi tiba-tiba suara bedebam orang jatuh, kemudian suara pintu terbuka, dilanjutkan suara pintu tertutup, beberapa umpatan kecil dan suara bedebam terakhir. Sampai akhirnya raka berada didepan ku, suasananya masih gelap.

“ aku bawain lampu “ ucapku datar

“ makasih, itu yang aku butuhin saat ini” ucap raka, tak berapa lama ada secercah cahaya kecil dari senter. Raka menggenggam tanganku cepat dan menuntunku ke tengah.

“ jangan berfikiran macam-macam, aku Cuma minta tolong pegangin kursi, aku gak nyampe buat pasang lampu “ ucap raka menjawab pertanyaan dikepalaku.
Aku berdiri disitu, beberapa lama pupilku sudah terbiasa ditempat gelap. Aku bisa melihat tempat tidurnya dan poster-poster yang hampir menutupi seluruh dinding kamarnya.

“pegangin yah !” ucap raka, aku tak menjawab hanya menjalankan perintahnya, raka kemudian naik dan memberikanku bohlam lama
“ mana  yang baru ?” tanya raka

“ sebentar” ucapku sambil membuka bungkus lampu dan memberikan kepadanya.
Dalam hitungan detik seluruh ruangan kamar jadi terang benderang, raka turun dari kursi dengan sigap. Sedangkan aku masih terpaku masih membiasakan pupil mataku dengan cahaya.

“ kamu gak apa-apa ?” tanya raka

“ mata aku lagi loading, lama nih prosesnya “ ucapku, raka tertawa dan mengelus rambutku.
Saat mataku benar-benar sudah terbiasa, aku terbelalak takjub. Kamar raka, penuh dengan foto – foto indah, lukisan dan karikatur.

“ keren ?” ucapku takjub

“ dasar anak kecil ! kaya gini aja dianggep keren !” ucap raka

“ WOW “ucapku melihat satu persatu

“ itu judulnya rain “ ucap raka ketika aku melihat foto hujan dari langit, bulir2 hujan terlihat jelas aku benar-benar seperti menatap langit disaat hujan.

“ itu judulnya side” ucap raka

“ Sisi .....” ucapku menatap seorang wanita cantik sedang sedih, bahkan aku sangat merasakan 
kesedihannya

“ itu ..............pa...”

“ adikku “ ucap raka memotong kata-kataku

“ oh “ ucapku lega
Raka duduk di meja belajarnya mengamati kekagumanku yang sedang mengamati karya karyanya.

“ oh ya, tadi pas pertama kali aku masuk kamu lagi ngapain sih ? Berisik banget suaranya ? maen drum ?” tanyaku meskipun aku tau tak ada drum dikamarnya
Raka tertawa pelan “ pake baju, tadi aku Cuma pake kolor doang, pas aku tau itu kamu aku buru-buru buka lemari baju tapi pas lagi jalan kesangkut selimut . ya begitulah bunyinya – kurang  lebih” ucap raka sambil malu-malu

“ ah, aku fikir km lagi ngapain “ ucapku sambil tertawab“ oke deh aku mau pulang “ ucapku tiba-tiba berbalik dan menatapnya. Kami tertawa, dan raka mengantarkanku turun, aku pamit kepada ibu lestari dan raka mengantarkanku sampai depan pintu rumahku. KONYOL

“ kapan – kapan mau kan jadi objek fotoku ?” tanya raka

“ dengan senang hati, tapi harus janji hasilnya bagus !” ucapku

“ JANJI BATMAN “ ucap raka sambil memegang dadanya

“ GILA “ ucapku, kami tertawa bersama

“ NIGHT “ ucapku menutup pintu


Setelah pintu tertutup, aku mencoba memejamkan mataku, rendy ternyata tak datang. Dia mengingkari janjinya.

***

BERSAMBUNG
Cerita ditulis oleh : Silvie Permatasari

Ibu Rumah tangga dengan ratusan mimpi, mencoba menuangkan fikiran dikepalanya untuk sekedar berbagi dan semoga bisa saling menginspirasi


EmoticonEmoticon