Sunday, February 05, 2017

someones - Bagian ketiga

Tags

Someones .........
Created by : Silvie Permatasari
Bagian ketiga


Aku membuka mataku , entah mengapa hari senin menjadi satu monster yang menakutkan untukku. Jalanan macet, Upacara dan seragam putih-putih. Aku menari nafas panjang untuk mengumpulkan tenaga dan bersiap-siap.

Benar – benar malas hari ini –
Setelah siap aku turun dan mengambil bekal makananku di meja makan, pamit dan keluar rumah. Seperti biasanya rizki sudah berada tepat di garasi depan rumahku, dia dan motor uniknya selalu menemaniku 6 hari dalam seminggu berangkat kesekolah.

“ telat 5 menit “ ucapnya

“ maaf, tadi PUP nya keras – jadi lamaan dikit !” ucapku sedikit malas, kemudian naik kebelakang motor vespa mininya, dan kami mulai menyusuri jalanan menuju sekolah

“ mau gwe beliin buah ?” tanya rizki

“ dari tadi diem Cuma buat mikirin begituan ?! bener-bener gak penting deh qi !” celotehku

“ kalo biar lancar buah apa yah ?” tanyanya lagi tanpa menggubris kata-kataku sebelumnya

“ durian !” jawabku malas

“ bukannya pepaya yah !” timpal rizqi polos

“ heem pepaya !”

“ oke !” jawa rizqi spontan

“ dasar sarap !” jawabku ketus, rizqi hanya terkikih, suranya tak terdengar tapi bahunya naik turun dengan cepat.

Sesampainya di sekolah aku turun di pintu gerbang, sedangkan rizki berputar mencari parkiran motornya dibelakang kantin. Aku sedikit berlari-lari kecil karna upacara sudah dimulai. Dan bergabung dengan teman-teman yang lain yang mulai padat dilapangan.

“ rizki mana ka ?” tanya dian

“ ada lagi parkirin motor ! pagi – pagi udah kangen aja !” ledekku
Dia terkekeh kemudian mencubit perutku, tak lama rizki datang dan berkumpul dengan barisan dibelakangku dan  dian.

“ hey “ sapa rizki sambil menepuk bahuku, tapi tak lupa senyumnya bergulir ke dian

“ macet tadi ?” tanya dian tepesona melihat rizki, aku memutar bola mataku dan kembali menghadap 
sang saka merah putih yang siap dikibarkan

“ iya tuh, riska lama banget PUPnya !” ledek rizki

“ bisa gak kalian ngobrol berdua tanpa bawa-bawa pihak ketiga sebagai bantalan obrolan !” kataku ketus tanpa menoleh kepada mereka. Mereka hanya terkikik menyebalkan.

***

Aku membuka makan siangku, lapar lapar lapar lapar lapar lapar. Hari ini menunya nasi goreng spesial,  dengan telur setengah matang diatas yang meleleh keluar ditampah sosis goreng dan saus sambal . Nikmat ! mamah selalu tau apa yang ku mau.

Sendokan pertama masuk dengan mulus, sendok berikutnya sampai kesendok dimana pengacau datang.

“ makan apa ? “ tanya rizki

“ nasi goreng ! lho udah makan ?” tanyaku

“ udah mie ayam di kantin !”

“ seneng banget sih makan begituan , gak sehat tau ! lagian nanti sakit lagi !”

“ mulai deh anak mamah nyeramahin !” ucap rizki malas

“ ih dibilangin yang baik juga ! terserah deh !” ucapku
Rizki hanya tersenyum kemudian membuka mulutnya lebar-lebar. Aku hanya tersenyum kecil, dan menyuapinya sesendok nasi goreng lengkap dengan telur dan sosis.

“ nih gwe beliin pepaya !” ucapnya dengan mulut penuh dengan nasi

“ kenapa gak durian !” tanyaku

“ nanti kalo pupnya udah lancar !” jawabnya santai, kemudian membuka mulutnya lagi. Aku pun menyuapi nya lagi

“ harus banyak makan makanan yang berserat tau gak !” ceramahnya dengan mulut penuh nasi

“ iya !” jawabku singkat , kemudian membuka bungkus pepaya yang merah matang. Rizqi beralih memegang kotak makanku dan menyuapinya perlahan. Saat kotak makanku sudah menyentuh meja dia berbalik mengambil botol air mineral dan meminumnya, sedangkan aku masih santai mengunyah pepaya merah yang manis.

“ nah gitu dong ! harus banyak makan buah !” kata rizqi

“ I have no choice !” jawabku singkat

“ gak lah, bukan Cuma pepaya yang bagus, cukup makanan  berserat kaya sayur, dan buah-buahan”
“ gwe tau tapi maksudnya bukan gitu !”

“ trus ?” tanya rizqi heran

“ mie ayam dikantin seporsi berapa ?” tanyaku

“ lima ribu, kenapa ? mau beli ? aduh katanya lagi susah pup gimana sih!” gerutu rizqi

“ enggak Cuma mau nanya aja !” ucapku santai sambil menguyah pepaya, rizqi membereskan tempat makanku

“ dapetnya banyak gak ?”

“ apanya ? ya dapetnya seporsi riska” jawab rizqi mulai jengkel

“ seporsinya semana jelek !” tanyaku menghabiskan potongan terakhir pepaya

“ satu mangkok, isinya mie satu genggam !”

“ oh okelah kalo gitu ! terjawab !” ucapku santai sambil menaruh bungkus pepaya ke plastik hitam

“ apa nya yang terjawab ?” tanya rizqi terheran - heran

“ terjawab apa alasan lho ngabisin makan siang gwe tanpa konfirmasi ! nih buangin sampahnya” ucapku beranjak bangun dan memberikan kantong plastik hitam kepadanya. Rizqi hanya terkekeh.  
Menyebalkan sekali.

***

Aku bergegas keluar dari halaman sekolah, dengan sedikit jengkel. Sejak jam 12 tadi aku melpon rendy berkali –kali tapi tak dijawab, bahkan tak ada satupun balasan untuk puluhan pesanku. Aku menahan kesal, padahal hari ini dia janji mengatarkanku ke toko buku. Menyabalkan

“ masih marah soal nasi goreng yang dimakan tanpa konfirmasi ?” tanya rizqi

“ enggak kok ! dari dulu juga gitu !”

“ terus kenapa gak mau bareng gwe ?” tanyanya

“ lho ditungguin dian tuh di dalem !”

“ lho mau kemana ?”

“ ke toko buku bareng rendy !”

“ oh yaudah kalo gitu, gwe masuk yah ! tadi dian dimana ?” tanya rizqi

“ perpus !” jawabku singkat

“ ati- ati “

“ sip”

Aku menarik nafasku panjang, sebenarnya aku tidak marah. Tapi rizqi menjadi alasan terakhir kenapa moodku semakin bertambah buruk. Tak lama aku melihat rizqi dan dian berboncengan.

“ belum di jemput ka ?” tanya dian yang telah berada di kursi penumpang motor rizqi

“ iya,” jawabku ramah

“ kita duluan gak apa-apa ?”

“ gak apa-apa, bentar lagi juga dateng, ati-ati dijalan yah”  ucapku sambil melambaikan tangan, tapi rizqi tak menatapku dia terus berbicara dengan anak laki-laki dari kelas ips1 , bahkan sampai motor itu bergulir, dia tak menatapku.

Sejak kecil rizqi itu memang suka ngambek. Ucapku menenangkan hatiku yang sedikit merasa bersalah atas sikapku yang ketus kepada rizqi.

Beberapa menit berlalu, gerbang sekolah sudah mulai sepi. Rendy belum juga ada kabar, jadi aku putuskan untuk pulang ke rumah dan ke toko buku sendiri sore nanti. Tapi tiba-tiba sebuah motor ninja merah berhenti persis didepan ku. Aku mundur beranjak menjauh. Dan pengendara ninja itu membuka helmnya. Itu raka

“ mau pulang ?” tanya nya

 “ hey, “ sapaku singkat

“ mau pulang ?” tanyanya

“ enggak, aku masih ada urusan !” jawabku

“ oh, mau bareng gak ?” tanyanya

“ enggak usah naik angkot aja !”

“ angkot lagi pada demo kenaikan BBM jadi gak ada yang beroprasi !”

“ ah masa ! ngibul nih !” ledekku

“ berani taruhan ? kita tunggu 15 menit kalo ada angkot apapun lewat, aku pulang ! kalo gak ada kamu aku anterin pulang ?” tanyanya

“ deal !” jawabku setuju, entah mengapa – tapi apapun alasan dia melakukan itu aku tetap secara tidak lansung mengizinkan dia bersama denganku setidaknya untuk beberapa menit. Dia turun dari motornya dan berdiri tepat disampingku, menarik jaket hitamnya dan menunjukkan jam ke arahku.

“ sampai jarum panjang di angka 8 yah !” ucapnya

“ sip ! aku yakin menang !” jawabku

“ aku yakin kamu minta boncengin aku !” ucap raka terkikih

“ dari mana ?” tanyaku mengalihkan pembicaraan

“ dari kampus !”

“ oh kuliah semester berapa ?”

“ baru semester 5 !!”

“ ambil jurusan apa ?”

“ desain grafis “ jawabnya singkat

“ keren !!!” jawabku dengan mata berkaca kagum

“ keren apanya ?” tanya raka

“ keren aja, aku kan pecinta seni, jadi aku kagum sama orang-orang pembuat seni !”

“ LIMA MENIT – AYO PULANG !” ucap raka tiba-tiba
Kami saling menatap dan tertawa

“ ngaku kalah deh !” ucapku mengakui

“ mau langsung pulang atau mau kemana kamu ?”

“ gak apa-apa pulang aja deh !” jawabku, raka menurunkan pedal motornya dan aku naik dengan bantuan.

“ rencana awalnya mau kemana ?”

“ toko buku !”

“ mau dianter ?” tanya raka

“ gak usah ! kita pulang aja” ucapkku

Dan kami berbicara banyak sepanjang perjalanan pulang, raka tak seperti yang ku bayangkan sebelumnya. Aku fikir pria tampan itu selalu dingin dan gombal, tapi normalnya raka memiliki pribadi yang unik dan menarik. Kami memiliki banyak kesamaan, entah sengaja di samakan atau memang demikian . tapi dia salah seorang dari sedikit orang yang bisa klik saat ngobrol .

“ makasih yah !” ucapku saat sampai dirumah


“ sama sama !” ucapnya, aku berbalik dan masuk ke rumahku, saat aku hendak menutup pintu dia juga melakukan hal yang sama , dia menatapku kemudian melambaikan tangannya. Aku tersipu dan menutup pintu tanpa membalas.

***

BERSAMBUNG
Ditulis oleh : Silvie Permatasari

Ibu Rumah tangga dengan ratusan mimpi, mencoba menuangkan fikiran dikepalanya untuk sekedar berbagi dan semoga bisa saling menginspirasi

1 komentar so far

ehhhhhhhhhhhhmmmmm........... Buruan kelanjutanya.......


EmoticonEmoticon