Friday, March 10, 2017

Sebuah Nama Tanpa Cerita - Bagian Dua Belas

Tags

Sebuah Nama Tanpa Cerita


Alarm sudah berkoar sejak 10 Menit yang lalu, tepat di jam 5:20 Pagi. Tapi rasanya badanku terlalu berat untuk kuangkat dari kasurku yang nyaman. Rasanya baru dua hari menjalani dua pekerjaan sekaligus tapi badanku sudah terasa remuk.

" SEMANGAT NANDITAAAA" teriakku menyemangati diri sendiri tapi masih dalam posisi tidur dan mata terpejam

" SEMANGATTTTT !!" Teriakku lagi berusaha membuka mata

Rasanya aneh memang, mulutku sudah bisa berteriak lantang, fikiranku sudah mulai bekerja tapi mata dan seluruh tubuh masih terlelap seolah tak mendengar apa -apa

Tok... tok..tok...

" ditttt......" suara dian memanggil dari balik pintu

" ya....." teriakku , bersusah payah bangun dari tempat tidur dan membuka pintu

" heiii... kemana aja sih lo jarang keliatan" tanya dian yang langsung nyerecos saat pintu dibuka bahkan tanpa dipersilahkan dia sudah masuk dan duduk di sofa kecil dekat tempat tidur

" pulang kerja gue ambil kerja parttimer di cafe temen gwe" jawabku, aku berjalan ke kamar mandi dan melakukan yang harus ku lakukan

“ oh udah kerja, padahal tadinya mau kasih info soal lowongan kerja yang tempo hari gue ceritain” ucap dian

“ oh, iya sory gue belum sempet cerita, seminggu ini gue sibuk banget. Berangkat pagi pulang malem, sabtu minggu juga kerja” ucapku

" eh.....lo boker ya ? Gak ada suaranya sih. Jijikkkk..." teriak dian

" gue lagi ganti bajuuuuu nyiiii" teriakku

Dian tertawa yang mendengar nada suaraku sedikit kesal.

" yaudah, gue cabut dulu. Gue juga mau siap-siap kerja. Nanti bbm ya dit, ada yang mau gue omongin" ucap dian

" soal apaan ?" Tanyaku penasaran

" udah nanti aja kalau lo ada waktu senggang, biar enak buat ngobrol" ucap dian

Kemudian terdengar suara pintu ditutup.

Jam 6 aku sudah berdiri di halte depan tempat kosku, menunggu mobil angkot. Aku membuka handphone ku, mengecek beberapa notifikasi yang muncul di layar depan tapi tak ada satupun dari dirga.

Dirga kemana ya ? Apa dia juga sedang sibuk ?

To: Dirga
Selamat pagi...
Beib,kayanya handphone aku rusak deh,

Kok beberapa hari ini gak ada bbm, WA, sms atau telepon dari kamu  ya ?
Atau mba mba operatornya lupa kali ya ngirimin pesan kamu ke aku ?
Hehehe

Miss you so much


Tak berapa lama angkot yang kutunggu akhirnya datang juga, segera aku memasukkan handphone dan bergegas menyetop angkot berwarna biru itu.

Selama perjalanan aku berkali -kali mengecek handphoneku, menunggu balasan dari dirga. Tapi sudah sampai kantor pun belum ada balasan darinya. Ternyata bukan aku saja yang sibuk disini. Mungkin dirga juga sedang sibuk sekarang. Tapi apa seberapa sibuknya sampai dia tak memiliki waktu untuk membuka pesan dan membalasnya ?.
Selalu saja ada hal yang membuatku resah dengan dirga, sikapnya yang terkadang suka menghilang tiba tiba seperti ini, berbohong atau kadang bersikap terlalu baik padaku membuat aku curiga. Tapi aku tak bisa menemukan apapun untuk membuatku percaya, seolah semuanya hanya asumsi fikiranku dan kondisinya yang  sering tidak menguntungkan bagi hubungan kami. Hari ini  kembali kutenggelamkan diriku dengan semua pekerjaanku yang tak pernah habis. Dengan tumpukan kertas dan stampel, dan mencoba sedikit melupakan kerinduanku pada dirga.


***

Hari hariku berjalan dengan sangat cepat akhir - akhir ini. Aku bahkan merasa tidak memiliki cukup waktu untuk menarik nafas panjang dengan tenang seperti biasanya.
Sudah hampir satu minggu aku melakukan dua pekerjaan sekaligus ditambah kuliah tentu saja. Ini seperti sebuah kerja rodi di era modern. Senin sampai jumat nonstop 19 Jam sehari, 6 pagi sampai 12 malam. Dan hari sabtu minggu rasanya tak jauh berbeda.

Terkadang aku merasa rindu suasana senja. Sesekali ingin rasanya aku duduk berlama-lama di halte sambil menunggu angkutanku tiba , sedikit bersandar dengan handsfree ditelinga sambil memainkan beberapa musik favoritku. Bahkan hal sesederhana itu sudah menjadi hal yang sulit dilakukan.

Aku berdiri didekat Kantor bertuliskan "Bag. Keuangan", menghadap ke sebuar papan besar berusaha mencari jadwal UASku diantara puluhan stiker dan kertas yang ditempel disana sini.
Benar saja, sabtu ini jadi hari terakhir matakuliahku.

" hei dit, emang ada matkul hari ini ?" Tanya rian teman sekelasku

" enggak, mau liat jadwal UAS sama registrasi . Lo sendiri ngapain disini ?" Tanyaku, rian masih asik dengan handphone nya yang tak berhenti berdering

" iya gwe mau.... itu ..." ucapnya sambil tetap mengetik pesan di handphonenya

" mau jemput cewe lo" ucapku berjalan ke arah tempat duduk disisi tangga

" iya..." rian mengikutiku dari belakang. Anak ini benar benar seperti kerbau yang dicocok hidungnya

Aku diam, memberikannya waktu untuk dia menyelesaikan percakapan penting dengan pacarnya itu. Tapi hampir 5 menit dia masih saja berdiri dan berkutik dengan handphonenya. Menyebalkan...

" lo masih ada urusan sama gwe ?? Kalau gak gwe mau cabut nih !!" Tanyaku

" iya, tunggu sebentar kek lagi urgent ini " kata rian

Hulft.....

" oke " kata rian akhirnya, setelah hampir 15 menit membuatku menunggu dan memelototinya

" udah kelar belum ?" Tanyaku

" udah udah..." ucap rian, dia kemudian duduk disampingku. Tas punggungnya ditarik kedepan dan ditaruh diatas pangkuannya  kemudian mengobrak abrik isi tasnya mencoba mencari sesuatu.

" ini Makalah bu sandra, kemarin dibagiin cuma lo kayanya udah pulang duluan ! " ucap rian sambil memberikan map plastik biru dengan kertas bertumpuk didalamnya

" ini kisi -kisi ?" Tanyaku

" ya begitu deh katanya, setidaknya lo gak usah baca buku paket yang naujubillah tebelnya kan !" Ucap rian

" tapi kayanya ini gak jauh beda deh !" Gerutuku sambil melihat tumpukan kertas yang rian berikan

" ya itu sekitar 20 persennya lah" ucap rian sambil menirukan gaya bicara bu sandra, kami tertawa.

" makasih ya, lo emang sahabat gue!" Ucapku merangkul bahunya, rian buru-buru melepaskan tanganku

Aku terpingkal melihat kelakuannya akhir akhir ini. Semenjak berpacaran dengan risa anak akutansi dia semakin ketakutan bedekatan dengan wanita, termasuk aku.

" segitu posesifnya ?" Tanyaku sambil senyum senyum

" ah, gak tau deh. Nanti kalau ke Gap urusan begini aja jadi panjang" ucap rian

"  bilang lo sama gue itu udah temenan dari SMP. Hampir sembilan tahun kan . Masa gue masih aja dicemburuin ?" Ucapku pada rian

" ya , udah gue bilang tapi gak taulah cewek mah aneh aneh aja alesannya, bahkan kadang gak masuk akal" ucap rian sambil menutup resleting tasnya

" gue kalau emang doyan sama mahluk ubluk ubluk kaya looo, udah dari dulu gue telen. Sayang aja gak selera, apalagi sekarang udah tuaaa!" Ledekku pada rian

Rian tak menjawab, dia bangun dan membanting tasnya ke arahku sampai aku tersudut di tembok

" anakkkk siaaaalaaannnnn" teriakku pada rian yang berlari menjauh

Hulft, benar benar temanku yang satu ini. Aku meraba bibirku yang sedikit linu terkena tas .

"Tunggu pembalasanku ya riaaannnnn" ucapku dalam hati

Bip....
Biipp
Bippp
Tiba -tiba  handphoneku berbunyi,

Aku menarik handphone dari kantong bajuku dan mengeceknya.

-----------REZZA CALLING-----------------

Aku terdiam beberapa saat, ada perasaan  ragu untuk mengangkatnya, entah kenapa. Padahal aku juga sebenarnya penasaran, Sejak aku bekerja di cafenya,  dia menghilang dan tidak pernah datang ke coffe table, sudah  seminggu.

" ya hallo... " ucapku

" dimana dit?" Tanya rezza

" dikampus, kenapa mas ?" Tanyaku

" mas ?" Tanya rezza heran aku memanggilnya begitu

" atau pak boss ?" Tanyaku lagi

" ooooo...." ucap rezza di sebrang sana sepertinya mulai mengerti mengapa aku memanggilnya seperti itu

" ada apa ?" Tanyaku lagi

" kamu dimana ?" Tanya rezza lagi

" di kampus !" Jawabku

" gak ke Counter ?" 

" iya ini baru mau jalan kesana, tadi abis ngecek jadwal UAS !" Ucapku

" Oke !" Ucap rezza kemudian mematikan telpon.

Hulft... kenapa laki-laki jaman sekarang menyebalkan ya. Tidak ada prikemanusiaannya sedikitpun terhadap wanita. Sekedar bilang " oke sampe ketemu di counter" kan tidak membuat derajatnya turun kan ????

Aku bergegas ke counter dengan menggunakan busway didepan kampusku. Untungnya meskipun jarak antara kampus dan counter cukup jauh tapi bersyukur masih ada busway yang mengarah kesana, aku hanya perlu transit di beberapa tempat jadi sedikit menghemat pengeluaranku. Tidak sampai 1 jam aku sudah berada didepan coffe table.

Aku segera masuk dan berganti pakaian kerjaku, beberapa hari disini aku sudah mulai terbiasa meskipun awalnya sedikit malu dan canggung sekarang aku sudah bisa tersenyum dengan ramah dan percaya diri pada pelanggan.

" gimana kerjaan disini ?" Tanya rezza mengagetkanku

" hei, mas bikin kaget aja" ucapku, rezza duduk di bangku putar sebelahku, sedangkan aku masih berdiri menghadap pintu masuk bersiaga kalau ada pengunjung

" jadi ?" Tanya rezza lagi

" ya lumayan lah" jawabku singkat

" kok lumayan ?" Tanya rezza lagi

" trus maunya apa ?" Aku balik bertanya

Sebenarnya aku lebih suka beristirahat dirumah daripada harus bekerja lagi setelah bekerja, itu rasanya sangat melelahkan dan pria satu ini bertanya soal perasaanku ? Bukankah "lumayan" adalah kata yang lebih dari cukup untuk memanipulasi semua kelelahanku. Lantas dia berharap aku berkata apa ???

" hoiii, kok malah bengong" tanya rezza

" ya, asik kerja disini. Temen -temen disini jg bisa mengerti aku partimer yang punya pekerjaannya lain sebelumnya. Jadi mereka gak menuntut aku datang sebelum jam ku" ucapku akhirnya

" oh syukur deh kalau kamu merasa nyaman" ucap rezza

" iya mas.." ucapku

Kami terdiam sesaat

" ini...." ucap rezza menyodorkan name tagku

" akhirnya....." ucapku bersyukur mendapatkan pin name tag

" jadi, masa mos sudah berakhir " ucap rezza

" iya, untung MOS disini gak perlu nguncir rambut pake tali plastik ya" ucapku

" kata siapa ?" Tanya rezza sedikit tegas " besok kamu pake tali kapal ya buat iket rambut"

Kami tertawa bersama,  begitu menyenangkan saat berbicara dengannya.

" kok baru dateng mas, abis darimana ?" Tanyaku

" oh, iya iya aku lupa bilang. Aku ada acara keluarga kemarin di luar kota. Jadi gak bisa datang ke Counter" ucap rezza

Apa mungkin rezza juga pergi bersama dirga, karna dirga juga beberapa hari ini menghilang. Tapi aku juga masih ragu apa benar rezza sepupu dirga. Dari keterangan dirga tentang sepupunya sangat berbeda jauh dari profil rezza.

" dirga juga ikut ?" Tanya ku memberanikan diri, mencoba memecahkan teka-teki

" iyalah jelas, anak itu paling merajalela kalau udah soal liburan. Dia juga bawa......" ucap rezza terpotong

" customer customer...." teriak rezza kemudian
Jadi aku berlari ke arah pintu masuk dan menyapa mereka.

" selamat malam, mau pesan apa ?" Tanyaku sambil menyodorkan menu, aku menengok ke arah rezza, dia sudah tidak ada ditempat dia duduk sebelumnya

" Cappuciono ice satu ya mba, kamu apa ?" Tanya wanita itu kepada seorang pria dihadapannya, mungkin pacarnya

" black coffe aja mba" jawab pria itu

" ada lagi tambahannya mba ?" Tanyaku lagi

" udah itu aja dulu" ucap wanita berambut coklat sambil memberikan buku menu

" ditunggu sebentar ya. Terimakasih" ucapku sambil berlalu memberikan nota pesanan kepada rya.

Aku bersandar di meja bartender. Menunggu pesanan untuk diantarkan. Dari tempatku berdiri terlihat jelas rezza yang sedang duduk di ruangannya, karna bagian samping kantornya terbuat dari kaca yang hanya diberi stiker blur untuk menyamarkan pandangan.

Aku belum bisa menjawab pertanyaan ku sendiri, tapi kalau aku bertanya kepada salah satu dari mereka. Aku takut malah menjadi boomerang untuk diriku sendiri.

Tapi, sebenarnya bukan masalah yang besar juga kalaupun rezza bukan sepupu dirga. Toh hutang budinya sudah dibayarkan dengan mempekerjakan ku disini. Hulft.... teka teki yang ingin kupecahkan walaupun seperti nya tidak berguna.

Setelah jam kerja selesai seperti biasa aku menunggu teman lain selesai dengan pekerjaannya. Rezza sudah lebih dulu pulang mungkin karna  lampu di ruangannya sudah mati. Hari ini mba vina cuti, jadi aku menunggu bus sendirian malam ini.

Aku berjalan menuju tangga menuju koridor utama bus, disini suasananya juga cukup sepi hanya ada beberapa orang yang berada di koridor. Aku berdiri di dekat pintu. Dari kejauhan ku lihat rezza berjalan mendekat dengan senyumnya yang khas.

“ kok pulang duluan gak nungguin aku ?” tanya rezza “ padahal aku juga kan pakai busway”

“ aku fikir mas udah pulang !” ucapku membalas senyumnya

“ iya sebenernya aku udah pergi dari cafe tapi belum pulang, tadi ketemu temen masih disekitar sini. Eh pas aku balik lagi udah tutup” ucap reza

“ untung kamu masih ada disini “ ucap rezza “ aku bersyukur banget”

“ bersyukur gimana ?” tanyaku, mulai curiga

“ ya, tadi aku pergi keburu – buru. Pas balik lagi udah tutup” ucap reza

“ dan....” ucapku padanya, aku yakin ada perkataannya yang belum terucap

“ dan dompet aku ketinggalan didalem!” ucap reza menyeringai lebar

“ ampun, kenapa gak buru – buru telfon upi mas” tanyaku

“ udah aku telfon, Cuma gak diangkat. Mungkin masih dijalan jadi gak kedengeran” ucap rezza

“ trus gimana ?” tanyaku “ mau pinjem uang ?” tanyaku sedikit ragu meskipun sebenarnya aku enggan karna hanya ada tinggal beberapa lembar sampai gajian

“ gak usah, di kartu busway kamu masih ada saldonya kan ?” tanya rezza

“ masih” ucapku

“ aku pinjem kartu busway kamu aja, besok aku balikin “ ucapnya

“ oke “ ucapku tanpa berfikir panjang

“ lah tadi bisa masuk kesini gimana ?” tanyaku

“ aku nebeng sama mas – mas yang keluar, trus aku kasih cash” ucap reza

“ ITU PUNYA DUIT “ Teriakku

“ ya ampun itu nemu dikantong, kembalian beli pulsa” ucap reza
Kami tertawa bersama. Tak lama bus yang kami naiki datang. Rezza melangkah duluan dan mengulurkan tangannya. Petugas busway yang berada disisi pintu tertawa melihat tingkahnya, mungkin rezza telah mengambil alih tugasnya. Aku meraih tangannya dan menuju kekursi penumpang yang berada ditengah. Malam ini busnya cukup sepi jadi kami bisa mendapatkan tempat duduk bersebelahan.

Padahal  ini malam minggu, aku berharap Dirga bisa meluangkan waktunya untuk menjemputku. Entah apa yang sedang dilakukannya saat ini. Apa dia tidak merindukanku ?.



***
BERSAMBUNG

Ibu Rumah tangga dengan ratusan mimpi, mencoba menuangkan fikiran dikepalanya untuk sekedar berbagi dan semoga bisa saling menginspirasi


EmoticonEmoticon