Tuesday, March 14, 2017

Sebuah Nama Tanpa Cerita - Bagian Empat Belas

Tags


Sebuah Nama Tanpa Cerita
Sejak tadi alarmku berbunyi, sebelum aku membuka mata tapi rasanya enggan beranjak mematikannya. Meskipun berisik tapi tidak seberisik fikiran – fikiran yang terus menggulir dikepalaku, tentang dirga.

Rasanya semalam seperti sebuah mimpi buruk, tapi kalaupun iya kenapa air mata ini tak bisa berhenti mengalir meskipun jutaan kali aku yakinkan kalau aku sedang bermimpi.

Kenapa dia memberiku kesempatan dan perlakuan yang manis kalau akhirnya aku harus dicampakkannya juga,

Kenapa dia harus mengulurkan tangannya dan membawaku dalam kehidupannya sementara dia tau bahwa aku tak pernah pantas mendampinginya,

Kenapa dia membiarkan aku terlalu lama dalam kebodohan ini ?

Kenapa ?


Tok... tok... tok..
Seseorang mengetuk pintuku,
“ masuk “ teriakku, itu mungkin dian aku segera menyeka air mataku

“ gak kerja ?” tanya dian

“ enggak kayanya gue gak enak badan. Kecapean kali ya” ucapku

“ abis nangis ?” tanya dian

“ enggak, ini flu, jadi idung meler, mata panas” ucapku mencari alasan. Dian menaruh tangannya di dahiku

“ enggak panas tapi” ucapnya

“ emang gak demam, Cuma capek sama flu” ucapku “ ada apa ?” tanyaku

“ sebenernya gue mau cerita sesuatu tapi lo lagi sakit, lain kali aja” ucap dian

“ gak apa – apa cerita aja. Belum tentu gue ada waktu lain kali” aku mencoba meyakinkannya. Tidak ada yang lebih menyakitkan dari kata-kata dirga semalam

“ sebelumnya gue minta maaf sama lo. Mungkin akhir – akhir ini lo liat gue akrab sama dirga. Gue tau lo risih dan curiga maaf ya” ucap dian

“ iya gak apa-apa. Gue percaya sama lo kok, lo gak mungkin ngehianatin gue” ucapku

“ lo jangan kaget ya. Gue punya temen, dia anak orang kaya dan satu kampus sama gue dia cerita kalau dia punya pacar namanya bayu” ucap dian

“ loh kok jauh banget jadinya melencengnya” tanyaku heran

“ dengerin dulu” ucap dian

“ iya, namanya temen kadang curhat ya. Sampe satu hari dia ngasih tau foto cowonya itu, dan gue liat itu Dirga” ucap dian

“ trus “ tanyaku

“ lo gak kaget ? “ tanya dian

“ terusin dulu ceritanya baru gue kaget” ucapku

“ Ya gue cari tau lah kebenarannya, ternyata bener itu dirga namanya BAYU DIRGANTARA. Mungkin dia dipanggil bayu sama kawan gue dan dipanggil dirga sama lo. Tapi mereka adalah orang yang sama. Pas gue tanya – tanya sejak kapan dia pacaran katanya udah lama, hampir 1 tahun berartikan duluan dia daripada elo” ucap dian

“ iya gue mungkin jadi perusak hubungan orang” ucapku

“ kok lo gak kaget sih?” tanya dian

“ terusin ceritanya “ ucapku

“ dan katanya, mereka mau tunangan bulan ini karna kan emang kawan gue itu udah lulus, tinggal wisuda. Orang tua mereka rekan bisnis gitu, jadi ya gitu deh mungkin biar bisa ngebesarin usahanya atau apa” ucap dian

“ lo kan sama – sama di posisi temennya cewek itu dan gue. Menurut lo gue jahat gak ?” tanyaku pada dian

“ enggaklah, lo korban. Lo juga gak tau kan kalau dirga punya cewek. Gue juga gak tau makanya gue berusaha deketin dia buat mastiin kebenarannya maksa dia jujur tapi malah gue ditembak !” ucap dian bingung

Aku tertawa terbahak – bahak mendengar cerita dian.

“ kok lo ketawa sih, kenapa ? lo gak sedih ? lo stress ya denger beginian ?” tanya dian

“ enggak.. enggak” ucapku menyeka air mataku “ semalem gue ketemu dirga sama cewe, mungkin itu temen lo. Awalnya gue fikir gue mungkin gak dipilih karna gue gak lebih cantik, gak lebih kaya, atau apalah . gue sedih bahkan hampir mati kenapa gue begini, kenapa bukan gue yang dipilih. Tapi setelah ngedenger cerita lo, gue bersyukur putus sama dia”

“ jadi lo udah putus ?” tanya dian

“ udahlah, masa mau lanjutin setelah gue liat dia semalem berduaan sama cewek lain”

“ kenapa sekarang bersyukur ?” tanya dian

“ udah hubungan satu tahun sama ceweknya sekarang aja bisa ngedeketin gue bilang sayang. Sekarang udah mau tunangan, abis mutusin gue, bilang sayang sama cewek model kaya lo. Dia itu buta atau emang hobi mainin semua jenis cewek sih. Termasuk cewek jadi – jadian kaya lo” ucapku sambil terbahak

“ eh sialaaannn loo, gue emang jelek. Tapi cewek beneran. KURANG AJAR” ucapnya tapi dian memelukku

“ gue bersyukur putus sama dia, entah gimana kalau mimpi gue buat nikah sama dia terwujud. Diselingkuhin terus kali hidupnya ya” ucapku

“ iya gue bersyukur juga” ucap dian

“ tapi gue kasian sama ceweknya yang sekarang, semoga dia termasuk orang yang kuat ya” ucapku

“ amient.” Ucap dian

“ yaudah minggir, gue mau mandi” ucapku

“ lah mau kemana ?” tanya dian

“ mau kerja. Gak pantes hidup gue yang berharga disia –siain cuma buat meratapi kesedihan hanya karna playboy cap bangke tikus” ucapku meninggalkan dian yang masih duduk dikasurku

Kejujuran memang lebih baik daripada kebohongan yang manis sekalipun. Aku berusaha menguatkan diriku, dengan sisa sisa harapan yang aku miliki. Kalau saja Dirga tak pernah memberikanku perlakuan yang sama, putus darinya tidak akan terlalu begitu menyakitkan untukku. Apa dia tidak pernah berfikir bahwa usahanya untuk membuatku sebanding dengan tunangannya itu akan semakin membuatku sakit saat aku dibuang nanti ?.

Entah apa yang ada difikiran dirga saat itu, saat pertama kali dia menyatakan cintanya padaku. Mungkin jenuh dengan pasangannya ? dan mencari pelampiasannya padaku dan mungkin pada wanita lain. Tapi sejauh apapun dia berusaha berpaling , dia akan kembali lagi pada wanita itu. Aku dan mungkin wanita lain yang dijadikannya sebagai pelarian akan menjadi sangat tersiksa, terombang ambing diantara perasaannya sendiri, rasa bersalah dan kekecewaan diwaktu yang bersamaan.
Jelas tunangannya sangat cantik, dan mungkin itu salah satu alasan dirga tak bisa melepaskannya. Dan kaya, tentu saya itu menjadi alasan lain bagi dirga , karna akan sangat mudah baginya diterima dikeluarga besar Dirga. Dan rentetan nilai plus lainnya yang semakin membuat dirga tak mungkin dan tak dapat melepaskannya hanya karna wanita sepertiku.

“ selamanya akan dia dan selalu dia” ucap dirga waktu itu, dan aku mengerti sekarang mengapa selalu wanita itu yang menjadi pilihan. Bahkan tak pernah ada namaku sekalipun.

Aku bergegas keluar dari kamar mandi, dian sudah tak berada dikamarku. Jadi aku keluar dengan membawa tasku dan setengah berlari menuju ke halte depan kos – kosan.

Aku sampai di kantor sekitar jam 10. Dijalan tadi aku sudah menghubungi pak warman dan mas eko kalau aku ada urusan keluarga hari ini dan izin masuk siang. Mungkin cutiku akan dipotong setengah hari dengan percuma, tapi lebih baik untukku melakukan banyak kegiatan daripada harus berdiam diri di kosan dan terus memikirkan hal yang malah membuatku semakin frustasi.

***
Hari ini entah kenapa tiba-tiba dosenku berhalangan hadir , biasanya aku kegirangan mendengar berita seperti ini. Entah kenapa aku sedih sekarang, lebih baik memusingkan pelajaran dari pada harus terjebak dengan fikiran yang terus menerus.

Aku menyandarkan diriku dihalte bus depan kampus, berfikir tempat mana  yang harus kudatangi setidaknya untuk mengembalikan moodku. Tiba – tiba terfikir rezza...

Aku memencet nomornya
“ hallo “ ucap rezza disebrang sana

“ dimana ?” tanyaku

“ di luar “ ucap rezza

“ gak ke counter ?” tanyaku

“ gak ada kamu !” ucap rezza merayu

“ lagi bete nih mas, bisa temenin gak. Tapi aku lagi butuh temen bukan boss” ucapku, rezza tertawa terbahak disana

“ kamu dimana ?” tanya rezza

“ dihalte pertama kali kamu ngeliat aku sebagai tunawisma” ucapku

“ kampus ?”

“ iya “

“ yaudah tunggu yah, aku gak jauh dari tempat kamu kok. See you”  ucap rezza menutup telfonnya

Aku menyumpal telinganku dengan hansfree dan memainkan beberapa musik, berharap bisa memulihkan moodku atau setidaknya membuatku sedikit bersemangat. Tak lama mobil rezza berhenti didepan halte bus, rupanya benar dia sedang berada tidak jauh dari sini.

“ gak ada matkul hari ini ?” tanya rezza

“ ada tapi dosennya gak masuk. Jadi kosong deh” ucapku

“ bukannya pulang istirahat. Emang gak capek kerja rodi setiap hari, ada waktu istirahat mendingan pulang” ucap rezza

“ ya maunya gitu, Cuma aku lagi banyak fikiran. Kalau pulangpun gak akan bisa tidur tapi kefikiran masalah ini terus”

“ masalah apa sih ?” tanya rezza “ sampe segitunya

“ apa ya, banyak banget masalah yang tiba – tiba kefikiran ini itu... aku juga bingung” ucapku

aku diam sepanjang perjalanan, aku juga tidak tau entah kemana mobilnya melaju, aku hanya bersandar di kaca mobil dan menatap jalanan kosong. Rezza pun sepertinya mengerti dengan kondisiku saat ini , jadi dia lebih banyak diam dan memberikanku ruang untuk sendiri. Kami berhenti di sebuah pantai di jakarta utara, aku baru sadar saat kami berhenti di parkiran dekat dermaga.

Rezza keluar dan membukakan pintu untukku, aku berjalan mengikutinya dari belakang sampai dia duduk ditembok pembatas yang membentang di sepanjang pantai.

“ tunggu disini ya aku mau beli minuman” ucap rezza,
aku hanya mengangguk dan mencoba duduk. Reza tau sepertinya  kalau aku butuh tempat yang nyaman dan tenang untuk membereskan fikiranku. Dan suara deburan ombak malam, sukses membuatku merasa lebih nyaman. Meskipun hawa disini cukup dingin.

Rezza kembali dengan dua cup kopi di tangannya, dan menyodorkan salah satunya kepadaku.

“ makasih “ ucapku sambil mengambil kopi dari tangannya, kopi ditanganku sedikit menghangatkan

“ jadi, kalau kamu mau cerita aku bersedia mendengarkan” ucap rezza

“ apa ya, aku juga bingung” ucapku ragu

Kami terdiam cukup lama, mencoba mencari bahasan yang tepat mungin atau memang sedang menikmati suasana.
.
.
.
.

“ kamu punya kakak ?” tanya rezza

“ ya , aku punya satu. Cewek “ jawabku

“ pasti seneng rasanya punya kakak!” ucap rezza

“ gak juga, kakak itu super cerewet dan nyebelin” ucapku

“ tapi kamu sayang kan walaupun begitu ?” tanya rezza lagi

“ iyalah, walaupun cerewetnya tingkat dewa sekalipun, dia tetep kakaku dan aku pasti sayang. Kalau kamu ?” tanyaku

“ aku anak tunggal waktu mamah masih hidup, dan tetap menjadi anak tunggal sampai mamah meninggal” ucap rezza, aku mengelus bahunya sepertinya rezza sama sepertiku, merasakan kehilangan orang yang paling disayang

“ aku kelas 5 SD waktu papah menikah lagi, sejak menikah memang mamah tiri aku gak pernah sekalipun bersikap kasar. Dia ngerawat dan ngebesarin aku seperti anaknya sendiri dengan tulus. Dan saat Bayu lahir rasanya aku bahagia akhirnya aku punya saudara , punya temen main, punya temen bertukar cerita. “ ucap rezza

“ bayu itu dirga ?” tanyaku
“ iya, dulu dirga itu dipanggil bayu, karna namanya BAYU DIRGANTARA dan aku REZZA ARYA DIRGANTARA. Sejak lulus kuliah entah kenapa mamah tiriku mulai terobsesi menjadikan bayu sebagai penerus utama perusahaan papah. Jadi saat aku tau aku mengalah dan pergi keluar kota” ucap rezza

“ papah kamu ?” tanyaku

“ selalu mendukung keinginan mamah tiriku, terlebih dilihatnya aku kurang berminat bisnis keluarga dan lebih memilih menjalani hidup seperti ini, seseuai dengan keinginanku sendiri”

“ apa itu masalah buat kamu ?” tanyaku

“ enggak, aku masih bisa hidup sendiri . membangung bisnisku sendiri, cafe tempat kamu kerja, itu asli punyaku tanpa bantuan orang tua sedikitpun. “ ucap rezza

“ wah berarti kamu bohong ya dulu” ucapku memukul bahunya, rezza hanya menyeringai geli

“ aku Cuma mau, mamahku dan bayu menyayangiku seperti dulu, mengabaikan bahwa aku calon utama pewaris dan penerus perusahaan papah. Aku berusaha membuktikan itu ke mereka, bahwa aku tidak butuh semua itu, tapi mungkin mereka salah mengerti.” Ucap rezza “ kalau keluarga kamu gimana ?” tanya rezza

“ 1 tahun sejak papah meninggal mamah memutuskan untuk menikah lagi dengan papah tiriku yang sekarang. Keputusannya sulit diterima dengan akal sehatku. Mamah bukan lagi anak muda, anaknya pun sudah cukup besar, mamah juga memiliki beberapa perusahaan warisan dari papah, mamah seharusnya bisa hidup sendiri tanpa harus bergantung dengan lelaki lain yang belum tentu lebih baik dari papah. Beberapa bulan setelah mamah menikah aku memutuskan untuk keluar rumah karna memang udah gak sanggup ngeliat drama percintaan mereka setiap hari. Sedangkan kakak dia memilih tinggal dirumah untuk menjaga mamah. Tapi sepertinya kakakku memiliki pemikiran yang sama dengan mamah, dia ikut bahagia dengan keputusan mamah menikah lagi”

“ kakak kamu benar, kita hidup membutuhkan orang lain untuk berbagi suka, duka, bersandar. Meskipun mamah kamu cukup materi tapi hatinya kosong. Sedangkan anaknya belum tentu memiliki waktu yang cukup untuk dia” ucap rezza

Aku terdiam, ya... mungkin selama ini aku yang salah menilai. Padahal mamah bahagia dengan keputusannya dan papah tiriku tak pernah ku dengar menyakiti mamah.

“ kemarin aku ketemu dirga” ucapku “ dia sama cewek”

“ oh, mungkin itu nabilla” ucap rezza santai

“ kamu kenal ?” tanyaku

“ ya, mereka pacaran udah cukup lama dan udah sempet dikenalin ke keluarga. Dan kalau gak ada halangan, dua bulan lagi mereka tunangan” ucap rezza

“ oh baguslah, aku ikut seneng” ucapku

“ ya mereka pasangan serasi. Ayah nabila salah seorang investor besar diperusahaan papah. Jadi selain menjalin hubungan percintaaan mungkin juga ada hubungan bisnis didalamnya. Apapun itu mereka berdua menjalani hubungan tanpa paksaan jadi ya.... beruntunglah keduanya” ucap rezza

“ ya, mereka beruntung” ucapku lagi

“ kenapa sih ?” tanya rezza heran dengan ekspresiku

“ sebenarnya pacarnya dirga, dan baru semalam putus waktu tau ternyata dirga udah punya cewek lain bahkan itu tunangannya”

“ apa ????????” teriak rezza tidak percaya

“ tapi gimana bisa, maksud aku dirga hampir setiap hari antar jemput nabilla gimana bisa dia ngebagi waktunya buat kamu” ucap rezza

“ ya, dirga memang gak pernah ngebagi waktunya buat aku kok” ucap ku “ aku juga gak tau kalau dirga udah punya pacar atau akan tunangan dalam waktu dekat. Satu sisi aku marah saat aku tau kalau bukan Cuma aku orang yang ada di hidupnya tapi setelah aku tau kalau aku jadi benalu dalam hubungan mereka, aku juga malu dan merasa bersalah.” Ucapku, mataku berkaca –kaca air mataku hampir tumpah tapi ku tahan.

Rezza diam, mungkin dia juga bingung apa yang harus dikatakannya. Dan aku juga tidak ingin mendengar sebuah pembelaan atas kondisiku saat ini. Setidaknya dengan bercerita kepada seseorang aku berharap beban ini terasa lebih ringan.

“ aku tau, kamu bukan tipe cewek perusak hubungan orang. Dirga memang terkadang kelewatan dan memang terkenal playboy sejak SMA dulu. Tapi seharusnya saat dia beranjak ke jenjang yang lebih serius dia bisa mengontrol diri. Nanti biar ku tegur” ucap rezza

“ jangan” ucapku buru –buru memotong kata-katanya “ biarin aja, aku gak mau dirga tau kalau aku kenal kamu” ucapku

“ mau nangis disini “ tanya rezza sambil menunjuk bahunya yang lebar

“ enggak makasih” ucapku

“ eh, jangan salah ini bisa bergerak loooh” ucap rezza kemudian menggoyangkan otot dadanya yang terlihat naik turun

Aku menggelengkan kepalaku, “ gak mau itu” ucapku

“ trus apa ?” tanya rezza

“ ini aja” ucapku sambil menunjuk perutnya yang gempal

“ ini ?” tanya rezza lagi

“ iya, buat samsak boleh gak. Aku pukulin sampe puas” ucapku

“ NO ! soalnya aku belum asuransiin perut buncit aku yang seksi ini. Kalau terjadi apa-apa gimana ?” ucap rezza  dengan raut wajah memelas

Kami berdua tertawa terbahak. Senang rasanya rezza bisa berada disampingku saat ini. Setidaknya aku bisa tertawa lepas dan merasa nyaman, walaupun kesedihanku tetap bersemayam disana.


***

 BERSAMBUNG


Ibu Rumah tangga dengan ratusan mimpi, mencoba menuangkan fikiran dikepalanya untuk sekedar berbagi dan semoga bisa saling menginspirasi


EmoticonEmoticon