Thursday, March 16, 2017

Sebuah Nama Tanpa Cerita - Bagian Lima Belas

Tags

Sebuah Nama Tanpa Cerita
Rezza selalu ada saat aku membutuhkannya, dia selalu menjadi orang yang  mengukit tawa di bibirku. Menjadi orang yang mengembalikan senyumku yang dulu sebelum aku mengenal dirga.

Meskipun aku terus saja dimanjakan oleh perhatian dan kasih sayangnya tapi belum pernah sekalipun dia mengucapkan sayang padaku, atau menggenggam tanganku, atau mencium ku padahal aku sangat mengharapkannya.
Mungkin keputusannya untuk mendekatiku perlahan karna takut kalau luka yang dirga berikan padaku akan menyakitiku kembali saat rezza mengungkapkan perasaannya. Tapi dia tidak tau , bahwa aku lah yang sangat mengharapkannya..

Entah ini sebuah pelarian perasaan atau aku benar – benar mulai menyukainya, tapi saat berada didekatnya  aku merasa nyaman, saat berada didekatnya aku menjadi diriku apa adanya.

Jadi kuputuskan menunggunya, sampai aku dan dia benar – benar siap menjalani hubungan yang baru tanpa bayang-bayang siapapun.

Kali ini rezza kembali mengantarku pulang bekerja dari Coffe Table, ya karna memang kami bekerja ditempat yang sama.

“ kamu gak mau pulang kerumah kamu?” tanya rezza,  kami cukup santai membaha hal – hal yang cukup privasi diantara kami sekarang sejak kejadian di pantai tempo hari

“ mau, tapi aku bingung gimana cara memulainya. Rasanya malu kalau aku tiba – tiba pulang kerumah. Apalagi sebentar lagi aku lulus, malah dikira aku gak mampu membiayai hidupa ku sendiri” ucapku

“ trus mau sampai kapan begini ?” tanyanya

“ gak tau” ucapku santai

“ kasihan mamah kamu, mungkin  setiap hari selalu mikirin kamu” ucap rezza “ kapan terakhir kali ketemu ?” tanya nya lagi

“ sejak aku keluar dari rumah, aku gak pernah ketemu mamah” jawabku , ada perasaan bersalah yang menyeruak di dadaku

“ sebaiknya kamu ketemu dulu deh. Pasti mamah kamu ngajak kamu pulang, dan disitu mungkin kamu bisa pulang tanpa harus mempertaruhkan ego kamu yang berharga itu” ucap rezza sedikit menyindir

“ ya, nanti aku coba fikirin” ucapku menyudahi pembicaraan karna kami sudah sampai didepan kosanku.

“ oke, selamat istirahat ya” ucap rezza sambil melambaikan tangannya

“ sama –sama. Hati – hati dijalan” ucapku , sambil melambaikan tangan menatap rezza yang berlalu pergi

***
“ dit keluar yuk” ucap rezza tiba-tiba menelfonku

“keluar kemana mas ?” tanyaku malas, aku baru saja sampai dirumah setelah seharian bekerja merapihkan berkas- berkas lama bagian GA

“ kamu lagi mau kemana ?” tanya rezza bersemangat

“ MAU TIDUUURRR, CAPEKKK!” Teriakku

“ ihh, jangan gitu dong. Yaudah makan aja deh, kamu belum makan kan?” tanya rezza lagi

“ belum” jawabku singkat

“ oke setengah jam lagi aku kesitu ya, kamu siap – siap aja” ucap rezza mematikan telfonnya

Hulft, sifat menyebalkan rezza memang tidak serta merta menghilang begitu saja meskipun akhir-akhir ini dia seperti malaikat penolongku. Aku segera beranjak bangun dari tempat tidur menuju kamar mandi untuk mencuci mukaku agar terlihat sedikit lebih segar. Dan duduk didepan lemari memilih pakaian mana yang akan ku pakai.
.
.
.
10 menit berlalu....
.
.
.
Rasanya baru kali ini aku bingung memilih pakaian untuk diriku sendiri. Padahal selama ini aku tidak pernah mempermasalahkan memakai baju apa.

Sebelum aku sempat menemukan baju yang sesuai, rezza sudah kembali menelfonku sepertinya dia sudah berada didepan kosanku. Akhirnya aku mengambil dress selutut yang sudah lama tak pernah kupakai.

Setelah memoles mukaku sedikit, aku berlari keluar menghampiri rezza. Rezza sudah berdiri bersandar di mobil putihnya yang besar, sambil memainkan handphonya dan tersenyum – senyum geli. Saat aku menghampirinya, dia masih saja asyik bermain dengan handphonenya.

“ DOOR” teriakku mengagetkannya yang tidak menyadari keberadaanku

“ ihhh.. lama banget . buruan naik” ucap rezza, aku berlari ke arah berlawanan dan masuk ke mobilnya yang nyaman

“ tumben ngajak keluar tiba-tiba. Ada apaan nih ?” tanyaku

“ aku lagi seneng, dan mau berbagi kebahagiaan buat kamu. Mau makan apa nih kita ?” tanya rezza

“ apa yah, aku juga bingung. Nasi goreng ?” tanyaku

“ kali ini kita makan direstoran mahal .” ucap rezza

“ alah, nanti ujungnya diajak ke tukang pecel lele” ucapku sambil tersenyum meliriknya. Dia mengelus rambutku perlahan.

Kami tertawa besama, “ serius kali ini kita makan makanan enak dan mahal” ucap rezza.  Sepanjang perjalanan rezza terus saja tersenyum dan bercerita tentang banyak hal konyol yang membuatku tertawa terpingkal. Apapun yang membuat rezza bahagia hari ini, aku pun ikut merasakan energi kebahagiaannya. Dan aku bahagia berada disampingnya.

Kami berhenti disebuah restoran mewah, untung saja aku memutuskan menggunakan dress ini, kalau saja aku menggunakan jeans bututku dan kemeja seperti biasanya, mungkin aku sudah berlari keluar sebelum sempat menginjakkan kaki kedalam. Hari ini rezza pun sedikit berbeda dari biasanya.

“ potong rambut ?” tanyaku pada rezza yang tampil beda hari ini, rambut gondrongnya dipangkas habis menjadi potongan tentara. Kacamatanya entah ditanggalkan kemana sehingga aku bisa melihat matanya yang berwarna coklat muda dengan jelas. Tapi jengkot didagunya tetap dibiarkannya memenuhi wajahnya, hanya dipangkas tipis.  Sungguh hari ini rezza membuat jantungku berdetak saat aku melihatnya jelas didepan mataku

“ iya, mau ganti suasana aja. Kemaren lagi suntuk, kayanya penampilan ikut suntuk” ucap rezza

seorang pelayan datang pada kami membawa buku menu yang cukup besar, kali ini kuserahkan pada rezza urusan makanan untuk naga diperutku.

“ kamu lagi bahagia banget kayanya “ tanyaku

“ iya dong, BAHAGIAAAAAA BANGET “ Ucapnya sambil memegang tanganku “ aku mau ngomong sesuatu tapi abis kita makan”

“ ngomong apaan sih ?” tanyaku penasaran

“ NANTI HABIS KITA MAKAN”

Entah apa yang akan dikatakan rezza padaku, tapi apapun itu aku bahagia melihat rezza seperti ini. Senyumnya menularkan kebagaiaan padaku. Aku tidak  menyegerakan makanku, malah memperlambatnya membiarkan diriku menatap rezza yang baru lebih lama. Entah, mengapa selama ini dia menyembunyikan dirinya yang sesungguhnya dengan tampilan yang urakan.

Rezza hampir menghabiskan makanan penutupnya, sedangkan aku sudah tidak sanggup lagi menampung seluruh makanan ini.

“ jadi apa yang mau kamu omongin ?” tanyaku pada rezza

“ tunggu, tunggu ini bagian yang paling aku suka” ucap rezza sambil menyendok coklat dan lelehan keju kedalam mulutnya

Aku menunggunya sampai menyelesaikan bagian yang katanya dia suka.

“ oke “ ucap rezza sambil mengelap mulutnya dengan serbet

“ aku mau bilang sesuatu ke kamu tapi dengan syarat, satu kamu gak boleh kaget, 2 kamu gak boleh nolak, 3 apapun yang terjadi kita harus tetap begini, maksud aku jangan ada yang berubah” ucap rezza

Aku terdiam, apa rezza ingin mengungkapkan perasaannya padaku ? fikirku dalam hati.
Apa mungkin rezza juga memiliki perasaan yang sama sepertiku ?
Apa mungkin rezza sudah siap menjalani hubungan denganku tanpa bayang-bayang  siapapun ?
Tapi apa aku siap ?
apa ini cinta ? tanyaku pada diri sendiri. Bahkan sebelum rezza menanyakannya padaku.

“ dit, aku mau jujur sama kamu tentang satu hal” ucap rezza

Tiba – tiba handphone rezza berbunyi,

“ ish apalagi sih,” ucap rezza menggerutu kesal, diambilnya handphone yang sejak tadi ditaruh di sisi kanannya.

“ sebentar ya “ ucap rezza beranjak pergi menjauh dari meja tempat kami duduk.

Aku masih saja memegangi dadaku, takut kalau jangtungku copot menerima semua ini. Takut kalau aku bahkan tidak bisa mengungkapkan perasaanku sendiri pada rezza.

Tak lama rezza kembali dengan raut wajah yang sedikit bingung.

“ dit, aku ada urusan mendadak . kamu pulang sendiri gak apa-apa ?” tanya rezza

“ Emang ada apa ?” tanyaku khawatir

“ nanti aku ceritain semuanya, termasuk tentang yang mau aku bilang ke kamu hari ini. Oke !” ucap rezza  “ maaf ya, kamu hati – hati dijalan”

Rezza, sempat menaruh uang di nampan bill kami termasuk uang tips untuk pelayananya. Dan aku beranjak keluar dengan perasaan kecewa karna rezza gagal mengungkapkan perasaannya hari ini.

***

“ hallo “ ucapku

“ ya kenapa de “ ucap kakaku

“ ada dimana kak ? aku mau ketemu” tanyaku

“ dikantor, yaudah nanti pulang kerja kakak ke kosan kamu ya” ucap kak melinda

“ gak usah, ketemuan diluar aja” ucapku
                                                             
“ oke, nanti pulang kerja kakak kabarin lagi. mungkin sekitar jam 7’an bisa ?” tanyanya

“ oke” ucapku , kemudian memutuskan panggilan telfon

Sejak jam 6 tadi sebenarnya pekerjaanku sudah selesai, mas eko dan staff GA lainnya bahkan sudah pulang 30 menit yang lalu. Tapi aku masih duduk dimejaku sambil membaca beberapa artikel diinternet, sambil menunggu kak melinda menelfon.

From : Melinda
Aku keluar kantor nih, mau ketemuan dimana ?

Akhirnya dia mengabariku juga,
To : Melinda

Caffe dideket kosanku aja gimana, di lampu merah
Namanya S& R  cafe

 Tak lama sms balasan kembali masuk,
From : Melinda
OKE

Hulf, kakakku memang selalu seperti ini. Saat bertemu selalu saja berhasil membuatku menutup telinga, tapi bahasanya di telfon malah terlalu singkat.

Jam 7;20 aku sampai di S&R cafe, kak melinda ternyata sudah sampai disini terlebih dahulu. Dia tengah asik memainkan handphonnya saat aku datang.

“ udah lama kak ?” tanyaku

“ enggak kok, belum terlalu lama” ucapnya, kemudian dia menyimpan handphonenya kedalam tas

“ ada apa ?” tanya kak melinda penasaran

“ aku kangen mamah kak” ucapku sedikit ragu

Kak melinda tersentak, mungkin kaget aku berkata seperti itu. Selama ini dialah yang selalu membujukku pulang dan bertemu mamah.

“ pulang aja yuk, lagian aku mau nikah 3 minggu lagi. aku mau adik aku yang paling cantik ini hadir disana dan menyaksikan kakaknya menempuh hidup baru bersama orang yang dicintai” ucap kak melinda

“ loh, kok dadakan kak?” tanyaku “ bukannya kemarin katanya baru putus. Udah dapet yang baru langsung nikah gitu ?” tanyaku kaget

“ bukan dadakan. Kakak udah lama hubungan sama dia, bahkan sebelum kamu pergi dari rumah. Cuma memang baru dikenalin ke mamah dan papah satu tahun terakhir. Kita emang sempet ribut kemarin, padahal semua persiapan pernikahan udah didepan mata. Tapi ya begitulah kata orang, kalau mau nikah ada aja cobaannya”

“ oh, selamat ya kak” ucapku memeluknya “ aku ikut bahagia”

“ kamu mau kan pulang kerumah, mungkin setelah aku nikah nanti, aku akan ikut suami de. Kasian mamah dirumah sendirian, papah sering pulang malem , mamah juga kefikiran kamu terus, jangan sampai mamah sakit baru kamu mau pulang. Nyesel kamu nanti” Ucap kak melinda

“ iya kak, kalau begitu kak bisa tanya mamah sama papah apa aku boleh pulang ?” tanyaku

“ boleh de, itu rumah kamu dan selamanya menjadi rumah kamu. Kapanpun kamu mau dateng, pintu rumah selalu terbuka lebar” ucap kak melinda, memelukku , isakan tangisnya terdengar meskipun samar.

“ pulang de, kami semua kangen sama kamu” ucap kak melinda

“ iya aku pulang kak” ucapku menepuk bahu kak melinda.


Saat ini aku ingin sekali menghubungi rezza dan menceritakan keputusanku ini, tapi rezza mengabariku kalau dia harus ke luar kota beberapa hari untuk urusan keluarga. Dia mengabariku satu jam setelah aku meninggalkan restoran, semoga saja tidak terjadi hal – hal buruk yang tidak diinginkan. Karna dari kekhawatiran dan ketergesa-gesaannya, aku yakin ada sesuatu yang tidak beres sedang terjadi.



***
BERSAMBUNG

Ibu Rumah tangga dengan ratusan mimpi, mencoba menuangkan fikiran dikepalanya untuk sekedar berbagi dan semoga bisa saling menginspirasi


EmoticonEmoticon