Tuesday, March 07, 2017

Sebuah Nama Tanpa Cerita - Bagian Sebelas

Tags




Siapa kamu #2

Ini hari pertamaku datang, setelah sesi interview kemarin yang cukup sulit. Menegoisasikan jam kerja parttimeku . Rasanya aku sedikit malu pada rezza, padahal aku sudah menjanjikan fulltime saat sabtu minggu, tapi ternyata tak sesuai dugaanku.

Kling.... kling.... bunyi lonceng pintu saat pintu dibuka, hal yang baru aku sadari . Padahal ini ketiga kalinya aku kesini...

Dan akan setiap hari...

" selamat pagi...." ucap seorang pelayan

" pagi..." ucapku dengan senyum ramah mendekati upi

" udah mulai masuk kerja mba ?" Tanya upi

" iya, pak rezza ada ?" Tanyaku

" pak rezza hari ini gak ke counter hari ini mba, tapi beliau udah ngomong ke saya untuk kasih tau mba soal training disini " ucap upi lagi

" oh gitu ya " ucapku sedikit kecewa

" Mari mba kita kebelakang " ucap upi

" jangan panggil mba, panggil aja nandita" ucapku

" iya " ucap upi tersenyum, kemudian kami menuju ke bilik belakang disudut ruangan dekat toilet......

Upi memberikanku beberapa stell seragam dan menjelaskan dengan detail seluk beluk coffe table dan tugas ku. Karna untuk urusan meracik minuman dan bake sudah ada staff ahlinya. Aku dan beberapa karyawan lain sisanya urusan pelayanan dan cashier. Dan aku tentu saja, menjadi seorang pelayan...

Menakjubkan bukan ?
Memang sudah ku duga sebelumnya, seorang tunawisma yang gigih berjuang untuk hidup dan mendapatkan pendidikan layak memang tak seharusnya berharap banyak.

Hulft...

Aku memakai seragamku dengan warna hitam pekat, dengan name tag kertas di dada kanan dan pin bertuliskan "training" di dada sebelah kiri. Sebenarnya sudah cukup malu menggunakan seragam seperti ini ditambah tulisan "training" itu membuat bobot baju ini bertambah 100 kilogram. upi bilang beberapa hari nanti aku baru akan mendapatkan name tag pin sama seperti lainnya . Dan sebagai gantinya sebuah tag kertas itu akan menemaniku sepanjang training beberapa hari ini, ini mirip sekali saat MOS dulu hanya saja tidak ada tali tambang yang berjuntai diantara rambutku kini.

" oke, dit, jadi ini nampan kita dan kamu harus bawa nampannya seperti ini " ucap upi mengarahkan nampan yang berada ditangannya sejajar dengan bahu

kali ini Upi mengajariku cara membawa nampan, Oh my godness... maksudku aku perempuan dan bahkan seorang anak SD bisa membawa nampan.

"Apakah ini tidak membuang - buang waktu ? " ucapku dalam hati, meskipun begitu , melakukan sepeti ini setidaknya aku masih dibayar.

Untungnya pengunjung hari ini tidak terlalu ramai. Aku takut sesi latihan ini akan sedikit menggangguku tentunya, karna dilihat oleh banyak mata. Tapi tak berapa lama seorang pelayan wanita dengan name tag "rya" di dadanya datang dengan nampan yang penuh dengan gelas, piring dan teman teman lainnya.

Sudah kuduga ini tidak semudah yang ku bayangkan.

Hulft...

Disela sela sesi trainingku, terbersit fikiran tentang dirga. Tentang bagaimana reaksinya kalau aku bekerja sebagai seorang pelayan disini.

Apa dia akan marah ?
Atau apakah dia bisa mengerti... ?

Entah apa yang ada difikirannya nanti, bahkan aku tidak bisa menebaknya sedikitpun. Dan hal itulah yang selalu membuatku ragu untuk mengatakannya. Tapi apapun reaksinya, setidaknya aku harus menceritakan tentang semua ini kepadanya nanti.
Dan aku sangat berharap, dia bisa sedikit mengerti.

Tak terasa waktu menunjukkan pukul 10:30 malam, ini  sudah waktunya cafe tutup beberapa karyawan masih merapikan pekeraannya, pekerjaanku sudah selesai sejak pengunjung terakhir jam 10 tadi. tapi aku masih menunggu karyawan lain untuk pulang meskipun aku sendiri sudah sangat lelah. Jam 11 saat karyawan lain sudah berkumpul dan kami mengunci cafe bersama, dan berpencar pulang masing –masing. Kebanyakan dari mereka pulang dengan kendaraan masing-masing. Hanya aku dan mba vina yang kebetulan sama menggunakan busway.

“ kamu gak ada yang jemput ?” tanya mba vina

“ enggak ada mba, siapa emang yang jemput ?” ucapku balik bertanya

“ pacar mungkin ?” tanyanya lagi

“ oh, pacar sih ada. Tapi yang jemput gak ada “ ucapku sedikit merunduk, berfikir

Mba vina tertawa dan menepuk bahuku, “ udah jangan difikirin”
Tak lama bus jurusan yang mba vina tumpangi datang, dia beranjak bangun dari kursinya dan melambaikan tangannya. “ aku duluan ya”.

Aku hanya tersenyum sambil mengangguk, sementara pintu bus tertutup dan kembali melaju.
Aku mengambil handphoneku mencoba menelfon dirga, mungkin ini bisa menjadi awal pembicaraan soal pekerjaan parttimeku padanya. Tapi beberapa kali aku menghubunginya nomornya tak pernah tersambung.

Diluar jangkauan katanya. Kemana dia beberapa hari ini menghilang tanpa mengabariku ?.

***

BERSAMBUNG

Ibu Rumah tangga dengan ratusan mimpi, mencoba menuangkan fikiran dikepalanya untuk sekedar berbagi dan semoga bisa saling menginspirasi


EmoticonEmoticon