Wednesday, March 01, 2017

Sebuah Nama Tanpa Cerita - Bagian Sembilan

Tags


Sebuah Nama Tanpa Cerita

COFFE TABLE

Sudah setengah jam lebih aku memutari jalan di thamrin sini. Tapi tidak ada tanda-tanda tempat yang diberitahukan pak herman ... coffe table caffe. Bahkan mbah google pun tidak tau tempat ini.

Aku frustasi ini sudah hampir jam 5 sore tapi belum juga aku temuka. Sedangkan , 1 jam lagi rapat akan dimulai dan aku masih belum menemukan tempatnya. Kalau aku bilang soal hal ini kepada pak warman mungkin ini akan membuatnya meragukan kemampuanku. Atau pak warman akan mengurungkan niatnya untuk mengangkatku sebagai staff HR.

Oh tuhan.... aku tersesat dan tak tau arah jalan ...

Aku merebahkan diriku di halte  terdekat, satu-satu nya tempat terdekat yang bisa kududuki dengan geratis. Mungkin ini bukan waktu yang tepat untuk duduk dan bersantai sedangkan waktu terus berjalan dan hampir habis. Tapi kaki- kakiku sudah lelah berjalan sejak tadi.

" mba tunawisma ini ternyata berkeliaran dimana-mana ya" ucap seorang dihadapanku, aku melirik keatas mencari tau siapa gerangan pemilik suara yang tak asing bagiku..

" hmmmm.... mahluk aneh dari bulan rupanya" ucapku santai sambil membetulkan posisi dudukku

" jadi halte ini juga salah satu rumah kamu ?" Tanya rezza

" gimana ya,..hmmmm... bisa dibilang begitu" ucapku " selama itu bisa dibuat rebahan, dimanapun bisa menjadi rumah ku"

Kami berdua tergelak tertawa, rezza mengacak-acak rambutku. Aku tertegun, entahlah... ada sebuah perasaan aneh saat dia menyentuh kepalaku dengan lembut.

" kamu lagi apa disini ?" Tanya rezza penasaran, di tangan kirinya dia membawa sekantong plastik penuh belanjaan.

" aku lagi nyari tempat disuruh sama bossku, tapi udah satu jam nyari gak ketemu ! Bener-bener frustasi , kalau aku gak nemuin tempatnya, aku gak bisa booking tempat, dan bossku gak bisa meeting dan aku... tewas" ucapku sambil menyilangkan tangan di leher

Rezza tertawa kecil,
" apa nama tempatnya ?" Tanyanya

" coffe table caffe"  ucapku

Rezza tersentak

" kenapa ?" Tanyaku

" kebetulan aku juga mau kesana " ucap rezza

" oh ya ?" Ucapku sedikit aneh " kebetulan yang aneh ya, seperti kamu"

" seperti kamu juga" ucap rezza

Kemudian dia mengulurkan tangannya kepadaku.

" maaf saya bisa jalan sendiri " ucapku beranjak meninggalkannya dibelakang dan berjalan mendahuinya.  Tapi setelah beberapa meter aku berjalan rezza tak kunjung juga menyusulku, aku berbalik mencoba mencari tau apa gerangan yang menghambatnya.

Oh tidak.....

" lewat sini tauuuuuu " teriak rezza dari arah yang berlawanan dengan ku bahkan dia sudah berjalan cukup jauh didepan. Menyebalkan...

Aku berlari ke arahnya, dan tanpa memperlambat langkah kakinya dia berjalan kesebuah tempat yang dipenuhi pohon rindang. Tak jauh dari pintu masuk, barulah bisa ku lihat sebuah plang bertuliskan

COFFE TABLE CAFFE

Dengan huruf latin yang cantik,
Akhirnya.... aku menemukannya juga...

Aku menuju meja bar di ujung ruangan, mencari seorang pelayan untuk memesan tempat. Aku menoleh ke belakang ku lihat rezza sedang duduk di kursi paling ujung dekat pintu masuk.

" mba, bisa siapin tempat untuk delapan orang ?" Tanyaku

" baik mba, ditunggu sebentar ya" ucap seorang pelayan, aku menghampiri rezza ..

" ada rencana ketemu orang disini ?" Tanyaku

" hmmm.....gak juga, aku lagi pengen duduk disini aja" ucap rezza

" mba meja nya sudah siap, mau pesan sekarang atau gimana ?" Tanya seorang pelayan

" oke sebentar ya " ucapku pada pelayan, aku mendekat ke rezza " aku kerja dulu ya, makasih bantuannya"

"O.k." ucap rezza santai

Tak berapa lama mas eko datang, disusul kemudian pak warman dengan beberapa orang clientnya.

Diantara meeting yang panjang aku memikirkan kuliah ku hari ini, semakin sering ada pertemuan diluar jam kantor seperti ini semakin sering pula aku membolos.
Hulft... padahal hanya tinggal satu tahun terakhir tapi rasanya semakin berat.

Aku permisi ke toilet di sela-sela gelak tawa para boss boss besar, sedikit merasa canggung berada ditengah-tengah mereka. Bukan karna perbedaan pangkat, tapi cara mereka menatapku seolah aku adalah mucikari bayaran untuk mempermanis jamuan kopi ini.

Aku mencari kontak teman sekelasku, dewi.

TO : Dewi

Dew, tolong izinin gwe hari ini ya,
Ada rapat dadakan di kantor
Thanks

Aku keluar dari kamar mandi dan menoleh ke meja dimana rezza duduk sebelumnya. Dia sudah tidak ada disana....

Jam menunjukkan pukul 9:30, sudah hampir larut. Untunglah pak warman menyudahi pertemuan ini. Kalau tidak aku bingung bagaimana pulang nanti.

" saya sepertinya pernah ngeliat kamu dimana gitu ?" Tanya salah seorang client pak warman

" masa pak, saya baru pertama kali  ikut pertemuan sama pak warman" ucapku kepada client pak harman ini, orang ini yang sedari tadi menatapku tajam sejak pertamakali datang

" kamu anak pak hartono kan ? Saya om yanto teman bisnis papah kamu. Kita pernah ketemu di rumah kamu dulu " ucap pria tadi

" iya pak !" Ucapku kaget pria ini bisa kenal dengan papahku

" gimana kabar papah kamu ? Sehat ?"

“ Papah saya sudah meninggal pak, dua tahun yang lalu” ucapku

“ oh, innalillahi wainnailahi rajiun. Maaf ya, om gak tau !” ucapnya meminta maaf

“ iya gak apa – apa pak !” ucapku dengan senyum

“ memangnya sakit apa pak hartono ?” tanya pria tadi lagi

“ gak sakit pak, kecelakaan mobil “ ucapku

Kami berdua terdiam sejenak, mungkin pria tadi bingung hendak berkata apa lagi.

“kalau begitu, saya pulang ya. Salam buat mamah kamu bilang dari om yanto gitu” ucapnya

“ baik pak” ucapku ,  dan pria yang menyebut dirinya om yanto pun berlalu.

Aku menghampiri meja pertemuan, semua client dan pak warman sudah pergi. Hanya tinggal mas eko yang masih membereskan kertas dimeja.


" kamu kenal sama pak yanto ?" Tanya mas eko

" oh, enggak juga . Dia tadi nanya sesuatu " ucapku

"Oh,.... kamu pulang sama siapa ?" Tanya mas eko

" sendiri, tapi nanti aja mas. Aku masih harus beres-beres ini dulu"

" oke aku duluan gak apa-apa ya" tanya mas eko “ memo meetingnya aku bawa ya buat laporan, sisanya kamu yang beresin ya” ucap mas eko sambil tersenyum

" iya gak apa-apa mas" ucapku.

Hulft....

" mas bill nya ya !" Ucapku kepada seorang pelayan

" baik mba, sebentar saya ambilkan" ucap pelayan

Aku masih sibuk membereskan kertas yang berantakan dimeja. Bagaimana aku pulang ya, apa aku telfon dirga saja ? Tapi sudah malam begini rasanya kasihan juga kalau dia harus kesini. Apalagi besok dia juga harus pergi kerja.
" lembur ceritanya ?" Ucap rezza tiba-tiba duduk didepanku

" oh, aku fikir udah pulang " ucapku kaget, sedikit merasa senang dia ada disini sekarang, entah kenapa

" enggak, aku tadi dari luar sebentar. Kok belum pulang ?" Tanya rezza

" iya ini baru kelar meeting nya " ucapku

" ini mba bill nya" ucap seorang pelayan tadi

" makasih ya mas, tunggu sebentar ya" ucapku

" baik mba" ucap pelayan tadi " pak mau closing jam berapa ?"

"Sttt" ucap rezza memberi isyarat, aku melihatnya menaruh jari telunjuk kedepan mulutnya

" kamu boss disini ?" Tanyaku, sambil menaruh uang di nampan bill " ambil aja kembaliannya" ucapku kepada pelayan tadi

" makasih mba" ucap pelayan dengan name tag upi di dadanya

" jadi, kamu boss disini ?" Tanyaku lagi

" bukan, bukan....aku juga kerja disini" ucap rezza

" oh, aku fikir kamu pemilik cafe ini " ucapku

" aku supervisor di cabang sini" ucap rezza " menurut kamu gimana pelayanan di caffe ini ?"

" ceritanya lagi nanya restimoni pelanggan nih ?" Godaku " kalau mau kasih nilai bagus, kasih compliment yang enak dong" rayuku

Rezza tersenyum kecil, kemudian mengangkat tangannya dan melambaikannya kesalah seorang pelayan yang tadi memberikan bill padaku. Peayan itu mendekat, rezza berbisik ditelinga upi. Sejenak mengangguk dan upi pun berbalik menuju belakang.

" jadi... mau makan apa kita ?" Tanya rezza

" loh belum pesen, dikirain tadi bisik bisik sama pelayan pesen makanan. Gimana sih ?" Gerutuku

" aku cuma bilang,  klosing aja dulu jangan nungguin customer cantik ini pulang karna dia mau diner " ucap rezza

Aku tertawa dan melemparkan buku menu kearahnya. Rezza dengan sigap menangkisnya. Aku jadi yakin dengan pernyataan dirga dulu, kalau saja dirga mengakui kalau aku pacarnya mungkin sikap rezza padaku tidak akan seperti ini. Mungkin dia juga akan menjaga jarak kepadaku, sebenarnya aku ingin mengatakan pada rezza kalau dirga adalah pacarku. Tapi aku hanya ingin tau apa alasan dirga nenyembunyikan hubungan kami dari rezza, sebelum aku mengetahui alasan pastinya aku akan membiarkan keputusan dirga berjalan entah sampai kapan.

Dan antara aku dan rezza rasanya tidak akan terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Dia lebih dari sekedar teman untukku, dia seperti abangku sendiri.

" permisi " ucap seorang pelayan, dia menaruh dua buah coffe dengan foam cantik berbentuk hati diatasnya, so cute dan sepiring muffin keju

" makasih ucapku" sambil menarik gelas coffe ke depanku

" capucino " ucap rezza

" aku lebih suka mocca, tapi capuccino gak masalah. Aku suka" ucapku

" lain kali aku yang buat ya. " ucap rezza

" oke. Berarti ada traktiran lagi. Asik" ucapku sambil bertepuk tangan senang

" huh dasar !" Ucap rezza dengan muka cemberut kemudian tersenyum lagi " menurut kamu caffe ini gimana ?" Tanya rezza

" hmmmm.... enak, nyaman juga buat nongkrong apalagi dapet kopi gratis" ucapku sambil tertawa

" kalau mau dapet kopi gratis tiap kesini kayanya kamu harus deketin aku deh" ucap rezza sambil tertawa geli.

Aku teringat satu hal
"  rezaa..." ucapku tegas sambil menatapnya tajam

" apa..!" Jawabnya lebih tegas

" kamu masih punya utang sama aku, inget ?" Tanyaku

" utang apa ?" Tanya rezza heran penuh tanya

" hutang buku yang tempo hari aku beliin itu" jawabku

" ya tuhan. Bukan nya kamu bilang gak usah dulu ?" Tanya rezza

" sekarang aku berubah fikiran !" Ucapku

" aku beliin kamu nasi goreng, dan tranktir kamu kopi masih kurang ?" Tanya rezza

" hmmm... masih" ucapku

" yaudah memang berapa semua biayanya?" Tanya rezza

" biaya mungkin sudah impas, tapi hutang jasanya belum ya. Ditambah balikin buku trus anterin lagi. Itu mahal" ucapku

" jadi berapa ?" Tanya rezza lagi

" bantu aku kerja disini...!" Ucapku

" Apa !!!" Teriak rezza tak percaya, kopinya bahkan nyaris tumpah

" bisa, kamu kan atasan disini. Jadi kamu bisa minta tolong ke boss kamu buat nerima aku kerja disini , kamu bisa bilang aku sepupu kamu atau apa gitu" ucapku

" kamu serius ?" Ucap rezza

" iya, aku butuh tambahan dana buat kuliah dan bayar kosan" ucapku " pleaseeeee"

Rezza berfikir sejenak. " Yaudah nanti kirimin email kamu ke alamat email aku ya..."

" beneran ?"ucapku tak percaya

" iya, dengan satu syarat " ucap rezza

" apa ?" Tanyaku

" siap nemenin aku kapanpun aku butuh. " ucap rezza

" cuma itu ?" Tanyaku

" cuma itu" jawab rezza

"Setuju" ucapku, kami bersalaman.

Syukurlah, meskipun hari ini menjadi hari yang berat. Tapi setidaknya banyak keajaiban terjadi hari ini. Aku sedikit bisa bernafas lebih lega sekarang. Semoga saja rezza bisa membantuku untuk bekerja disini. Jaraknya memang cukup jauh dari kos-kosanku tapi selama ada halte busway , perkaranya hanya tinggal waktu bukan biaya.



***
BERSAMBUNG

Ibu Rumah tangga dengan ratusan mimpi, mencoba menuangkan fikiran dikepalanya untuk sekedar berbagi dan semoga bisa saling menginspirasi


EmoticonEmoticon