Saturday, March 04, 2017

Sebuah Nama Tanpa Cerita - Bagian Sepuluh

Tags


Sebuah Nama Tanpa Cerita


Siapa kamu ?#1

Perlahan angin meniup dedaunan rindang diatas kepalaku, sinar matahari timbul seperti garis cahaya di antara sela-sela dedaunan yang rimbun, nyayian angin yang begitu merdu. Dan tepat dihadapanku, hamparan rumput hijau yang luas. Terlebih ada dirga disampingku, dia menyempurnakan kebahagiaanku hari ini.

" makasih ya udah bawa aku ketempat yang secantik ini" ucapku

Dirga merapat mendekat , dia membisik perlahan " tapi kecantikan kamu selalu bisa bikin aku berpaling dari ini semua" kemudian dia mengecup pipiku

Sungguh hari yang sangat indah untuk cepat diakhiri. Bersamanya saat ini membuatku begitu bergitu nyaman. Dirga bercerita banyak hal, kebanyakan tentang pengalamannya berada di luar negri saat mengambil kuliah hukumnya, anehnya dia mengambil pekerjaan dibidang keuangan dikantor ayahnya.

Aku salut padanya karna dia tak serta merta menjadi seorang direktur yang tidak tau apa-apa mengenai perusahaannya. Dia memutuskan mengambil posisi yang tidak terlalu menonjol , manager keuangan. Tapi aku tau betul maksudnya, dia orang yang menuntut kesempurnaan dalam pekerjaannya dan mungkin kehidupannya, oleh karna itu dia memutuskan untuk mengetahui segala sesuatu dengan detail agar bisa mengaturnya dengan baik sesuai keinginannya.

Menyedihkannya, aku kebalikan dari dirinya. Kehidupanku nyaris berantakan, entah apa yang bisa kuselamatkan, mungkin hanya beberapa.

Semakin hari aku dan dirga semakin mengerti satu sama lain, itupun karna aku dan dirga sudah saling memberikan waktu. Beberapa kali malam minggu dirga sudah bersedia meluangkan waktunya untukku dan mengorbankan jadwal bermain bolanya. Aku sadar sekarang mungkin bermain bola adalah salah satu caranya melampiaskan sesuatu yang tidak bisa dia luapkan dalam pekerjaan, dan menjadi obat stressnya untuk satu minggu berada dalam kepenatan. Aku memahaminya sekarang. Jadi kalaupun dia tidak bisa menemuiku pada malam minggu, aku bisa mengerti.

Setiap orang yang melihat dirga pasti mencintainya, aku berani menjaminnya 90%. Keculi untuk orang-orang yang tidak memiliki indra penglihatan normal. Tidak ada hal yang tidak membuatku tidak menyukainya, terlebih sekarang dia sudah menjadi pacarku. Dirga memiliki perawakan yang tidak terlalu tinggi dan tidak juga rendah, kulitnya putih sedikit Kecoklatan dibagian lengan. Rambutnya selalu tertata rapih dengan gel, tubuhnya wangi bahkan saat berkeringat sekalipun. Tangannya besar mampu menggenggam tanganku dalam satu kepalan tangan. Entah, sepertinya tak ada cacat dalam dirinya. Dan di saat yang bersamaan , saat aku bersanding dengannya, nyaris seperti pembantunya. Menyedihkan...

" kamu kenapa mau jadi pacar aku ?" Tanyaku iseng ,

" kenapa ya?" Ucap dirga berusaha berfikir keras

" ya karna aku sayang" ucap dirga

" sebelum sayang, sayang kan karna udah kenal. Sebelumnya apa yang memutuskan kamu memilih aku buat jadi pacar kamu", tanyaku penasaran

" karna kamu cantik" ucap dirga dengan senyumnya yang sungguh sangat mempesona

" gombal ah" aku memukul bahunya " seriusss, kalau aku cantik banyak temen kamu yang lebih cantik daripada aku"

" itukan temen, masa aku macarin temen sendiri" ucap dirga

" trus mau macarin temen pacar ?" Tanyaku

Dirga tersenyum, " mungkin kita jodoh, ada satu hal yang bikin aku terpaku sama kamu, gak tau apa. Gak semua hal bisa dijelaskan dengan kata -kata. Bahasa itu terbatas, sedangkan perasaan itu terlalu rumit untuk diungkapkan dengan sempurna lewat kata"

" jadi'..?" Tanyaku

Dirga mendekat dan hendak mencium bibirku, aku beranjak berdiri dan berlari menjauh.

" dasar otak mesummmmmm" teriakku sambil berlari menjauh.

" dasar nenek lampir nih, ngerusak moment aja. Kesini gak ?" Teriak dirga

" enggggakkkk mau" teriakku lagi

Rasanya kali ini dirga tidak akan lagi bersusah payah berteriak membujukku. Dia sudah mengangkat celananya dan bersiap berlari mengejarku. Aku bergegas berlari menjauh darinya...

Dan sisa hari kami dihabiskan dengan banyak canda tawa sampai matahari terbenam. Ini hari terindah bersamanya. Dalam hatiku aku berharap nanti akan ada banyak hari seperti ini untuk kami.

"Amient " ucapku dalam hati


***

Menjadi seorang staff GA, ternyata tak semudah yang ku bayangkan. Bahkan nyaris memusingkan, memang aku kuliah di jurusan management tapi teori yang menumpuk dengan buku berton ton hanya beberapa persennya saja yang dapat menghafal dan mempelajarinya.

Mas eko sekarang jadi leaderku, teman jadi atasan rasanya aneh tapi menyenangkan juga memiliki leader ramah seperti dia. Kami team GA memiliki ruangan sendiri dipojok kebelalang dekat pantry, katanya agar bisa mengawasi stok pantry dari orang-orang culas. Bahkan GA mengurusi hal seperti itu... ku fikir itu tugas office boy.

Pekerjaan spesifikku ya dalam bidang umum, sangat umum. Memfiling dokumen, membantu fax dokumen, mencari dokumen penunjang yang dibutuhkan, menstample "paid" untuk tumpukan kwitasi yang sudah terbayar dan pekerjaan lainnya yang sungguh sangat tidak terlalu penting.
Awalnya aku sempat ragu, posisiku sekarang dengan resepsionis dulu tak jauh berbeda, sama -sama kurang penting. Tapi mas eko bilang, semua pekerjaan itu penting, hanya soal bagaimana kamu bisa melakukannya dengan baik, itulah yang menjadi penentu.

Jadi, ya meskipun tidak terlalu membuat semangatku berapi-api tapi cukup membutku mau melakukan kerja bakti ini. Padahal pak warman bilang aku ditempatkan di GA untuk melakukan pekerjaan umum yang tidak terlalu berat, itu bohong. Setiap hari mengangkat kardus file-file ini memangnya tidak berat ?.

Aku duduk dimejaku yang paling pojok. Mengambil beberapa nafas sambil mengecek beberapa notifikasi di handphoneku. Ada sebuah sms, dari nomor tak dikenal

From : 0822xxxxx
Minat gak nemenin ngopi setiap hari ?
Cepetan kirim emailnya ke rezza.bs@gmail.com

Aku terdiam sejenak, menimbang nimbang apa yang harus ku katakan. Sepertinya tempo hari aku sudah mengatakan padanya kalau aku hanya ingin bekerja parttime di kafenya. Aku mencopy nomornya dan menyimpannya di kontakku. Setelah akhirnya membalas pesannya.

To : Rezza
Aku udah pernah bilang kan, aku cuma mau kerja parttime ?
Setelah pulang kerja aku langsung kesana.
Untuk sabtu minggu aku bisa masuk lebih awal.
Gimana ? Udah bilang sama boss kamu soal itu ?

" makan siang yuk dit" ucap mba ana yang berada didepan mejaku

" iya mba, saya bawa bekel. Makan disini aja" ucapku

" wah, rajin ya pagi-pagi masak. Yaudah aku duluan ya dit" ucap mba ana berlalu

" iya mba" ucapku

" Hulft, ini bukan soal rajin. Ini soal tuntutan hidup. " ucapku lagi pelan sambil menarik nafas panjang

Aku menutup handphoneku dan membuka kotak makan siang ku. Utungnya setiap jam istirahat lampu penerangan di ruangan dimatikan jadi aku bisa nyaman makan bekalku dengan tampilan lauk yang ala kadarnya. Aku melihat sekeliling beberapa karyawan lain bahkan tergeletak tidur di mejanya.

Tiba - tiba handphoneku berdering dengan keras, hush... aku lupa mengaktifkan mode sunyi...

From rezza

Iya udah aku bilang soal itu dan aku ceritain juga kondisi kamu yang tunawisma tapi gigih berjuang untuk hidup dan mendapatkan pendidikan yang layak.

Aku juga...


Belum selesai membaca aku sudah menutupnya dan membating handphoneku. Benar benar menyebalkan orang ini, sebenarnya dia ingin membantu atau menjelek jelekan aku ??? Menyebalkan. Aku menaruh handphoneku dan melanjutkan makan siangku. Setidaknya menghadapi orang seperti dia harus dilakukan dengan perut penuh dan kepala dingin.

Kalau saja dia berada didepanku sekarang, sudah ku telan utuh kepalanya itu.

Hulft.....

***

Dirga berjanji menjemputku hari ini, meskipun sudah berapa kali aku menolak tapi tetap saja dia bersikeras. Katanya dia mengajakku merayakan kenaikan pangkatku, meskipun dalam hati terdengar menyedihkan karna pekerjaanku tidak seindah apa yang dirga fikirkan tapi aku juga tidak ingin membuat nya kecewa. Jadi kuiyakan saja permintaannya itu.

Dan seperti biasanya, hobinya terlambat sudah sangat mudah diprediksi. Jadi aku keluar kantor tepat pukul 5:30 dan tak lama dirga datang. Luar biasa, kalau saja aku keluar dari jam 4:30, betapa malangnya nasibku ini...

" udah lama ya nunggunya ?" Tanya dirga

" enggak kok " ucapku

" iya , tadi dijalan macet banget" ucap kami bersamaan

Dirga menoleh dan tertawa lebar melihatku menirukan gaya bicaranya. Dia membuka pintu mobil dan mempersilahkanku masuk.

" mau kemana kita ?" Tanya dirga

" kan kamu yang ngajakin, terserah kamu lah" ucapku

" oke oke" ucap dirga mulai menyetir sambil mengerutkan alis, mulai berfikir mungkin

" oh ya sepupu kamu itu, kuliah dimana ?" Tanyaku

" sepupu yang mana ?" Tanya dirga heran

" yang tempo hari aku beliin bukunya itu" jawabku

" oh itu, dia masih SMA baru mau masuk kuliah " jawab dirga

" oh...tapi kemaren ..." ucapku

" iya maaf  banget kemarin aku kasih nomor kamu tanpa izin, abis kata dia buku yang kamu beli itu salah, jadi mau tanya aja beli dimana nanti dia mau tuker sendiri" ucap dirga " dia telfon kamu ya ?"

" iya, dia bilang buku yang aku beli salah"

Aku berfikir sejenak, tapi rezza tidak terlihat seperti anak SMA. Bahkan umurnya mungkin jauh diatasku, 5 tahun lebih tua mungkin. Atau mungkin mukanya boros ? fikiriku..

" kenapa tiba-tiba tanya begitu ?" tanya dirga

" enggak aku kaget aja waktu itu ditelfon sama orang asing yang ngaku sepupu kamu" jawabku

" oh, iya maaf. Aku juga lupa cerita karna aku waktu itu sibuk banget jadi lupa cerita"

" dia itu sepupu kamu dari mana ?" Tanyaku

" ayahnya itu adik papahku, ya kita juga belum terlalu deket. Dia baru pindah kesini sama nyokapnya beberapa bulan" ucap dirga

" oh...." ucapku

“ dia juga kaya kamu ? maksud aku udah mengelola perusahaan atau aset keluarga atau bekerja di mana gitu ?” tanyaku semakin penasaran

“ enggak, dia baru masuk kuliah belum siap kayanya buat  hal – hal begituan . emang kenapa sih kamu mau tau banget kayanya tentang dia ?” tanya dirga dengan nada suara curiga

“ enggak, aku penasaran aja kok, dia kan sepupu kamu aku Cuma mau tau, gak ada maksud apa-apa” ucapku

“ jangan terlalu deket, nanti aku cemburu” ucap dirga sambil tersenyum

Dari kata-kata dirga tadi, rasanya Rezza bukan seperti sepupunya yang baru lulus SMA dan melanjutkan kuliah. Rezza seperti orang yang sudah cukup dewasa bahkan sudah lulus kuliah, dan Rezza sudah bekerja di sebuah restoran sedangkan sepupu dirga tidak. Siapa sebenarnya rezza ini ? apa untungnya berbohong kepadaku ?.

" yuk turun " ucap dirga

Aku mengangguk dan turun dari mobil. Kami makan di restoran kecil dengan suasana hijau terbuka. Dirga memilih meja di sudut dekat kolam ikan yang cukup besar, dengan pencahayaan lampion lampion disekelilingnya membuat tempat ini terlihat cantik saat malam.

Dirga memanggil seorang pelayan dengan serbet hijau di pinggangnya. Selagi dirga sibuk memilih menu, aku mengecek handphoneku.

Meneruskan membaca pesan dari rezza yang sempat terputus.

From rezza

Iya udah aku bilang soal itu dan aku ceritain juga kondisi kamu yang tunawisma tapi gigih berjuang untuk hidup dan mendapatkan pendidikan yang layak.

Aku juga udah cerita kalau kamu seorang mahasiswa dan karyawan swasta ditempat lain. Cuma memang karna satu lain hal kamu membutuhkan uang tambahan..

Trus katanya, kamu diperbolehkan bergabung dengan syarat saat sabtu minggu jam kuliah kosong, kamu wajib fulltime.
Untuk salary nanti kita omongin aja ya pas kamu kesini.

CV nya boleh di email atau kamu dateng langsung aja kesini
Aku tunggu ya...

Oke, meskipun aku belum mengetahui persis siapa rezza sebenarnya tapi setidaknya aku sudah mendapatkan pekerjaan tambahan. Untuk urusan apakah rezza sepupu  dirga atau bukan, akan aku cari tau nanti.


" dari siapa ?" Tanya dirga

" oh, enggak. Aku lagi ngecek notifikasi aja" jawabku

" gimana kerjaan di posisi baru ?" Tanya dirga

" ya gak gimana gimana, gak terlalu jauh berbeda sama kemarin" jawabku

" loh, kok gitu..." tanya dirga penasaran

" oh iya, minggu besok aku udah mulai UAS, Jadi mungkin sibuk banget ngejar matakuliah sama belajar. Mungkin aku nanti jarang nemenin kamu makan atau nongkrong. Gak apa apa kan ?" Tanyaku

" iya gak apa-apa, aku ngerti kok. Ya sesekali ketemu begini sepulang kerja juga boleh" jawab dirga

" oke " ucapku


Entah alasan apalagi yang nanti akan ku katakan kepada dirga, tapi yang jelas setidaknya aku akan berusaha jujur kepada dia soal aku bekerja part time. Aku hanya menunggu waktu yang tepat untuk menceritakan semuanya. Karna untuk saat ini aku tidak ingin membuatnya terbebani dengan kondisiku atau membuatnya mengasihaniku. Suatu hari nanti saat semua sudah berjalan membaik, aku akan menceritakan kepadanya. Semoga rezza tidak mendahuluiku.

***
BERSAMBUNG

Ibu Rumah tangga dengan ratusan mimpi, mencoba menuangkan fikiran dikepalanya untuk sekedar berbagi dan semoga bisa saling menginspirasi


EmoticonEmoticon