Saturday, March 18, 2017

Sebuah Nama Tanpa Cerita - Bagian Terakhir

Tags

Sebuah Nama Tanpa Cerita




Dua berlalu sejak aku putus dengan dirga, dan hari ini aku memutuskan untuk kembali kerumah. Setelah hampir satu tahun menjauh dari mamah dan kakaku, akhirnya sekarang aku kembali. Rezza benar, bahwa mungkin aku yang kurang mengerti perasaan mamahku, padahal mamah dan papah tiriku bahagia seharusnya akupun ikut bahagia.

Sesampainya dirumah, mamah menangis kencang memelukku. Dan papah tiriku juga ikut menangis.

“ makasih “ ucap papah sambil mengelus rambutku, aku hanya bisa tersenyum kepadanya diantara pelukan mamah yang sangat ku rindukan.

Kakak yang berdiri dibelakangku sejak tadi, ikut memelukku dan mamah yang tak henti-hentinya mengucap rindu dan menangis. Aku tau aku salah dan aku menyesal telah meninggalkan orang- orang yang mencintaiku dengan tulus hanya karna keegoisanku. Aku tau sekarang dimana tempatku dan siapa orang yang mencintaiku. Aku tau sekarang,

Dan aku berjanji tidak akan pernah lari lagi apapun yang terjadi.

Aku kembali kekamarku, semuanya masih sama seperti dulu. Masih sama sebelum aku pergi. Aku merebahkan diriku di kasur yang empuk dengan seprai putih yang lembut, aku rindu tempat ini.
Aku mengambil handphoneku, mencoba menghubungi rezza tapi handphonenya selalu sibuk.

Jadi kukirimkan beberapa pesan agar nanti dia bisa membacanya saat sudah tidak sibuk.

To ; Rezza
Aku udah pulang kerumahku sekarang,
Ketempat seharusnya aku berada,

Kamu dimana ?

***
 Sejak aku kembali kerumah, mamah melarangku bekerja parttime di cafe table. Tapi masih mengizinkan aku untuk bekerja dikantor. Perkuliahan sekarang hanya masuk seminggu tiga kali. Jadi aku memiliki banyak sekali waktu yang kuhabiskan dirumah dengan mamahku.

Terkadang kami pergi ke salon bersama, berbelanja, memasak dan melakukan banyak sekali kegiatan saat aku memiliki waktu senggan. Dan aku kembali menemukan hidupku yang sebenarnya, bersama keluargaku.

Satu hal yang aku rindukan adalah rezza, sejak aku tak bisa pergi ke caffe aku jadi semakin sulit bertemu dengannya. Kami sempat sekilas bertemu dijalan, tapi rezza terlihat sangat sibuk dan panik, tidak seperti biasanya. Dan karna kami tidak memiliki waktu yang cukup panjang, rezza belum sempat mengatakan apa yang ingin dia katakan hari itu.

Tapi sampai sekarang aku masih menunggu.

Pesta pernikahan kakaku 10 hari lagi. dan aku ikut tegang dibuatnya, kakaku sedang dalam masa pingit. Jadi setelah pulang kerja, dia tidak boleh pergi kemanapun bahkan bertemu dengan calon suaminya.
Setiap hari kerjanya selalu saja menggangguku dengan cerita-ceritanya tentang calon suaminya yang luar biasa tampan itu, tentu saja menurut versi kakaku. Karna aku belum tau siapa calon suaminya. Semua undangan sudah selesai disebar, bahkan tak satupun tersisa untukku.

***
Hari ini pertamakalinya setelah setahun lebih aku kembali mengendarai mobilku kekampus. Saat aku memasuki ruangan kelas, semua tampak sama tidak ada perubahan berarti. Aku akan sangat merindukan halte tempatku merebahkan diriku selama ini. Merindukan kos-kosanku, dan sejak aku pindah memang sulit sekali aku bertemu dengan dian sahabat terbaikku.

Hari ini kelasku berakhir pukul 8 malam, satu jam lebih cepat dari biasanya. Jadi ku putuskan untuk mampir ke coffe table, untuk bertemu rezza. Menanyakan tentang apa yang dia ingin katakan padaku waktu itu.

Aku tau dia akan menyatakan cintanya padaku, aku tau. Atau haruskah aku yang mengungkapkannya terlebih dahulu ?

Aku berjalan dengan kecepatan penuh menuju ke coffe table. Rasanya tak sabar bertemu dengan Rezza. Aku mengambil handphoneku dan menuliskan pesan untukknya secara terpisah...

To : Rezza
REZZA....

Kemudian menuliskan beberapa huruf lagi dengan pesan terpisah...
TO: Rezza
Aku....

Tak terasa, aku sudah sampai di depan coffe table. Tapi pesanku belum baru terkirim dua kata. Tapi biarkan sajalah, nanti juga rezza akan bertanya padaku apa maksudnya. Dan disitu baru aku akan mengatakan padanya.

Aku berjalan memasuki coffe table. Upi tersenyum lebar sejak aku membuka pintu yang diiringi bunyi lonceng. Aku rindu tempat ini.

“ dari mana aja nyonya” tanya upi

“ ada gak kemana – mana kok” ucapku “ gak ada gue sepi ya?” tanyaku

“ iya, gak ada yang banting- banting gelas didapur” ucap upi, kami menyeringai bersama, aku menghampiri mba vina yang dari tadi menatapku

“ udah pulang kerumah ?” tanya mba vina

“ udah mba” ucapku, mba vina tau bagaimana aku karna kami memang sering berdua menunggu buss saat pulang kerja

“ mas rezza kemana ?” tanyaku

“ tadi sih katanya keluar sebentar, nanti juga balik lagi. soalnya hari ini kan rapat bulanan” ucap mba vina

“ oh, pi... kopi satu ya.. biasa” teriakku

“ bayar loh, soalnya bukan pegawai lagi” ucap upi meledekku

“ iya, I’m customer now” Ucapku menyeringai, aku duduk di meja paling ujung, selalu begitu meja pojok selalu menjadi pilihan terbaik.

“ kopi datang” ucap upi sambil membawa kopi capucino dengan foam berbentuk hati utuh

“ gini dong” ucapku, “ makasih”

“ hei mas, ada tamu agung nih” ucap upi berteriak kearah pintu masuk yang berbunyi.

ITU PASTI REZZA,

Aku tak memalingkan wajahku, aku yakin rezza pasti datang ke arahku. Tak berapa lama rezza berdiri disampingku. Tapi saat aku menoleh ke arahnya, ada kak melinda disampingnya.

“ De, kamu disini ? gak kuliah ?” tanya kak melinda heran

“ aku udah pulang kuliah, jadi mampir kesini !” ucapku “ kakak ngapain kesini?” tanyaku heran

“ duduk dulu .. duduk” ucap rezza akhirnya merelai tanda tanya kami berdua

“ kamu kenal sama nandita?” ucap reza

“ dia adik aku za” ucap kak melinda, rezza kaget mendengarnya


“ mel, nandita ini dulu pernah bekerja disini sebagai parttimer sebelum akhirnya berhenti sejak pulang kerumah” ucap rezza akhirnya

“ loh, kok kamu gak pernah cerita” tanya kak melinda

“ lah, mana aku tau kamu juga gak pernah ngenalin ke aku!” ucap rezza setengah emosi..

Apa –apaan ini malah aku yang sekarang terjebak diantara pertengkaran mereka berdua.

“ kakak ngapain disini ?” tanyaku

“ masa gak boleh mampir ketempat kerja calon suami sendiri” ucap kak melinda

“ CALON SUAMI ?” ucapku kaget

“ kok kamu gak pernah cerita apapun ke aku ?” tanyaku pada rezza

“ tempo hari aku sempet mau cerita tapi gagal karna ada urusan mendadak, setelah pulang dari luar kota. Aku bener – bener sibuk ngurus acara pernikahan yang sempat terbengkalai beberapa bulan. Jadi gak sempet juga, aku mau ngasih tau kamu secara langsung tapi gak pernah sempet” ucap rezza

“ jadi........” ucapku terbata – bata

Biip... bipp..bip

Handphoneku berdering, aku mengangkatnya. Seseroang berbicara diujung sana, suaranya seperti dian.
Tapi fikiranku benar-benar sedang pergi entah kemana.

“ oh, aku ada urusan mendadak nih kak, aku pergi dulu ya!” ucapku

“ mau kemana ?” tanya kak melinda

“ nanti aku ceritain dirumah” ucapku “ kalau memang aku bisa datang ke rumah” bisikku dalam hati

Aku berlari kemobilku dengan cepat, dan mulai mengendarai mobilku jauh dari tempat itu. Aku hanya ingin pergi sejauh mungkin, bagaimana semua ini bisa terjadi padaku. Kenapa selalu aku yang menjadi korban atas hubungan percintaan mereka semua. Kenapa selalu aku yang berharap dan dikecewakan dalam waktu yang nyaris bersamaan.
Kenapa aku ?

Apa tidak ada yang bisa mencintaiku ?

Aku menepikan mobilku ke bahu jalan dipersimpangan. Tak kuasa menahan tangis. Apa ini karma ?

Tapi Karma atas apa ?

Bagaimana aku bisa merelakannya untuk kak melinda, dan bagaimana aku harus menemuinya terus setiap hari sedangkan fikiranku dan hidupku penuh dengan kenangan tentangnya.

SEHARUSNYA AKU MATI,

“Lebih baik aku mati “ Teriakku


Dan tiba –tiba tuhan mengabulkan doaku kali ini, mengabulkan doa yang seharusnya tidak pernah ku katakan. Bahkan sebelum tangis air mataku jatuh, sebuah mobil melaju dengan kecang menabrak bemper belakang mobilku sehingga mobil yang aku tumpangi terguling dan terpelanting jatuh ke sebrang perlintasan jalan dan kembali dihantam mobil entah apa.

Sayup – sayup ku dengar langkah kaki berlari, dan suara kaca jendela yang pecah. Ada suara klakson yang tak berhenti berdengung... suara – suara itu mengawal ku menuju dalam ruangan gelap. Sampai tak terdengar apa – apa lagi, kecuali SUNYI.


***

Pagi – pagi sekali aku sudah bersiap dengan baju kebaya dan sanggul cantik dikepalaku. Meskipun dengan kondisi tubuh yang belum pulih sempurna.

Aku berdiri tegak ditempatku, seseorang berdiri dan mengucapkan ijab kabul dengan sangat merdu.

“ sah ?” teriak pak penghulu,

“ sahhh” jawaban semua hadirin yang ada diruangan ini

Aku menangis haru, memeluk mamahku dengan air mata yang bercucuran membasahi bajuku, perasaan ini bercampur aduk tampa alasan yang ku ketahui.
Bahagia dan sedih diwaktu yang bersamaan.


Kakak melinda menghampiriku. “ SELAMAT YA KAK” ucapku memeluknya dengan air mata yang terus saja mengalir.

“ makasih ya de” ucap kak melinda, kemudian dia memeluk mamah lama sekali, sementara suaminya berdiri di hadapanku dengan senyum lebar

“ cantik banget sih adikku hari ini” ucapnya sambil mencubit pipiku, aku sedikit beringsut mundur memberi jarak diantara kami

“ oh , maaf” ucap reza kemudian berjalan menghampiri mamah,


Aku menatap seseorang yang duduk tak jauh dari penghulu, sepertinya aku mengenalnya. Tapi siapa... seperti mengetahui apa yang sedang ku fikirkan, pria tadi bangun dan menghampiri suami kak melinda dan berbisik sesuatu.

“ Dit, ini DIRGA” ucap suami kakaku

“ Ingetin baik – baik ya, INI DIRGA” ucap kakakku sambil menunjuk pria itu,”  INI REZA ” ucap kakaku lagi kali ini sambil merangkul suaminya

“ iya “ ucapku

“ Dirga ini adiknya rezza, seumuran sama kamu” ucap kak melinda lagi

“ REZZA, DIRGA” ucapku mengulang, sepertinya aku pernah mengenal nama ini, rasanya aku tidak asing dengan nama ini, tapi siapa, apa dan mengapa aku tidak tau.

 aku mengulurkan tanganku pada seseorang yang disebut dirga, “ anandita” ucapku

 ***
TAMAT ----


Ibu Rumah tangga dengan ratusan mimpi, mencoba menuangkan fikiran dikepalanya untuk sekedar berbagi dan semoga bisa saling menginspirasi


EmoticonEmoticon