Sunday, March 12, 2017

Sebuah Nama Tanpa Cerita - Bagian Tiga Belas

Tags

Sebuah Nama Tanpa Cerita

# PENYESALAN

Aku sudah siap sebelum jam 9. Tapi sekarang aku masih harus tetap menunggu dan terancam terlambat karna sahabatku yang satu ini. Aku menunggu di ruang tamu depan, beberapa kali aku sudah menelfonnya tetap saja dian tidak keluar, menyebalkan. Jadi kuputuskan untuk meninggalkannya, meskipun mungkin kesempatanku bertemu lagi dengannya entah kapan. Kami memang tinggal bersebelahan tapi sulit sekali rasanya memiliki waktu untuk sekedar bertemu. Aku duduk di halte depan kos – kosanku, hulft. Aku lupa kalau semalam kartu buswayku ku pinjamkan pada rezza, jadi hari ini aku harus pergi dengan angkot.

Aku duduk di kursi halte yang sudah mulai memudar warnanya, beberapa kali terdengar suara klakson mobil ku fikir memang karna berada di depan jalanan wajar ada suara klakson. Tapi tiba – tiba seseorang meneriaki namaku dengan keras.

“ NANDITA “ teriak seseorang, aku mencari sumber suara, dan ternyata itu rezza dari dalam sebuah mobil sport yang membuat hati ini meleleh melihatnya

“ ya ..” teriakku menghampirinya

“ naik “ ucap rezza

“ mau kemana ?” tanyaku

“ kamu mau ke counter atau kemana dulu ?” ucap rezza balik bertanya

“ iya mas ke counter” ucapku , kemudian naik

“ kamu udah cek ke dokter belum ?” ucap reza tiba-tiba

“ lah emang saya kenapa ?” ucapku heran

“ KUPING KAMU ITU LOOOHHH BUDEGNYA GAK KIRA – KIRA, DIKLAKSONIN DARI TADI GAK DENGER” ucap reza dengan nada kesal

“ ya maaf, klakson sih denger tapi emang tau itu klakson buat aku kan klaksonnya gak menggemakan nama aku” ucapku sambil menyeringai pada rezza

“ Yeh, besok aku pasang klakson kaya di bus antar kota gitu ya. Kalau mereka bunyinya TELOLET. Aku nanti bunyinya NANDITA “ ucap rezza

Aku terpingkal menepuk bahunya yang besar dan bidang. Rezza selalu membuatku merasa nyaman, dia seperti abangku kalau saja dia perempuan mungkin sudah ku peluk tubuh gempalnya yang menggemaskan itu.

“ oh iya,, aku mau tanya satu hal, tapi jangan marah ya?” ucapku pada rezza

“ aku tau “ ucap rezza

“ kamu mau nanya kemaren kenapa aku naik busway padahal punya mobil” ucap reza menyeringai dengan percaya diri

“ iiihhhh... bukan pede banget sih. Itu sih urusan kamu mas mau naek apa selama gak merugikan aku kaya semalem” ucapku
Bip..bippp..bippp
Handphoneku berdering, itu pasti dian.

“ ya hallo yan “ ucapku

“ dimana ?” tanya dian disebrang sana

“ dijalan, udah berangkat abis nungguin lo kelamaan” ucapku akhirnya

“ dih, gue susah banget mau ngobrol sama lo sih. Ada hal penting nih” ucap dian

“ yaudah nanti aja pulang kerja” ucapku “ bye..”

Aku menutup telfonnya,


“ Siapa “ tanya reza

“ oh itu temen kos –kosan aku.” Ucapku

“ trus mau nanya apa ?”tanya nya lagi, sekarang dia menatapku didepan jalanan sedang lampu merah dan dia berhenti dan menatapku

“ apa kamu bener sepupunya Dirga ?” tanyaku

Rezza terdiam sesaat, kemudian mengemudikan mobilnya kembali saat lampu berubah hijau. Lama sampai akhirnya dia menjawab.

“ aku bukan sepupunya Dirga” ucap reza akhirnya

“ oh aku tau, aku Cuma memastikan. Soalnya dari keterangan dirga, ciri- ciri sepupunya jauh beda sama kamu mas. Cuma aku heran aja kenapa kamu ngaku – ngaku jadi sepupunya dirga” ucapku hati – hati

“ aku bukan sepupunya, aku kakak tirinya dirga. Waktu nyokap meninggal, bokap nikah lagi sama nyokapnya dirga” ucap reza terdiam

“ oh, maaf aku gak maksud buat ikut campur soal masalah keluarga kalian” ucapku “ Cuma aja, penasaran kenapa kamu bohong soal itu”

“ iya gak apa-apa. Aku gak enak aja bilang ke kamu kalau aku ini kakak tirinya. Selama ini dirga dan nyokapnya memang kurang suka ngomong soal aku ke orang lain. Jadi aku takut aja ngerusak citra keluarganya, makanya aku bilang sepupunya” ucap reza

“ dan buku yang tempo hari itu ?” tanyaku

“ iya, itu emang punya sepupu dirga, namanya farhan dia baru lulus SMA. Farhan itu anak dari adik papah aku, jadi aku udah deket sama dia dari kecil udah kaya adik sendiri, dia yang minta tolong ke aku buat nuker buku ke kamu” ucap reza

“ oh, maaf ya aku udah salah sangka. Tapi aku bersyukur kamu cerita semuanya, aku jadi lega” ucapku

“ maaf ya aku gak cerita dari awal, aku fikir kamu tau alasannya kenapa” ucap reza

Aku terdiam, apa maksudnya “ kamu tau alasannya kenapa”. tak lama kami sampai didepan counter. Rezza memaksaku turun tepat didepan cafe padahal aku sudah memintanya menurunkanku di halte depan. Aku takut ada pegawai lain yang melihat akan menimbulkan persepsi aneh antara aku dan rezza nanti.

Hulft .....

Aku bergegas berganti pakaian, untung saja tidak ada orang yang melihat kami turun bersama dari mobil.

“ hayoooo....” ucap mba vina mengagetkanku, jangan – jangan dia tau kalau aku berangkat bersama rezza

“ ya mba....” ucapku sedikit gugup

“ telat ya” ucap mba vina, aku bernafas lega kufikir dia tau soal itu

“ enak aja, enggak absenku masih hitam belum merah “ ledekku, aku kembali merapihkan bajuku

“ dit, minta tolong dong. Boleh gak ?” tanya mba vina

“ apa ?”

“ fotocopiin ini di blok sebelah, aku lagi bikin laporan pemasukan bulanan. Boleh gak ? mumpung belum rameh ini customer” kata mba vina

“ iya, fotocopiin apaan sih ?” tanyaku

“ laporan bulanan” ucap mba vina

“ gak apa-apa aku liat beginian ? “ tanyaku sedikit ragu

“ gak apa-apa nanti juga dibahas pas rapat bulanan jadi semua tau. Tolong ya” ucap mba vina

“ oke, nanti bilangin upi aja ya mba. Takut dia nyariin” ucapku

Aku berjalan menuju tempat fotocopy. Katanya tidak jauh dari cafe hanya beberapa meter kemudian ada blok perkantoran dan masuk kedalamnya. Hulft.... setelah berjalan beberapa meter akhirnya barulah terlihat ruko perkantoran yang dituju.
“ mas tempat fotocopy sebelah mana ya?” tanyaku pada satpam yang duduk di gerbang utama

“ mba masuk aja keruko ini, lurus terus belok kiri” ucapnya

“ oke makasih ya” ucapku

Tempat fotocopy yang dibicarakan tadi memang tidak terlalu jauh, tapi terlalu penuh. Aku harus mengantri beberapa orang lagi yang datang terlebih dahulu. Aku melirik jam ditanganku sudah hampir jam setengah 11. Hulft...

Iseng kubuka laporan keuangan mba vina, katanya tak masalah aku melihatnya. Laporan keuangan bulanan di cafe kami ternyata cukup bagus, pantas saja cafe yang tidak teralu besar seperti itu bisa mempekerjaan banyak karyawan termasuk seorang parttimer sepertiku. Fikirku dalam hati.

Dibagian paling bawah sebelah kanan, ada nama rezza sebagai orang yang mengetahui.

“ REZZA ARYADUTA DIRGANTARA”

Jadi rezza juga memiliki nama yang sama dengan Dirga, mungkin itu nama keluarganya. Tapi kenapa dirga menggunakan nama keluarganya sebagai nama panggilan ?. syukurnya rezza sudah menceritakanya terlebih dahulu sebelum aku mengetahui semua ini langsung, mungkin aku akan semakin bingung nanti.

Pertanyaanku sekarang, kenapa dirga menyebutku teman ?. mungkin harus ku tanyakan langsung padanya nanti saat kita bertemu. Cukup adil untuk bertanya kepada mereka berdua dengan pertanyaan yang sesuai.

***
Hari ini aku ditemani mba vina menunggu busway di malam senin yang kelabu. Masih tanpa jemputan seorang pacar karna entah dia menghilang kemana. Kami cukup lama menunggu bus datang, jadi cukup memiliki waktu untuk berbicara tentang banyak hal. Yang baru ku tau adalah mba vina sudah menikah dan memiliki anak, padahal mungkin usianya hanya terpaut dua taun denganku, kesenioritasan yang membuatku menuakannya dan memanggilnya dengan sebutan “mba”. Tapi sekarang setelah aku tau dia sudah bersuami dan memiliki anak, rasanya lebih pantas aku menghormatinya bukan hanya sebagai seniorku tapi yang lebih tua dari ku dari segi umur dan pengalaman.

Menikah muda sepertinya menyenangkan, bahkan akupun memimpikannya. Memimpikan bisa segera menikah dengan dirga, aku teringat jelas hari itu saat dimana kita berdua menghabiskan waktu sampai melihat matahari tenggelam. Rasanya ingin melewati setiap hari, setiap jam, setiap menitnya bersama dirga. Dan terus berada disamping orang yang aku cintai. Rasanya bahagia mungkin.
Tapi mba vina bilang, kisah cinta tak selamanya indah bahkan setelah menikah. Aku jadi sedikit ragu, tapi aku yakin bahwa setiap manusia memiliki jalan hidupnya masing – masing. Dan aku yakin rasa cintaku yang tulus pada dirga, bisa membuat kami bahagia. Aku yakin itu...

Mungkin saat ini kami masih belum berada dijalan yang seharusnya, dia masih fokus dengan pekerjaannya begitupun dengan aku sibuk dengan pekerjaan dan kuliahku. Tapi aku berharap suatu hari nanti, kita bisa menjalani semuanya bersama.

“ aku duluan ya dit” ucap mba vina, melambaikan tangannya dan berjalan masuk kedalam bus. Aku membalas lambaian tangannya dan tersenyum

Bus ku mungkin sebentar lagi akan datang. Aku mengambil handphoneku dan mencari kontak dirga,

Tut.....
.
.
.
Tuuttt.
.
.
.
Tut....
.
.

Handphonenya sudah bisa dihubungi tapi dia tidak mengangkatnya. Aku mencoba menghubunginya beberapa kali, tapi malah dirga menolak panggilanku bahkan mematikan handphonenya.

“ apa dirga marah padaku ya?” tanyaku dalam hati “ atau jangan – jangan dia tau kalau selama ini aku bekerja di tempat reza dan tidak bercerita padanya, apa dia marah karna itu?”

Aku takut, mungkin benar. Mungkin dirga marah padaku, seharusnya aku mengatakannya lebih awal, seharusnya aku jujur. Seharusnya hubungan itu saling terbuka satu sama lain, seharusnya aku memberitahukan alasanku padanya. Fikiran itu terus saja bergulir dikepalaku, aku terus saja menyalahkan diriku sendiri.

Suara speaker bis mengangetkanku, di halte depan aku harus transit satu kali menuju ke utara. Saat pintu bis terbuka aku segera melangkah keluar dan berjalan keluar menuju koridor disebrang jalan yang berlawanan. Tapi saat aku akan masuk ke koridor , aku melihat dirga keluar dari mobilnya dengan seorang wanita tepat di depanku, dicafe depan halte busway ini. Kalau saja mereka berdua tidak berpegangan tangan, mungkin dengan mudahnya aku bisa berfikir kalau dia adalah teman, client, atau mungkin saudara.

Mataku berkaca – kaca, aku memutar arah dan turun dari koridor  menuju cafe tempat dirga masuk tadi. aku memegang tasku erat – erat mencoba menguatkan diriku sendiri. Aku masuk dan melihat sekeliling, mencoba mencari dimana mereka duduk. Dan aku menemukannya, aku menemukan dirga duduk bersama seorang wanita di kursi paling ujung. Jadi aku mendekatinya dan duduk tak jauh dari tempat mereka, untungnya Dirga tidak melihatku.

“ pesen apa mba ?” tanya seorang pelayan

“ coffe capucino satu mas” ucapku, kemudian pelayan itu pergi

Aku terus saja memperhatikannya, memperhatikan dirga, memperhatikan bagaimana dirga tersenyum lembut kepada wanita itu, memperhatikan bagaimana dirga mengelus punggung tangannya dan meremas tangan wanita itu bahkan dia mengecup tangannya. Hatiku ngilu, sakit , rasanya aku ingin menangis dan menjerit dengan keras, tapi semuanya tertahan di kerongkonganku. Menyekikku sampai aku nyaris mati.

Tak lama seorang pelayan datang dengan secangkir kopi dengan foam berbentuk hati yang bergurat ditengahnya. Ramalan yang terlambat.

“ makasih “ ucapku dengan suara parau, kemudian pelayan itu beranjak pergi. Aku menyeruput kopi nya bahkan nyaris habis, meskipun panasnya sampai ketenggorokan dan lambungku. Entah karna kopi atau dirga, atau keduanya. Anehnya aku masih duduk disini meskipun membuatku ingin mati, harusnya aku pergi kan ? atau haruskah aku menanyakannya  pertanyaan itulangsung pada dirga sekarang.

“ kenapa dia mengatakan pada sepupunya kalau aku temannya?” ucapku dalam hati , meskipun aku tau jawabnnya sekarang. Aku bangun dan menghampiri dirga.
Benar seharusnya kutanyakan padanya langsung, dengan pertanyaan yang tepat, orang yang tepat dan disituasi yang tepat. Tapi saat aku hampir mendekati mejanya, wanita itu bangun dan beranjak pergi. Mataku tak lepas menatap wanita itu, sedangkan kakiku masih berjalan menghampiri meja dirga.

“ itu pacar kamu ?” tanyaku pada dirga, setelah aku tepat berdiri dihadapannya

Dirga kaget, matanya terbelalak lebar “ kamu kok ada disini ?” ucapnya terbata

“ iya, aku gak sengaja liat kamu tadi. jadi aku Cuma mau memastikan. Apa dia pacar kamu ?” tanyaku lagi

Dirga diam tak menjawab, mencari kata raut wajahnya bingung. Mungkin sedang mencari alasan atau entah apa

“ iya “ jawab dirga akhirnya, aku nyaris menangis, tenggorokanku berat. Aku memegang tasku erat

“ jadi kamu pilih siapa, dia atau aku “ ucapku, pertanyaan terbodoh yang ku ajukan setelah semua penghianatan ini

“ maaf, selamanya akan dia dan selalu dia. Awalnya aku gak serius menjalani hubungan sama kamu. Aku gak nyaman tapi aku bingung gimana cara mutusin kamu yang keliatan sayang banget sama aku. Aku berusaha memberikan kesempatan dan perlakuan yang sama sama kamu dan dia, tapi hati aku tetep gak bisa mencintai kamu. Rasanya gak adil mutusin kamu padahal kamu belum aku berikan perlakuan dan kesempatan yang sama” ucap dirga

Aku terdiam, dari semua penjelasannya tidak ada satukatapun yang membuatku merasa lega setelah menanyakan pertanyaan ini padanya.

“ siapa sayang ?” ucap wanita tadi pada dirga yang masih didepanku

“ ini pelayanan disini salah faham sama aku” ucap dirga

“ yaudah yuk pergi aja ih, ngapain ribut – ribut sama orang beginian” ucap wanita itu menarik dirga bangun kemudian melambaikan tangannya pada seorang pelayan

“ tolong yah, kalau punya pelayan yang bener. Bikin gak nyaman aja” ucap wanita tadi pada pelayan yang datang

“ mba memang pelayan sini ?” ucap pelayan yang tadi memberikanku kopi

“ bukan saya mau bayar kopi saya, bisa ambilin billnya ?” ucapku kemudian, aku kembali ketempat dudukku. Menunggu bill minumanku datang. Aku baru sadar kalau aku belum berganti pakaian sejak keluar dari counter. Memang bisanya sering seperti ini, memakai seragam kerjaku yang hanya sebagai pelayan untuk pulang kerumah dan aku hanya merangkapnya dengan jaket  dan masih terlihat jelas seragam ini, seragam seorang pelayan. Memang biasanya aku tidak masalah memakai ini, tapi hari ini aku menyesal kenapa aku harus memakainya?.


***

 BERSAMBUNG

Ibu Rumah tangga dengan ratusan mimpi, mencoba menuangkan fikiran dikepalanya untuk sekedar berbagi dan semoga bisa saling menginspirasi


EmoticonEmoticon