Sunday, August 13, 2017

Mengajarkan anak untuk mencintai lingkungan adalah KEHARUSAN

Tags



Bunda, anak –anak zaman sekarang tentu sangat berbeda dengan masa anak-anak kita dulu. Mungkin dulu pada zaman kita gadget tidak sepopuler sekarang ini karena memang yang memilikinya pun terbatas, karena masih dianggap barang mewah. Saat ini gadget sudah menjadi kebutuhan yang dimiliki siapapun, dan mungkin entah karena kecintaanya pada anak atau memang karna kebutuhan tertentu orang tua juga turut membekali anaknya dengan gadget.


Kita tau betul bagaimana efek gadget bagi kehidupan anak, meskipun memiliki nilai positif untuk beberapa hal tapi tetap saja jika penggunaannya tidak dikontrol dan dibatasi akan memberikan dampak buruk bagi anak baik dari sisi psikologis maupun kesehatannya. Tapi kali ini kita tidak akan membahas apa saja dampak buruk bagi anak.


Sering kali anak terlalu sibuk bermain dengan gadgetnya sehingga interaksi sosialnya dengan lingkungan sekitar berkurang apalagi dengan alam. Jangankan untuk menjelajah alam dan mengamati sirklus hidup alam yang luarbiasa ini, bermain dengan teman sebayanya saja agak sulit.

Saya pribadi menganggap interaksi baik dengan lingkungan sosial dan alam itu penting. Karena pada  lingkungan sosial mengajarkan dia untuk bisa menerima, memilah dan belajar dari orang lain sedangkan interaksi dengan alam mengajarkan bagaimana mencintai alam dan melestarikannya. Karena sejak mengenyam bangku pendidikan dasar kita selalu didikte bahwa kita adalah mahluk sosial yang saling membutuhkan satu sama lain, dan itu benar. Dan kita adalah mahluk sosial yang kehidupannya bergantung pada alam, dan itu adalah KENYATAAN.

KENAPA KITA HARUS MENGAJARKAN ANAK SEJAK DINI ?

Sebuah kenyataan yang jarang dipahami oleh orang-orang saat ini apalagi orang-orang yang tinggal di kota besar seperti saya. Tapi bersyukurnya dulu saya sempat tinggal didesa dan mengeyam kenangan manis dengan alam. Saya memiliki kenangan yang indah bersama hamparan sawah hijau yang membentang, memiliki cerita lucu dengan pucuk – pucuk bunga tebu yang sudah merekah, memiliki kenangan tak terlupakan dengan parit-parit air dan sungai yang airnya selalu menyambut saat dihampiri. Dan kenangan-kenangan itu lah yang membuat saya dan orang-orang yang memiliki kenangan yang sama mencintai alam karna alam telah menjadi bagian dari kehidupannya.

Bagi anak – anak perkotaan yang hidup di era modern saat ini, sawah adalah sebuah nama. Jika ditanya apa itu sawah ? mungkin jawabannya adalah tempat menanam padi. Sungai, sawah, hutan, burung, alam adalah sebuah benda. Dan ada atau tidaknya keberadaannya tidak begitu diperdulikan lagi mungkin karena memang sejak kecil mereka jarang sekali dikenalkan dengan alam.
mengajarkan anak mengenal alam dengan bermain di taman

Sejak sekolah dasar memang kita diajarkan tentang lingkungan hidup, ekosistem, reiboisasi, dan segala macam yang berhubungan dengan alam dan tumbuhan dalam pelajaran IPA atau sekarang disebut Biologi. Berbab-bab pembahasan tentang manfaat hutan bagi kehidupan manusia, hewan dan bumi tapi mereka memahaminya hanya sebatas teori bahwa hutan banyak pohon dan pohon adalah penghasil oksigen untuk kita hidup, hanya sebatas itu. Hampir semua anak mengerti apa itu oksigen dan bagaimana mereka terjadi, bahkan mereka hafal betul nama ilmiah untuk partikel partikel zat diudara yang mereka hidup. Sayangnya pemahamannya tersebut tidak diimplikasikan dalam kehidupannya sehari-hari. Hanya menjadi sebuah hafalan penting yang mungkin akan muncul saat ujian, tentang bagaimana oksigen itu terbentuk, apa manfaatnya bagi lingkungan dan lain sebagainnya.

Mungkin, bunda berfikir “ah mereka kan masih anak-anak, jadi belum begitu mengerti”. Justu karna masih anak anak lah persepsi positif itu masih bisa ditanamkan dengan baik agar kelak besar nanti saat dia sudah memiliki kemampuan untuk melestarikannya dia mampu berempati. Jika diasumsikan bahwa dewasa nanti dia bisa mengerti sendiri , mungkin itu benar atau juga keliru. Kenapa saya bilang keliru ? kita bisa perhatikan sendiri  berapa banyak orang dewasa sekarang ini yang tidak perduli dengan lingkungan ?.

Berapa banyak orang yang membuang sampah sembarangan tanpa berfikir bagaimana jika sampah itu bisa menumpuk dan mencemarkan lingkungan, jangan berfikir hanya sebuah kantong plastik. Jika 1.000 orang berfikiran sama, akan ada 1.000 kantong plastik yang berserakan tanpa ada yang bertanggung jawab.

Berapa banyak pengusaha yang memiliki basic pendidikan yang tinggi, tapi hanya sedikit yang mengerti dan perduli efek pencemaran atas limbah perusahaan yang dihasilkannya ?
Berapa banyak orang yang masih menggunakan kendaraan pribadi demi menjaga gensi dan mengabaikan polusi yang diciptakannya untuk lingkungan ?

Berapa banyak orang-orang yang menebang pohon demi keuntungannya sendiri , tapi tidak berfikir bahwa pohon yang dia tebang mampu menopang hidupnya dan orang orang sekitarnya ? bukan dari segi ekonomi mungkin tapi apa udara yang dia hirup itu tidak membutuhkan proses ? apakah dia yang memproses ? Tanamanlah yang memprosesnya dengan ikhlas dan sukarela.

Ada banyak sekali contoh prilaku manusia yang mengarah pada perusakan alam baik secara langsung maupun tidak langsung. Dari 257,9 Juta penduduk indonesia berapa banyak yang sadar akan alam ? sedangkan keseluruhannya memanfaatkan hidup dari alam.

Jadi jika pertanyaannya mengapa mengajarkan anak mencintai alam sejak dini ? karna bumi tidak bisa lagi menunggu.

Menunggu sampai anak –anak kita tua, kemudian baru kita ajarkan sedangkan mereka sudah melakukan banyak sekali kerusakan serupa dengan kita ? bukan kah itu sebuah pengulangan kesalahan ?.

Jadi mulai sekarang, marilah kita mencintai bumi sebagaimana bumi telah mencintai kita sampai saat ini.




Ibu Rumah tangga dengan ratusan mimpi, mencoba menuangkan fikiran dikepalanya untuk sekedar berbagi dan semoga bisa saling menginspirasi


EmoticonEmoticon